Rabu, 24 Oktober 2018

Blue Daze, Si Cantik Keluarga Morning Glory

Credit Photo: Iwi S
Kecil mungil, berbunga dan cenderung hidup adaptive di segala musim dan iklim (tropis dan sub tropis). Itulah Blue Daze. ada banyak sebutannya seperti Hawaiian Blue Eyes, Brazilian Dwarf Morning Glory, dan nama latin Evolvulus Glomeratus. Si mungil ini bisa ditanam dengan steknya, hanya dengan dipatahkan saja kemudian ditancap ke tanah atau ke pot. Sangat gampang khan. Tidak jauh berbeda dengan tanaman lain, ia lebih menyenangi ditempat yang terpapar sinar matahari pagi langsung.
Suatu hari, saya hanya membawa tiga stek yang saya patahkan dari rumpun bunga induk di rumah teman saya. Dan, dalam beberapa waktu, stek itu mengeluarkan cabang atau tangkai baru yang dihampir semua ujung tangkainya mengeluarkan bunga biru dengan putik putih.

Setiap kali satu tangkai menjadi rimbun dengan banyak tangkai cabang baru, aku mematahkan tangkai tuanya dan menancapkannya kembali ke tanah, terus menerus seperti itu sampai kemudian ia berjejer begitu banyak dan indah di atas media tanah dalam pot dinding panjang terbuat dari talang air hujan segi empat yang kucantolkan di tembol pagar rumah dengan rangka besi. Blue Daze juga akan sangat cocok sebagai bunga gantung (dengan pot gantung).

Bunga biru Blue Daze ini akan muncul di pagi hari. Mekarnya akan mengikuti siklus matahari tenggelam, sehingga di sore hari bunganya akan kuncup. Nah, bagi pencinta bunga tetapi memiliki waktu terbatas dan lahan terbatas untuk menanam, Blue Daze bisa menjadi pilihan. Kalau anda bertetanggaan dengan saya, dengan senang hati akan saya bagi dengan cuma-cuma.


Kamis, 18 Oktober 2018

Belajar Proses dengan Garlic Vine (Mansoa Hymenaea)

Mengamati tanaman sekitar membantu kita belajar tentang sebuah proses. Proses yang pada akhirnya menghasilkan sesuatu. Seperti apa hasilnya tentu tergantung kepada banyak hal. Apakah banyak hal itu?. Salah satunya adalah yang berhubungan dengan bagaimana kita mengintervensi proses dan juga secara "natur" atau alamiah sesuatu yang berproses itu. 

Ini hanya tentanng bunga. Tetapi, kita bahkan bisa berguru kepada sekuntum bunga yang hidup tetapi tak terjangkau bentuk tuturnya oleh kemanusiawian kita yang bisa mengungkapkan lisan dengan gampang. Aku merekam proses kuncup sampai mekarnya bunga Garlic Vine di tengah perjalanan tugasku di salah satu dusun site program kantorku. Lensaku selalu menambah keindahan dari bunga-bunga yang memang sudah indah sebagai ciptaan. Terkadang, manusia saja yang terlalu sibuk untuk mengamati keindahan itu, apalagi memahami filosofi di dalamnya, salah satunya adalah belajar berproses. 

Hari itu, aku datang di dusun ini untuk suatu pekerjaan yang mengharuskanku tinggal satu malam. Bunga itu membayar lelahku dengan kuncupnya yang ungu dengan gradasi putih di tangkai kelopak. Kuncup mungil itu bergerombol indah dengan semut-semut kecil menggodanya. Belum satupun kuncup itu kelihatan akan mekar. Keesokan harinya pun tidak, sampai kutinggalkan pulang kembali ke Pontianak. 

Keesokan harinya, satu pekerjaan lainnya ternyata mengharuskanku kembali dengan jeda hanya satu malam. Dan aku seperti mendapat panggilan menyaksikan proses si kuncup mekar dan seperti menjawab harapanku untuk menikmati hasil dari proses kuncup ungu bergradasi putih di tangkai, mekar menjadi ungu tua dan pink peach.  
Bukan hanya aku, semut-semutpun sepertinya tidak hanya menggoda tetapi menghisap madu bunga. Aku hanya tak berhasil menangkap proses "penghisapan" itu denga lensaku karena jingga yang tadinya di langit segera berubah gelap sendu kelabu menghantarkan turunnya si jingga bulat bergantian shift di kutub ini dengan bulan yang juga temaram. Aku beruntung dengan masih bisa bermain ISO yang cukup tinggi dan diafragma sebaliknya untuk menangkap jejeran kelopak mekar membentuk oval. Seperti itulah kehidupan ini membuat manusia menjalani proses. Amati sekitar yang menawarkan alternatif, pilihlah dan ikuti tahap demim tahap dengan ketekunan, dan hasilnya akan mencengangkan.

