Tampilkan postingan dengan label ulang tahun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulang tahun. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Edisi Ultah G yang kelima

Permintaan Sederhana G

G's 1st day to PG (2 th 5 bln)
Dua minggu lalu, tepatnya tanggal 26 february 2012, G berultah yang ke-5. Aku dan hubby memang sudah sepakat untuk akan terus 'mengingat' hari istimewa anak2, termasuk ada bersama mereka (tidak mengagendakan kegiatan jauh dari rumah). Mensyukurinya itu kata yang lebih tepat. Bukan hanya sekedar ultah G, tetapi mengingatkanku pula akan begitu mahadahsyat proses menghadirkan generasi baru yang disebut manusia ke muka bumi ini, Ya, proses penciptaan yang begitu kompleks bagi akal manusiawi. Aku mengingat selalu momen-momen menegangkan sekaligus mengembirakan, menambahkan deretan baris ucap syukurku atas berkat dari Tuhanku.
Ini tentang hari ultah G, jadi aku tidak akan kembali ke 'momenku'  yang telah lewat itu untuk saat ini. Seperti kebanyakan anak2, G sudah jauh2 hari, tepatnya ketika adiknya P berultah ke-3 atau 5 bulan sebelum hari ultahnya dia selalu menanyakan kapan ultahnya dan meminta dibelikan kue ultah, termasuk mengundang kawan2nya ke rumah. seperti yang telah kusampaikan di atas, kami memang tidak pernah melewatkan momen spesial setidaknya ultah hari lahir dan ultah pernikahan. Tentu saja bukan pesta besar, tapi hanya lilin yang menyala dan kue serta makan yang spesial menurut ukuran kami dengan mengundang hanya saudara dan teman dekat yang jumlahnya tidak akan lebih dari 30 orang. Kami lebih memanfaatkan momen ini untuk berbagi dan mendapatkan do'a dari sedikit banyak orang, bukan untuk kepentingan tertentu yang menyangkut hal-hal yang mungkin saja memperlihatkan prestise di kalangan tertentu. Itu hanya pemborosan belaka yang tidak ada gunanya selain berfoya-foya untuk dilihat banyak orang dan kadang dijadikan gaya hidup.
Rasanya, kalaupun kami orang kaya, tidak bijak juga membiasakan anak-anak untuk melakukan hal-hal yang mubazir. Aku percaya, bahwa makhluk-makhluk kecil yang masih polos sebantaran G dan P tidak ‘pandai’ menuntut banyak. Bagaimana bisa ada anak-anak dari kalangan tertentu tidak mau makan kalau tidak pergi ke resto berlabel internasional, atau merayakan ultah disalah satu restoran yang franchise-nya bisa ditemui hampir di seluruh kota besar, dan juga bisa-bisanya anak-anak minta hadiah yang mahal-mahal?. Menurutku, cerminan pola asuh orang tua bisa dilihat di sini. Yah, anak-anak memang polos, dan mereka akan mengingat lekat apapun, termasuk momen seperti ultah. Memilih merayakannya dengan sederhana tidak membuat G marah-marah, ngambek, bahkan ketika satupun teman skul-nya di TK A tidak datang (karena tidak diundang, maklum cuma antar keluarga dan staf-staf Bapaknya di kantor aja) dia Cuma bilang, “tidak satupun teman-temanku yang tahu rumahku, jadi mereka tidak datang.” Padahal, setiap hari dia dijemput mobil sekolahan, ada teman-temannya.
Kembali ke G-ku. Tidak ada hadiah istimewa untuknya. Ketika aku bertanya, 

“kamu mau hadiah apa G?.” 

Dia tidak segera menjawab, bergaya mikir dulu, namun akhirnya muncul juga dari mulutnya. Jauh sebelumnya, aku sudah mengira-ngira mainan baru, baju baru, atau buku baru. Semuanya salah. 

“Ibu, aku minta dibeliin tali aja hadiahnya.”

Aku tercengang dan balik bertanya untuk memastikan yang kudengar,

“Tali???, tali buat apa nak?”. 

Jawab G, “Iya, tali bu. Tali yang warna-warni.” 

Aku baru ngeh, dugaanku tali seperti itu bagian dari hal baru di sekolahnya. Kebiasaan G memang menceritakan hal-hal baru di sekolahnya seperti mainan. Kenapa tali ini menjadi istimewa, pasti karena ada di sekolahnya atau dia pernah mendengar usul dari orang-orang di sekolah, bisa temannya, atau bahkan gurunya. 

