Tampilkan postingan dengan label AAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AAI. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

LENSAKU #1: di Balik Program Short Term Awards Australia Awards Indonesia, Nomer 2 Membuat Pengen Nyebur

Welcome November!!!!

Oktober telah berlalu, aku begitu masih menyimpan segar ingatan moment dua minggu di Melbourne, Asutralia. Kali ini, aku ingin membagi foto-foto cantik dan unik selama mengikuti program mulai dari pra kursus, kursus sampai ke pasca kursus. Semua foto saya ambil dengan kamera Sony Nex 5. Oh ya, dalam program kursus, kami, para peserta memang sangat dianjurkan untuk mengambil sebanyak-banyaknya gambar atau foto dari setiap moment. Semua foto adalah karya saya sendiri, bebas untuk digunakan untuk keperluan non-komersil dengan mencantumkan credit photo-nya atas nama Iwi Sartika atau Ruaimana. Maklumilah segala kekurangannya karena aku ini bukan pro photographer, melainkan pembelajar yang senang dengan segala masukan.

1. Lampu dan Lampion Rotan
Lampu-lampu ini menggantug di lobby restoran Hotel Double Tree by Hilton, Jakarta. Lampu ini menerangi lobby yang begitu luas ditata dengan meja dan kursi di pelataran yang persis bersisian dengan kolam renang yang di dekor dengan perahu yang diisi dengan berbagai macam buah-buahan di malam hari. Di pinggir kolam juga diisi dengan gerobak-gerobak berbagai makanan seperti bakso dan soto serta minuman seperti Es Krim Turki. Lampu yang menggantung ini tentu biasa, tetapi tidak dengan lampionnya atau kurungan lampu yang unik. lampion ini lebih menyerupai keranjang, terdiri dari jalinan rotan berbentuk kurva terbalik dengan bolongan di atas agar memunginkan menutupi bola lampu.  


2.Poolside dan Perahu Apung Buah
Objek di tengah adalah perahu yang mengapung di kolam renang bermuatan buah Durian. Sudut perahu lain di sebelah kiri sebenarnya bermuatan aneka buah seperti semangka, melon, dan laiin-lain. 


3. Corner Decor dengan Miniatur Perahu, Keranjang dan Etalase Buah
Ini adalah decor interior hotel persis di samping kiri pintu masuk ke restoran dari arah dalam. Sepertinya, ini di dekor khusus untuk bulan Ramadhan, karena pada kunjungan berikutnya, saya tidak menjumpai lagi dekor seperti ini. 



4.Lampu Ruang Pertemuan
Bola-bola lampu kecil ini menggantung di bagian tengah palfon atas salah satu ruang pertemuan kami. tentu saja penerangan utama berasal dari lampu neon yang tertutup dalam bentuk segi empat di atas. Bola lampu kecil berbentuk melingkar hanya menambahkan nuansa artistik ruangan ini agar tidak kaku.




Senin, 09 September 2019

CONSCIOUS CLOSET: Dress Women Up!.

VICTORIA WOMEN CENTRE
 Sabar. Saya tidak akan langsung membahas CONSCIOUS CLOSET, meskipun ini judul dari tuliasn ini. Dalam tulisan ini, saya akan mulai dengan  kunjugan saya bersama dengan 23 sahabat perempuan lainnya ke Victorian Women Centre, Melbourne-Australia. Ini salah satu agenda diantara agenda kunjungan lainnya yang semoga nantinya saya "mood' menuliskannya juga. Site visit seperti ini dijadwalkan oleh Alfred Deakin Institut bagi para penerima beasiswa Short Term Awards-nya Australia Awards Indonesia. Ada banyak keuntungan mengintegrasikan site visit sebagai bagian dalam agenda belajar seperti ini, diantaranya adalah pertama, peserta tidak akan bosan, meskipun kunjungan ini juga sebetulnya bagian proses pembelajaran dengan metode diskusi-shared learning. Betul sekali, kami tidak terasa capek meskipun agenda sangat full setiap harinya. Kami fun, karena setiap harinya setelah in-class session yang menghadirkan pembicara atau narasumber dirangkaikan dengan diskusi dan tanya-jawab, akan terbayarkan dengan kunjungan-kunjungan seperti ini. Kedua, ini juga menjadi kesempatan untuk menjadikan penerima beasiswa sebagai "promotor" tempat-tempat yang dikunjungi. Pastinya, moment seperti ini tidak akan pernah lepas dari cekrekan kamera mulai dari photo selfie, wefie sampai kepada photo obyek apa saja. Tentunya, akan berakhir pada postingan status di sosial media. Bayangkan, jika ada 25 peserta, maka dalam satu moment dengan obyek yang sama ataupun berbeda, setidaknya akan ada paling kurang 25 photo dari 25 telepon selular pintar, toh semua orang punya setidaknya satu alat komunikasi ini. Terlebih lagi, mengambil gambar juga sangat disarankan selama kursus berlangsung dengan tidak lupa menambahkan tanda pagar atau hashtag (#) #kedubesaustralia #australiaawards #OZAlum. Bahkan, AAI mengadakan kompetisi photo dan postingan sosial media terbaik selama di Australia.