Credit Photo: Iwi S






Senin, 02 Juli 2018

Bawang DAYAK, Si Umbi Merah Beragam Nama

Ada yang menyebutnya Bawang Mekkah dan ada yang menamainya Bawang Dayak. Lebih dari itu, ada yang menyebutnya Bawang Berlian. Di kampung kelahiranku, orang menyebutnya Bawang Lema'. Di beberapa artikel, anda mungkin menemukan sebutan Bawang Tiwai dan Bawang Sabrang atau Bawang Hutan. Konon, menurut ibuku, aku kecil dan kakakku sering sekali main masak-masakan di halaman rumah dan mencabuti bawang ini yang begitu banyak tumbuh di halaman. Kami sering langsung memakannya ataupun membakarnya sebelum dimakan di saat bapak membakar sampah daun-daunan pohon kayu di sore hari. Kami sering mencacah tumbuhan ini dengan parang sebagai perlengkapan main masak-masakan atau belangun* dalam bahasa ibuku.

Salah satu tumbuhan satu family dengan bawang atau jenis umbi-umbian yang umbinya berwarna merah ini, konon berkhasiat untuk kesehatan karena memiliki anti oksidan tinggi dan bersifat anti kanker. Rasanya sedikit pahit-pedas begitu jika dikonsumsi segar. Ada yang senang mengkonsumsinya langsung, ada yang menambahkannya dalam campuran sayuran atau lauk dan ada yang membuatnya dalam bentuk bubuk setelah diiris dan dihemur kering kemudian diseduh air pana dan ada juga gang menyeduhnya dalam bentuk irisan2 kecil seperti ini setelah dijemur kering sebelumnya.


*Belangun merupakan istilah umum untuk menjelaskan aktifitas bermain, dalam bentuk apa saja, tapi lebih ke bermain peran, mulai dari masak-masakan, dokter-dokteran ataupun artis-artisan, dll.

Jumat, 02 Februari 2018

Ferry, Pak Tua dan Gelombang


Hampir setiap hari aku rutin menembus pagi dengan cerlingan pantulan sinar matahari sepanjang penyebrangan Siantan - Bardan setelah membeli tiket harga goceng. Di atas ferry, hanya riak kecil sungai Kapuas yang terasa, berasal dari  transportasi air lain mulai dari kapal bandong dan speed boat serta ferry satunya lagi yang akan bertukaran tempat menurunkan dan mengambil penumpang orang dan kendaraan roda dua, empat, dan enam. Selalu banyak waktu bersantai mulai dari mengantre menunggu ferry datang dan kami semua naik dengan urutan kendaraan roda empat dan enam, barulah roda dua. Sedangkan pejalan kaki biasanya menerobos saja begitu merapat tanpa harus menunggu. Berikutnya, setelah naik, tentu meneruskan waktu bersantai di atas ferry yang sedang menyeberang. Mengamati prilaku orang menjadi menarik, sama menariknya melihat pemandangan dari tengah Sungai Kapuas di pagi dan senja hari. Ada yang asyik berbincang dengan teman boncengannya (jika berboncengan), ada yang asyik menyulut dan menghirup dalam-dalam rokoknya dengan kepulan asap kemana-mana meski ada tanda "No Smoking", ada yang senyum-senyum sendiri memainkan gadget (entah ber-WA-an, ber- Email-an, entah bertelepon dengan suara keras sampai kepada mengkhayal tingkat dewa. Aku mungkin seringnya masuk ke kelompok dua bagian terakhir.