“Bu, bisa gak kasi kado tali?”, Tanya G. 
“Bisa lah, tapi tali mau buat apa?, “Tanyaku. 
“Buat ikat dino (bermacam-macam mainan Dino-nya maksudnya), bu.”

Permintaan itupun aku iyakan. Sorenya aku segera menyampaikan permohonan G ke hubby, yang merespon dengan keheranan juga, tapi aku segera menjelaskan sebelum dia menanyakan hal yang sama denganku sebelumnya ke G. Aku mengajak hubby untuk membelikan saja oil pastel sebagai ganti milik G yang sudah lama karena sudah habis dan banyak patah oelh kedua orang adiknya. Ini tidak berlebihan karena oil pastel lamanyapun bukan pemberian kami tapi dari auntienya di Surabaya. Berikut, kami membelikan warship, mainan kapal perang yang bisa dijalankan di air (dengan batre). Ini juga tidak berlebihan karena sudah lama sekali kami tidak membelikannya mainan, dan beberapa Minggu menjelang ultahnya, dia juga lagi gandrung sekali dengan perahu dan kapal, dipengaruhi oleh tema ajar di sekolahnya. Nah, yang terakhir tentulah tali warna/I pengikat dino. Dan, ternyata justeru permintaan sederhana itulah yang paling sulit kami temukan di toko yang kami tuju. Aku nyengir saja, ngomong ke hubby,

“yang kita pikir permintaan yang aneh, terlalu simple untuk sebuah harapan akan kado ultah, ternyata paling sulit didapat”.

Yah, kadang memang kita terlalu menganggap sederhana sesuatu. Termasuk menganggap ‘sederhana’ keinginan anak. Aku belajar banyak dari ‘permintaan’ G ini.


Flash Back: ‘Menghadirkan’ G dengan penuh kerumitan

G (tengah) bersama Dek P n Jo: Gak Sabaran Potong Kue
Untuk G-ku, Selamat ulang tahun, sayang. Ibu ada untukmu, karena memang begitu seharusnya. Dan, akan selalu seperti kau minta dan seperti takdir dari-Nya. Bahkan ketika kau tumbuh dewasa dan jauh, aku adalah Ibumu. Ketika kau bahagia dan sedih, aku Ibumu. Ketika aku marah dan tak setuju dengan pilihanmu, aku Ibumu. Untuk sesuatu yang tak kan pernah bisa kaupahami dengan hanya logika, aku sedih sekaligus bahagia setiap saat menyaksikan kau bertumbuh dari waktu ke waktu. Tapi satu yang pasti, tangan Tuhan bekerja memungkinkan semua, bahkan mendapat ijin melahirkanmu ke dunia ini, dengan beralaskan keyakinanku yang begitu besar akan kasih-Nya. Aku menembus duga tak kan bisa melahirkanmu ke dunia ini, tapi ternyata bukan hanya kamu, hadiah indah dalam bentuk wajah adik-adikmu, pipi bakpao P adik perempuanmu, dan si gigi tajam, baby Ava adik laki-lakimu itu menambah tantangan hidup aku dan Bapakmu. Yah, melatih kesabaran kami dengan tingkah-tingkah kalian yang terkadang harus kami kontrol untuk tidak menjadi emosi.

Untukmu, Ibu bangga. Di usia ke-5, kau terlihat cerdas dari tutur dan tingkahmu. Kau hanya anak-anak, tapi aku tahu kau begitu menyayangiku, dan kau selalu menginginkan Ibu menjadi orang yang lebih ekspresif kepadamu, mengungkap rasa sayang Ibu dengan memelukmu, menciummu dan memuji setiap tingkahmu yang menurutmu ‘luar biasa’. Dan, memang kau selalu melakukan sesuatu yang luar biasa termasuk ketika kau sering menyuruh orang-orang rumah pergi, siapapun yang ‘mengingatkanmu’ ketika kasar, mukulin dan ngusilin adik, menyalahkan orang lain, dsb. Tapi, kau hanya anak-anak, sayang. Kau mengajari kami, orang tua untuk sabar dan mengerti bagaimana memahamimu. Terkadang, kami (tanpa sengaja) terlalu menuntutmu ‘dewasa’, melakukan segala sesuatu seperti orang dewasa, misalnya mengemasi mainan tanpa asistensi, makan sendiri tanpa asistensi, dan banyak lagi. Maafkan untuk ini.