BURWOOD CAMPUS - DEAKIN UNIVERSITY
Kamis, 25 Juli 2019 adalah agenda mentoring proyek secara bergantian. Bagi yang belum dimentoring memiliki kesempatan untuk keliling di area kampus Deakin Burwood. Kampus yang menyambut siapapun dari seluruh penjuru dunia dengan keberagamannya. Area kampus yang setiap sudutnya menenteramkan dan menyenangkan dengan desain eksterior dan interior yang sangat artistik di Kota Melbourne. Ya, itulah mengapa Melbourne disebut sebagai Kota Seni (City of Arts). Tak terkecuali di kampus ini, setiap ruang terisi dengan berbagai visual arts disertai dengan pesan-pesan kunci tentang keberagaman, relasi yang setara antara dosen dan mahasiswa serta mahasiswa dan mahasiswa.

Lingkungan yang tertata begitu apik dan sangat eco-friendly membuat mahasiswa akan betah, setiap sudut area kampus disediakan tempat sepeprti bangku atau apapun yang bisa didayagunakan untuk mahasiswa mulai dari yang serius seperti diskusi sampai ke hal yang santai misalnya nongkrong ngobrol hal-hal ringan. Yang menarik perhatian saya adalah tap water yang juga tersedia di area kampus, dimana setiap orang bisa refill tumbler untuk akses air minum gratis. Ini memang bukan pemandangan ganjil di negara seperti Australia, karena di setiap jalan utama di pusat perbelanjaan, di dekat stasiun dan halte tap water gampang dijumpai. Selain disediakan untuk isi ulang tumbler, juga bisa langsung diminum dari kran yang memang sudah didesain "mancar" ke mulut.


Kami menggunakan kampus Burwood untuk mempelajari tentang pentingnya Wellbeing dan sessi mentoring award project secara bergiliran. Kami yang selesai dalam proses mentoring bisa memanfaatkan waktu untuk "jalan-jalan" di sekitar lingkungan k
ampus sembari menunggu giliran kawan lain. Saya dan beberapa teman menyempatkan melihat-lihat perpustakaan dan mengagumi tataannya ynag begitu "homy", dan tak sedikitpun ruang dan tembok tidak dimanfaatkan untuk memajang berbagi pernik yang unik dan memiliki nilai pengetahuan, dan tentu akan selalu ada tergantung lukisan. Beberapa kawan lain menyempatkan untuk berkunjung dan berbelanja di toko merchandise kampus yang menyediakan berbagai produk seperti tote-bag dengan tulisan Deakin Univrsity dan juga pesan-pesan keberagaman cukup dengan lima dollar saja di tangan.





CONSCIOUS CLOSET
Usai sesi mentoring, peserta berkunjung ke Victoria Women Centre, gedung bersejarah yang dulunya adalah Rumah Sakit, tempat tujuh lembaga yang konsen pada isu perempuan berada, diantaranya Fitted for Work dengan Toko Conscious Closet-nya.