Hari ini, pemandangan Sungai Kapuas agak chaotic. Tentu saja tidak se-chaotic di Jembatan Kapuas dan Landak yang selalu dimulai di area perempatan Tanjung Raya dari arah Utara Pontianak dan di area perempatan Tanjung Pura dari arah selatan Pontianak. Kata chaotic ini digunakan untuk mengganti istilah macet, karena seringnya ini tidak diakui oleh para pejabat, "belum seperti Jakarta, jadi belum termasuk macet!", begitulah sering terdengar dari mulut penyelenggara Pemerintah Kota. Ya, di jalur sungai hari ini chaotic jika dibanding biasanya. Sedari menunggu di daratan, orang-orang dengan kesibukannya masing-masing mulai dialihkan pada suara sirine yang berasal dari speed boat Polri dan Dishub berseragam biru yang wara/wiri bersama dengan speed boat karet, kapal kecil, ditambah drone yang sedang terbang di atas persis di pinggiran sungai. Mungkin saja itu persiapan pengamanan Imlek dan Cap Go Meh yang dalam hitungan dua Minggu lagi diperingati.

Aku asyik dengan keseruan menyaksikan "kehebohan" dan "kebisingan" di sungai yang tak biasa itu, sampai mataku kemudian tertuju pada seroang Pak Tua yang sedang berjibaku mengontrol keseimbangan perahunya menggunakan dayung di atas turun-naiknya permukaan sungai. Ia berkayuh dengan melipat satu kaki sebelah kanannya untuk menopang tangannya mengayuhkan dayung di sebelah kanan. Dan, kaki kirinya dibiarkan selonjor begitu saja. Satu pelajaran secara tak sengaja telah kupetik dalam kurang dari satu jam. Di atas ferry, aku bisa santai karena hanya terasa riak turun-naik air di permukaan, tapi tidak bagi Pak Tua Berkayuh Sampan. Ketangguhan dan kelihaian mendayugnya menjadikannya petarung diantara angkutan air lain yang lebih besar dari perahunya agar tak karam oleh gelombang. Aku belajar untuk lebih rendah hati padamu, Pak Tua, tidak hanya terfokus pada apa yang aku sukai dan kupikir asyik. Bagiku ini hanya riak kecil tapi bagimu ini gelombang yang siap meruntuhkan keseimbangan. Aku belajar unutk merubah cara melihat sesuatu, tidak melulu berfokus pada pikiranku saja.





Rabu, 24 Januari 2018

Lingkau di Uma, Alternatif Sumber Karbohidrat

Photo: Iwi S (Dec. 2017)
Lingkau, begitulah ia disebut oleh orang di Kampungku. Jagung begitulah orang di Kampung Almh. Nenekku menyebutnya. Tumbuhan ini juga merupakan salah satu pilihan pangan sumber karbohidrat yang akrab disebut Sorgum oleh masyarakat di wilaya timur Indonesia seperti Papua. Sama halnya dengan beras yang ditanak menjadi nasi, Lingkau juga bisa ditanak menjadi nasi Lingkau. Proses sebelum menjadi nasi Lingkau juga sama persis ketika mengolah gabah atau padi dengan dijemur terelebih dahulu, ditumbuk kemudian dipisahkan dari kulit atau sekamnya, baru dimasak. Lingkau juga bisa dan enak dijadikan tapai bahkan melalui proses fermentasi yang cukup lama dibiarkan bisa menghasilkan tuak lingkau. Terkadang, aku kecil sering memakan biji Lingkau ini seperti makan kuaci utamanya untuk biji matangnya, bahkan tanpa harus diproses dengan cara dijemur, ditumbuk dan dimasak terlebih dahulu. Rasanya gurih. Sayang sekali, terlewatkan oleh saya mengambil gambar biji Lingkau yang berwarna kecoklatan di luar dengan daging didalamnya berwarna putih dengan tekstur yang unik. Suatu saat, lensa macro saya harus mengabadikannya.
Biji Lingkau yang sudah dikupas

Biji Lingkau dilepas dari tangkai
Sama halnya dengan Jawak atau Jawawut, Lingkau juga menjadi tanaman selingan yang disebar bijinya diantara tanaman padi. Seringnya, lingkau dipanen sembari menunggu padi matang di ladang. Acapkali kita jumpai ia berdampingan dengan Jawak berada di sela-sela tanaman padi.