G kecil-ku yang masih bayi dulu, yang hampir lahir di toilet ruang bersalin salah satu RS Swasta di Pontianak, kini berumur lima tahun, sudah bertumbuh tinggi, dia penyayang, selalu mengingatkanku untuk beristirahat, bahkan memijitku. Selalu tidak sabar menceritakan segala sesuatu yang dialaminya di sekolah. Terkadang ia tiba-tiba memeluk dan menciumku, mengingatkanku betapa aku jarang mengungkapkan rasa sayangku dengan gaya verbal seperti itu.

G Kecilku satu-satunya anakku yang lahir tidak disaksikan oleh Bapaknya, karena ‘tertib tak berkelasnya’ aturan di salah satu RS swasta tempatku melahirkan itu. Isteri harusnya mendapat dukungan kejiwaan penuh dari suami, tetapi suamiku tidak diijinkan menungguiku melahirkan. Suamiku juga tidak tahu kalau aku pingsan berkali-kali menahan kontraksi terus menerus di ruang bersalin, ditemani bidan yang tidak peduli (hanya peduli untuk bicara kasar sambil menulis kemudian pergi dalam waktu lama), rasis, dan menganggap remeh pasiennya. Aku ingat, si bidan ini tidak percaya ketika aku bilang aku sudah mau partus, sampai akhirnya G hampir lahir di toilet karena si Bidan memaksaku untuk ‘bersih-bersih’ ke toilet dengan alasan biar bayiku lahir dengan bersih. Tapi aku selalu ingat, tanganku menyentuh kepala G yang sudah mau keluar dari jalan lahirnya. Merinding jika ingat pengalaman ini, betapa seorang Ibu yang bertarung antara hidup dan mati (meskipun ini proses alami), diperlakukan dengan tidak manusiawi. Dimarahi, ketika mengerang kesakitan.

G umur 2 hari
Ah G, tapi kau tahu, kau memecahkan ketuban persis  ketika aku dan hubbyku sedang nonton film, the patriot, jam 10 malam. Tapi lama baru kau lahir, selang 5 jam kemudian. Kau juga minum air ketuban yang membuat kau, bayi merahku, harus diinjeksi macam-macam obat dan antibiotic tanpa pemberitahuan kepada kami orang tuamu. Aku juga tak pernah lupa sulitnya bertemu denganmmu untuk memberimu ASI. Aku menangis setiap kali mendengar tangisan dari ruang perawatan bayi, kupikir itu kau. Dan, aku tak pernah bisa tidur tenang. Malam yang sulit meski Cuma 3 malam. Aku harus meminta bapakmu atau tante sumimu untuk memohon ke suster jika ingin bertemu denganmu dan menyusuimu. Jam-jam yang sulit, harusnya anak baru lahir mendapat ASI dan didekap Ibunya, tapi kau ‘diambil’ dariku untuk dirawat intensif gara-gara minum air ketuban. Menyedihkan sekali G, tapi ini tidak hanya dialami olehku, ada banyak Ibu-ibu lain yang mengalami hal yang hampir serupa. Itulah yang membuatku berjanji (untuk tidak mengatakan bersumpah) tidak akan melahirkan di RS lagi, kecuali ada hal yang darurat seperti harus operasi atau ada persoalan yang mengaharuskan adanya tindakan medis darii RS. Tapi, semua sedih dan risauku tertebus ketika membawamu pulang dan bebas menyusuimu dengan dukungan penuh Bapakmu. Disayangkan kau tidak memperoleh hakmu untuk minum kolostrum dari air susuku karena kau dipisahkan dariku segera setelah kaulahir, apapun alasannya, setidaknya, harusnya RS mengijinkan aku menyusuimu dini dan mendekapmu dalam beberapa jam kemudian toh bisa kembali ke ruang perawatan intensif. Yah, begitulah sayang, di banyak tempat, pelayanan kesehatan tidak berperikemanusiaan memperlakukan perempuan, seolah-olah hamil dan melahirkan itu kutukan. Perempuan melahirkan harus di-exclude, diisolasi dengan tidak ditunggui suami, seperti orang yang berpenyakitan menular. Mereka hanya mau uang kita, tapi tidak melayani dengan hati. Lucunya, itu terjadi di RS. Aku diperlakukan dengan sebaliknya ketika melahirkan di sebuah klinik dekat rumah ketika  melahirkan adik-adikmu. Aku diperlakukan dengan baik dan manusiawi mulai dari ketika aku selalu melakukan kunjungan rutin untuk kontrol selama masa kehamilan. Ditunggui suami dan memberikan ASI dini.