Toko ini menjual berbagai produk dari donatur untuk menggalang dana program mereka. Salah satu program menarik adalah memberikan bantuan pakaian kepada perempuan yang membutuhkan untuk keperluan seperti wawancara kerja dan acara-acara lainnya yang mungkin saja merupakan kesulitan tersendiri bagi perempuan tertentu memilih outfit. Klien hanya perlu membuat perjanjian terlebih dahulu untuk kemudian mendapat layanan penyediaan outfit (mulai dari setelan pakaian, make up, sepatu, tas, parfum, dan lainnya berdasarkan kebutuhan klien) dengan asistensi desainer untuk konsultasi sampai ke tekhnis memilih fashion yang cocok. Tempat ini juga menyediakan layanan training make up untuk klien yang membutuhkan. Mereka bahkan menyediakan assesories sampai kepada shampo dan produk untuk tubuh sehari-hari lainnya yang biasa digunakan perempuan. Peserta berkesempatan untuk berbelanja di toko Conscious Closet (berdonasi) dan juga melihat-lihat ruang "dressing room" klien mereka yang katanya dalam satu hari rata-rata ada janji dengan 8 klien. Di ruangan ini, klien akan diasistensi memilih pakaian apapun yang mereka suka berapapun banyaknya oleh desainer volunteer. Pakaian-pakaian yang diberikan secara cuma-cuma ini terlebih dahulu sudah disortir berdasarkan jenis kain, berdasarkan kegunaan dan juga warna. Untuk donasi barang yang dianggap masih sangat bagus, mereka akan jual di toko sebagai bentuk penggalangan dana, yang mana dana yang terkumpul diperuntukkan bagi operasional organisasi.

Beberapa hal di atas menarik untuk bisa ditiru, misalnya bagaimana pengelolaan air bersih untuk warga dan memastikannya bisa diakses oleh siapa saja dan dimana saja. Jika terlalu sulit membuat tap water di ruang-ruang publik, mungkin kita belajar dulu bagaimana caranya pasokan air dari PDAM ke rumah-rumah warga dan yang dibayar cukup mahal tiap bulannya bersih, lancar, dan tidak asin di saat musim kemarau. Mungkin terlalu jauh mengharapkan bisa langsung diminum dari kran tanpa merebus terlebih dahulu. Toh, khusus untuk warga di Kota Pontianak, sudah sangat tergantung kepada air hujan untuk masak dan cuci buah-sayur, serta kepada air galon yang entah bersih-sehat atau tidak karena tetap tidak ada jaminan.

Senin, 20 Mei 2019

Women Power dalam Keberagaman

Saya ingin membagi tentang women power dari momen pre-course Short Term Award (STA) Australia Awards Indonesia 2019. Kami berkumpul di Hotel Double Tree by Hilton, Jakarta sebagai "awardee' setelah lolos melewati tahapan seleksi administrasi (dokumen data personal, curriculum vitae, rencana proyek) dan wawancara. Saya secara pribadi ‘dipaksa’ seorang teman untuk mendaftar melalui organisasi dimana ia bekerja. Dari tiga orang yang di-endorse oleh satu lembaga ini, dewi keberuntungan berpihak kepada saya.

Senior Multi-faith Women Leaders, itulah tema utama STA ini. Ini yang menantang sekaligus sempat membuat saya tidak yakin bisa lolos. Saya belum pernah berada pada  top level Management, sebagai pimpinan. Saya juga cukup lama menjauh dari isu perempuan setelah sebelas tahun banyak berinteraksi dengan perempuan adat selain freelance sebagai fasilitator pada pertemuan dengan isu gender untuk perempuan. Senior?. Ya, kalau umur sepertinya sudah senior tetapi secara pengalaman saya pasti belum seberapa. Belum lagi pikiran saya mulai membangun benteng, diantaranya, membayangkan jika di sana berkumpul para senior leaders, maka saya bukan apa-apa. Akan banyak perempuan hebat yang berlomba bercerita pengalaman dan pengetahuannya, sementara pengalaman saya usang. 