Jawak atau Jawawut/Jewawut, Pakan Burung dan Pangan Masyarakat Dataran Tinggi

foto 1: Tangkai Bulir Jawaut di Bekas Ladang (pasca panen padi)

Jawak atau Jawawut adalah salah satu dari sekian banyak sumber pangan alternatif pengganti nasi atau sumber karbohidrat dengan nama ilmiah  Setaria italica. Dalam bahasa Inggris, ia dikenal dengan nama foxtail millet* karena memang bentuk tangkainya menyerupai ekor rubah. Dalam 100 gram biji jawawut terkandung 351 kalori, 11,2 gram protein, 4 gram lemak, 63,2 gram karbohidrat dan 6,7 gram serat mentah (www.healthbenefitstimes.com).

 Di kampungku, tanaman ini sering dijadikan tanaman selingan padi ataupun disebar di sudut dan atau di pinggir/sisi ladang dengan bukaan tidak luas. Proses pengolahan Jawak menjadi panganan sama persis dengan mengolah padi menjadi nasi atau bubur. Hanya saja, umumnya Jawak dibuat dalam bentuk bubur santan manis. Sama persis dengan posisinya di ladang, Orang di kampung lebih sering menjadikannya sebagai makanan selingan, bukan pengganti nasi, Namun, sebetulnya, Jawak bisa dijadikan sebagai pengganti nasi karena teksturnya yang padat ketika sudah dimasak menjadi bubur meskipun biji Jawak ini sangatlah halus sehalus biji selasih. Saya begitu menggemari makanan satu ini. Mengenyangkan dengan sangat mudah. Proses menyajikan Jawak menjadi panganan sering diilustrasikan sebagai kerja keras atau daya juang yang sangat besar. Menumbuk gabah Jawak jauh lebih sulit daripada menumbuk padi. Sampai-sampai proses pada tahapan ini sering digambarkan berpeluh darah saking rumitnya.

Foto 2: Bulir Kecil Jawawut
Foto 3: Bubur Jawawut
Hanya dengan segenggam Jawak yang sudah ditumbuk dan bersih dari kulit (sekam), bisa menyajikan satu panci besar bubur Jawak untuk sekitar 10 orang (tergantung porsi makannya juga sih). Santan dan gula merah menjadi soulmate bubur Jawak.

Siska Tirajoh, pernah menuliskan bahwa tanaman biji-bijian ini berasal dari Papua sehingga ia juga  dikenal sebagai Jawawut Papua (WARTAZOAVol. 25 No. 3 Th. 2015 Hlm. 117-124DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v25i3.1156). Di Papua, Jawawut yang tinggi kandungan karbohidratnya ini merupakan pakan unggas pengganti jagung, belum akrab sebagai sumber pangan untuk masyarakat. Sumber lain mengatakan bahwa Jawawut pertama kali dibudidayakan di China oleh Peiligang. Jenis Millet Foxtail ini lazim dalam budaya Yangshao, sekitar tahun 600 SM pada Zaman Besi. Di Eropa, Amerika, Asia dan Australia,  Jawawut atau Jewawut menjadi makanan mewah (https://www.healthbenefitstimes.com/foxtail-millet).

Foxtail-millet-seeds
Foto 4: Biji Jawawut/Jewawut/Foxtail Millet/Milet

Mari menanam Jawak!!!. Mari budayakan "Tak Harus Makan Nasi"

*Menurut wikipedia Bahasa Indonesia, Millet atau Milet merupakan sekelompok serealia yang memiliki bulir berukuran kecil. Pengelompokan ini tidak memiliki dasar botani maupun agronomi.Penyebutan milet adalah semata untuk mengelompokkan berbagai serealia minor (bukan utama)

Credit Photo:
Foto 1,2, dan 3 by Iwi Sartika; foto 4 saya ambil di https://www.healthbenefitstimes.com/foxtail-millet/ 

Baca juga: https://www.healthbenefitstimes.com/foxtail-millet/; WARTAZOAVol. 25 No. 3 Th. 2015 Hlm. 117-124DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v25i3.1156

Raja Jalanan

Kata atau Subyek "Aku' seringnya dominan saya gunakan dalam tulisan di TENGAH RUAI. Kali ini, saya ingin tidak biasa. Khan sudah tahun baru 2018, dan ini tulisan pertama di tahun ini. Jangan menebak kalau ini cerita liburan, cerita malam tahun baruan apalagi curhatan emak-emak seperti yang lagi nge-hits sekarang disoroti. SAya mah gak gitu orangnya. Alis gak dilempeng-lempengin gak perlu pensil alis soalnya. Gak suka juga diajakin makan berat karena terlalu gampang kenyang, lha saya makan kerupuk aja udah kenyang. Ini bukan curhat khan ya ...