Cerita ini mungkin juga akan kaualami suatu hari kelaj, G. Mudah-mudahan, sistem pelayanan publik kesehatan sudah membaik ketika itu. Kau tidak mengalami hal serupa. Atau kalaupun tidak, pengalamanku bisa mengajarkanmu untuk bagaimana mestinya bertindak daam situasi seperti ini. Termasuk membuat pilihan, jangan percaya pelayanan kesehatan di RS lebih baik dari klinik. 

I Love You with all my heart, just like the sun, the moon and the stars' lihgts that you will always see and feel during your days


Senin, 06 Februari 2012

Monolog Tiga dan Satu [tulisanku pada saat berultah ke-31]


 
Selasa, 23 Juni 2009

Sore itu, di ruang yang terkesan kaku …

Hanya ada aku, 1 laptop menyala tempat jari jemariku bermain dari satu huruf ke huruf lain dan satu angka ke angka lain. Tadinya, aku log in facebook, fasilitas di internet yang lagi heboh saat ini, sampai-sampai MUI-pun mengancam mengharamkannya. Banyak ucapan selamat dari friends, friends of friends. Aku mencoba membalas satu persatu. Tak lazim dengan yang sering dilakukan beberapa kawan, mereka memilih efisiensi (mungkin karena banyak kerjaan atau sibuk, atau menganggap basa/i) dengan membalasa secara kolektif ucapan selamat. Aku pikir, hanya sehari, mungkin akan sedikit berkesan lain, untuk tidak mengatakan tidak sama sekali. Aku mencoba mengucap balik harapan dan doa orang2 itu dengan menyebut satu persatu nama mereka. Kelihatan sederhana dan biasa, tapi aku percaya kekuatan kata-kata. Aku menulisnya dengan hati. Ucapan-ucapan itu bukan sekedar untuk menambah ‘recent activity’ pada halaman facebook tetapi di dalamnya memuat spirit yang juga mengingatkan aku untuk melakukan hal yang sama, berdo’a dan berharap kebaikan kepada orang lain. Aku sering meminta kepada Tuhan, tetapi itu mungkin terbatas untukku, keluargaku dan orang-orang terdekatku saja. Tak banyak alasan untuk meminta bagi orang-orang yang secara tidak langsung bersentuhan dengan kehidupanku karena batas jarak dan waktu. Tapi, tekhnologi facebook membantu untuk itu.

Hanya ada aku, ‘si putih’ (sebutanku buat laptop apple pemberian hubby), sebuah PC dengan status mati, secangkir kopi dingin, sepotong kue jumput-jumput pisang hadiah dari Ace penjual kue, seloyang kue dan beberapa potong ikan asin dari Kak Sinta. Tadi sedikit ramai di ruang terbuka yang tepat di belakang ruang kerjaku. Ada surprise party dari adiku, Sumi yang datang dengan serombongan orang rumah lengkap dengan anak-anakku. Padahal, aku baru saja terbangun dari tidur sebentar karena aku tiba-tiba merasa begitu pusing dan mual. Aku masih sempat mengirimkan kembali tulisanku ke Mas Bawor dan Kang Didin, ternyata mereka belum menerima tulisan yang sudah kukirim berminggu-minggu lalu. Aku juga masih punya PR untuk mengoreksi Work Plan dan budget salah satu proyek kantor bareng HuMA tetapi tertinggal di rumah.

Aku begitu jenuh terkungkung di ruang kaca nan panas ini, sehingga terlintas terpikirkan untuk menulis monolog. Terciptalah Monolog Tiga dan Satu

Di ruang berukuran 3x3, berkumpul saudara, anak dan juga beberapa temanku. Ada kue bertuliskan 31 di atasnya sedang terbakar lilin yang menyala. Tak lama kemudian, aku meniup lilin itu satu persatu dibantu oleh Galang, anakku. Lagu Selamat ulang tahun yang tak begitu merdupun berkumandang.

Hari ini, aku sudah berdiri pada dua digit angka ganjil itu. Tiga dan Satu.

“Huh, bilang saja ga berani bilang 31 (Tiga Puluh Satu), malu ketahuan tua!.”

“Siapa takut, siapa malu. Bukankah kalo soal umur orang bilang 31 itu kategori kepala tiga. Bangga donk punya kepala sampe tiga, banyak otak, uploading juga bisa banyak ga bakal overload. Kepala tiga adalah perumpamaan untuk usia yang matang, matang artinya semakin banyak pengalaman (baik dan buruk, senang dan susah) alias banyak makan garam (awas hipertensi), matang artinya dewasa, dewasa artinya  bijak, bijak artinya ya bijak. Sudah. Aku cuma ingin kehidupanku penuh dengan kebijaksanaan. Sulit memang tetapi bukan berarti tidak mungkin.”