Group Photo pada Hari Terakhir Pre-course, 9/5/'19
Betul saja, saya menjumpai perempuan yang hebat-hebat dari berbagai latar belakang profesi, ilmu dan pendidikan, suku dan tentu agama dan keyakinan (namanya juga multifaith ya...lintas keyakinan). Di hari pertama, saya mulai sok tahu menebak-nebak seperti apa perempuan-perempuan ini. Pas sudah, saya adalah orang yang terakhir berkenalan. Tetapi, mereka ternyata betul-betul hebat, bukan dengan berlomba bercerita tentang “siapa mereka” tetapi satu persatu mereka sangat mengesankan “Down to Earth” dengan segudang pengetahuan dan pengalaman yang bisa jadi bukan Cuma satu folder di file storage otak mereka. Ada yang Prof. S-3, S-2, calon S-2, Sedangkan aku...???. Aku mah apa atuh. Pernah mencoba saja apply untuk S-2, tetapi telat submit aplikasi. Ya, kami sangat beragam bukan hanya dari keyakinan. Kami beragam dari segi usia, pengetahuan, isu yang ditekuni, profesi, dan agama dan keyakinan (Hindu, Budha, Katolik, Protestan, Islam, Konghucu, dan Ahmadiyah). Kami hanya seragam dalam hal kodrati sebagai perempuan. Kami tidak mempersoalkan keberagaman atau perbedaan kami sebagai masalah dan sumber menunjukan kebenaran dan kehebatan kami masing-masing. Iya, tentu saja orang-orang yang mendaftar turut serta dalam Short course ini sudah ‘beres’ untuk tidak mempersoalkan perbedaan tetapi sebaliknya mampu berdamai dan menghadapi perbedaan itu dan memobilisasi kekuatan kami masing-masing untuk secara bersama-sama menyebarkan pesan-pesan perdamaian, kesetaraan, toleransi, pluralisme dan keadilan. Kedengarannya sangat besar dan ideal ya?!. Memang, tetapi bukan tidak mungkin jika lingkupnya kita mulai dari keluarga-menanamkan sedini mungkin nilai-nilai itu, kemudian lingkup kerja/organisasi/komunitas. Dan bagi saya, itulah esensi dan sejatinya seorang pemimpin. Tidak melulu harus berada pada top level Management. Bahkan seorang Office Boy di kantor bisa saja memiliki sikap kepemimpinan melebihi seorang direktur.

Alissa Wahid, Dok. AAI 7/5/'19
Materi-materi yang disampaikan oleh narasumber  bukan saja sebagai pemantik diskusi, tetapi sekaligus mengisi pundi-pundi pengetahuan dan juga menguatkan. Alissa Wahid misalnya, menyampaikan Social Harmony sebagai sebuah cita-cita yang hanya mungkin dicapai dengan melihat keberagaman sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Dahulu, Gus Dur, dengan kerendahan hati dan kesederhanaan mau merangkul semua kalangan. Di masa kini, Social Harmony mendapat tantangan oleh  gerakan transformasi nilai disebabkan oleh eksklusifisme dan pengarusutamaan intoleransi (presentasi Alissa Wahid). Indonesia bisa kembali menjadi model Social harmony di mata dunia dengan keberagamannya, tapi hanya di tangan pemimpin yang berani berdiri paling depan memberdayakan masyarakatnya tanpa melilhat darimana ia berasal. 


Bersaama Lies Markus dan Ayu Dewi Kartika (alumni Short Course sebelumnya), kami  berkesempatan  mengetahui berbagai dinamika yang mungkin akan kami hadapi di Australia nanti terkait dengan kebersamaan selama dua Minggu itu, yang sudah dimulai dari pre-course ini. Iya, sikap toleransi, memahami satu sama lain, saling tolong serta tidak egois adalah beberapa poin yang disampaikan. Bagaimana tidak, kami akan tinggal dalam satu apartemen bernama Dockland. Kami akan bersama-sama setiap hari ke kampus Universitas Deakin (kepayang kalau ada yang suka telat), kami juga akan visit ke beberapa organisasi yang relevan dengan berbagai tema isu proyek kami. Intinya, menjadikan ini sebagai proses belajar bersama yang membutuhkan self-management yang tinggi agar tidak merugikan pihak lain dalam satu tim.

Prof. Shahram Ahbarzadeh dan Anne Marie Ferguson memfasilitasi kami untuk kembali mengingat proses perjalanan kepemimpinan secara pribadi dengan metode mengingat momen yang menjadi “turning poin”. Di sini, terlihat setiap orang memiliki dinamika hidup masing-masing yang menjadi dasar menentukan ia hari ini. Yang namanya dinamika ya jatuh-bangun dalam prosesnya. Di situlah nilai-nilai kepemimpinan lahir, dari bagaimana cara menghadapi situasi pada saat “di bawah” maupun “di atas”. Pada akhirnya, berdasarkana pengalaman-pengalaman pribadi itu, kami mendefinifikan kembali kepemimpinan perempuan, apa yang menjadi ke-khas-annya. Kepemimpinan perempuan merupakan keniscayaan mengikuti ruang dan waktu, ditunjang dengan gerakan feminist yang telah menempatkan perempuan tidak lagi berada pada ruang kosong seiring jaman yang berubah. Gerakan yang tidak menempatkan perempuan mengambil alih posisi untuk harus menjadi di atas sebagai pesaing dari laki-laki apalagi bentuk pembangkangan tetapi menempatkan perempuan dengan segala kekuatan dan kemampuannya untuk memanusiakan diri dan dimanusiakan secara adil dan setara oleh pihak lain baik di ranah publik ataupun domestik.