Tidak ada yang salah dengan curhatan hati. Yang salah adalah jika curahan hati itu merugikan orang lain. Kali ini saya hanya ingin mencerita dinamika kehidupan di jalanan, tepatnya jalan raya. Menarik saja menuliskannya di TENGAH RUAI daripada hanya sebatas postingan status di sosmed atau video recording, Anggap saja melatih kembali kelihain jari-jari menari di atas keypad laptop dan kecerdasan pikiran, karena saya merasa sudah semakin tidak cerdas. Jangan sampai dikalahin kecerdasan HP.

Awal bulan di tahun ini, saya ditawari pekerjaan oleh salah satu lembaga yang pernah menghire saya sebagai konsultan singkat. Saya menerima tawaran itu. Konsekwensinya, setiap hari saya harus memilih dua cara untuk mencapai kantor; pertama dengan rute yang lebih dekat tapi mengantri untuk naik ferry dengan membayar Rp. 5.000; Kedua adalah rute yang cukup jauh karena menyeberangi dua sungai yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Ditambah lagi, hitungan beberapa lampu merah di pertigaan dan perempatan yang lebih banyak jika dibandingkan rute dengan menggunakan ferry. Sejauh ini, saya baru satu kali melewati jembatan. Saya memilih jalur Ferry.Saya hanya perlu sabar menunggu giliran naik ke ferry setelah membeli tiket, kemudian duduk manis di atas motor sambil menyaksikan pemandangn, bahkan sempat membaca berita di gadget dan membalas pesan WA.Begitu tiba di seberang sungai,  saya hanya perlu melewati tiga kali lampu merah. Jika beruntung, saya hanya sekali saja menemukan lampu merah, tapi jarang.

Saya selalu was-was ketika posisi saya persis di depan saat perhentian di traffic lights karena lampunya merah yang artinya berhenti. Kenyataannya, sering orang menunjukan tingkah seolah-olah "dunia milik mbah mu). Ada orang yang sibuk dengan gadgetnya, ada yang sibuk diskusi dengna teman sesama pengendara motor dan ada yang sibuk berkomunikasi dengan bunyi klakson. Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada diklakson, artinya dipaksa terus berjalan di saat lampu merah masih menyala dan masih kesempatan pengguna sisi lain jalan untuk bergerak. Kurang begitu, orang yang nglakson juga marah-marah. Saya pernah. Tapi saya lawan dengan cara, saya malah memajukan motor persis dihadapan si pemain klakson (biasanya orang bermobil). Saya lebih suka menantang, jika memang berani dan tidak sabar tetapi berani, paling-paling saya ditabrak Berani nabrak di tengah keramaian, di lampu merah lagi???

Sedikit melewati lampu merah artinya sedikit energy terkuras untuk marah-marah, ngomel dan memaki. Artinya berkurang peluang berbuat dosa. Begitu juga sebaliknya. Namun, itu jika asumsinya hanyalah masalah kesenangan orang berkomunikasi dengan klakson (padahal suara klakson yang kencang dan tiba-tiba bisa membuat pengguna jalan lai  kaget, hilang konsentrasi dan berisiko membahayakan diri sendiri dan orang lain. Hal lain yang sering ditunjukan oleh para raja dan ratu jalanan adalah kebiasaan lampu sen kiri, belok ke kanan. Siapa bilang ini tidak seberbahaya saat tidak memberi tanda lampu sen sama sekali ketika mau belok.Dan, jangan bilang juga ini kebiasaaan emak-emak atau Ibu-ibu sampai muncul istilah "macam emak-emak, sen kiri, belok kanan". Saya menyaksikan berkali-kali ini sudah lintas gender dan lintas generasi. Kenapa? Karena setiap orang ingin menjadi Raja Jalanan, Setiap orang merasa diri sibuk, harus didahulukan dan merasa jago, apalagi tidak menggunakan perlengkapan standar keamanan berkendara seperti helm dan penggunaan sabuk pengaman bagi yang bermobil.

Raja jalanan. Mestinya Raja dan Ratu, karena lagi-lagi ini terjadi dan berpotensi dilakukan oleh siapa saja, baik laki maupun perempuan.

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...