“Logika garing dan ga menarik. Bukannya kedewasaan tidak bisa direfleksikan melalui angka-angka saja?. Kedewasaan dan kebijaksanaan sangat abstrak untuk diukur hanya pada satu atau dua bahkan lebih angka. Barangkali tidak sesederhana itu.”.

“Bilang aja tua!, susah amat sih”.

“Enggak, aku ga mau dibilang tua. tua lambang ketakberdayaan, tua berati ga bisa apa-apa, tua berarti akan mati, tua berarti dependensi tinggi, dan tua berarti bau tanah …”.

Dan tiba-tiba, aku berpikir nakal.

“hey, gimana kalau angka 31 kita balik jadi 13…!”.

“Arrrggh, dasar tua ga mau terima kenyataan. Lha, nambah lagi daftarnya, tua berarti keras kepala, bebal, kembali ke digit 1 tapi angka ‘0’, ga progresif dan stagnan. Mau ga dibilang angka ‘NULL’. Hayo, masih ga terima kenyataan!.”

“Sudahlah. Apa yang salah dengan tua. Aku memang sudah tua. Aku juga dikelilingi oleh banyak orang yang sudah tua, yang dulunya juga muda.”

“So What?.”

“No matter what. This is a beautiful life. I could get through this long journey because of God’s blessings since the day I called human.”.

Aku mencoba menyadarkan diri, begitu banyak kemudahan dan keindahan yang kualami yang sayang untuk kukutuk. Seandainya sedikit saja rasa syukur itu hadir setiap hari dalam hidupku, akan terasa begitu dekat jiwa ini dengan kefanaan yang indah dan aku tahu bahwa di atas kefanaan itu ada kekuatan yang begitu besar, yakni keyakinan akan sesuatu yang kuanggap lebih ampuh dari sekian ribu baris lafal do’a dari mulut-mulut orang yang mengaku beriman kepada Tuhan-nya dan pergi ke kuil, gereja, masjid dan pura hanya untuk membuktikan keimanannya itu. Mereka memperoleh pujian tetapi pada saat yang sama mereka mengutuk orang karena tidak berdoa novena, tidak berzikir dan tidak membakar hiu’ di kuil. Tapi, ini juga bagian penting dan seni dari hidup ini. Aku tidak tahu aku berada dimana karena bukan aku yang menilai, tapi setidaknya aku mengerti fakta seperti itu. Semoga ini menjadi pegangan untukku, sehingga aku tidak menjadi latah ke gereja dan berdoa dengan tujuan yang tak jelas tapi berlandaskan keyakinan akan kekuatan yang Maha Dahsyat itu. Yang tidak beranak dan diperanakan itu. Yang menjadi misteri yang membuat orang saling klaim kebenaran dan saling bunuh. Yang membuat orang dipisahkan atas nama perbedaan. Yang membuat cinta dan damai sulit diaktualisasikan dalam dunia ini.

“Wow, what a fantastic words I made!.
“Am I wiser?.”
“Is that because of my centimentil feeling or just an adjustment to this growing ages?.”

“I don’t care!”.
“I know what I know alias pokoknya aku tahu.”

“Apa yang kau tahu?”.

“Kau ingin menunjukan betapa cerdasnya dirimu, padahal kata-kata itu banyak diucapkan orang-orang untuk menutupi kekurangan dan ketakmauannya saja.”

“Maksudmu?.”

“Ya, kebetulan kamu seorang aktivis NGO, mikirmu rada on the human rights perspective lah. Tapi coba kautanyakan betul-betul pada dirimu, apakah emang benar kau sekompromi itu, jika dalam kondisi tertentu yang rumit.”

“Well, perhaps, but I’m now talking about my thoughts, not a feeling of a certain complicated condition. Let’s see it this way, that this a thing to be a common understanding and knowledge!. Just that simple, honey.”

Pembicaraanku dengan aku yang lain sungguh mulai menjadi kompleks dan topiknya bisa menyebar. Sebetulnya, ini yang kurasakan terakhir ketika harus berdebat dengan seorang teman yang terlalu terobsesi dengan kata “trully me, my true colors atau the real me”, dengan mengatakan orang lain picik tanpa ukuran yang jelas yang cenderung sangat subjektif dan tak berdasar intelektualit

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...