Prof. Shahram Ahbarzadeh & Anne Marie Ferguson, Dok Iwi 9/5/'19
 Berikut adalah beberapa definisi kepempimpian berdasarkan ekstraksi pengalaman kami:
1.     Perspektif feminist dan bersifat inklusif
2.     Kemampuan menjadi motor penggerak
3.     Kepekaan memahami situasi dan kebutuhan orang-orang yang dipimpin
4.     Tidak egois, mampu membagi peran dan tanggung jawab
5.     Melakukan capacity Building (sendiri ataupun untuk orang lain yang ia pimpin)
6.     Kemampuan berkomunikasi, berinteraksi dan didengar dengan  baik (tanpa banyak bicara)
7.     Kemampuan bicara dan aksi yang selaras
8.     Tidak melulu berorientasi hasil tetapi menghargai proses
9.     Memahami konsep gender dan keadilan gender
10.  Menitik-beratkan pada penyelesaian masalah dalam setiap proses (part of Solutions, not part of problem)

Persoanl Journey Para Awardee ditempel di Wall
Saya Menjelaskan Personal Journey of Leadership, Dok. AAI
Dalam hal kepemimpinan, baik itu kepemimpinan secara formal struktural dalam sebuah organisasi/institusi maupun kepemimpinan yang non-formal sehari-hari, perempuan ternyata masih memiliki banyak sekali hambatan baik dari dalam maupun dari luar yang dipengaruhi berbagai faktor. Hambatan dari dalam salah satunya ketiakpercayaan diri. Ini lebih  pada ketidakmampuan mengorganisir kekuatan/kemampuan diri yang bisa dijawab dengan memberikan ruang seperti (self) capacity Building dan affirmative Action serta apresiasi oleh orang-orang sekitar. Dari pihak luar, sudah saatnya cap negatif (salah satunya, perempuan itu lemah) dan tidak berpihak kepada pemberdayaan perempuan yang melekat erat bak stempel permanen, bersama-sama ditanggalkan. Budaya patriarki adalah salah satu yang mendominasi diskusi kami sebagai hal yang paling berkontribusi melanggengkan cap negatif ini. Saya sering meminjam istilah dari film divergent (ehm, yang pernah nonton filmnya pasti tahu) untuk menggambarkan posisi perempuan dalam struktur patriarki di masyarakat. Kata divergent ini bermakna “aneh” atau keanehan. Namun, jangan buru-buru memberi konotasi negatif. Dalam konteks tulisan ini, saya mengajak memahami keanehan ini merupakan kekuatan yang telah dimobilisasi sebagai energi besar untuk berkontribusi terhadap perubahan ke arah yang lebih baik dengan aktor utama perempuan. Kami memulainya dengan merencanakan proyek yang akan kami kerjakan baik secara bersama-sama maupun indvividu. Selain memperkuat aspek kepemimpinan kami secara pribadi, proyek ini juga harus berkontribusi positif terhadap organisasi yang mengutus kami dan tentunya harus mempromosikan toleransi dan kesetaraan gender.  

Itu sekilas jejak awal dari STA Multifaith Women Leaders. Akan ada tulisan lain tentang ini, tentang bagaimana saya memulai petualangan bersama dengan dua orang peserta naik sky-train, kereta bandara dan commuter line untuk yang pertama kali. Tentunya, coming soon cerita-cerita dari negeri Kangguru nantinya di bulan Juli sampai ke post course di bulan Oktober. Siapa tahu ini menginspirasi pembaca "Tengah Ruai" untuk belajar di Australia, karena selain STA, juga ada Long Term Awards atau beasiswa full untuk program S-2, S-3 dan Phd.

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...