Tampilkan postingan dengan label tanaman hias. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman hias. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2019

Mekar Perdana Adenium "Black Jack'

"Katakan dengan bunga!".
Adenium Black Jack
Kata-kata ini sering kita dengar, bahwa bunga mampu mewakili rasa. Lihat saja orang-orang kerap berkirim rangkain bunga pada momen perayaan ulang tahun, hari valentine, pernikahan, persahabatan, ucapan selamat atas kelulusan dan banyak lagi momen bahagia lainnya. Sebaliknya, bunga juga menjadi simbol ungkapan empati dan simpati pada momen yang tidak mengenakan seperti duka-cita. Bunga juga begitu akrab dalam berbagai ritual-ritual adat di banyak komunitas di Indonesia pada prosesi kedua momen di atas. Demikian juga pada ritual-ritual keagamaan tertentu.

 Tahun lalu (2018), aku dan kedua sahabatku merayakan ulang tahun kami bersamaan karena tanggalnya yang berdekatan di bulan Juni. Kami merayakan dengang sederhana bertepatan persis dengan tanggal ultahku, bertempat di rumah sahabatku yang hanya berselang satu hari lebih dulu dari tanggal kelahiranku. Iseng, akupun "memaksa" diberi hadiah ultah salah satu jenis koleksi adenium yang begitu banyak di rumahnya. Dan aku berhasil. Aku mendapatkannya. Pilihanku jatuh pada Black Jack.

Tahun ini, sudah genap setahun Black Jack berada di rumah, dan ia mekar pertama kali dengan dua kuntum di bulan Mei lalu. Jadilah ia sasaran lensa makroku. Akhirnya...aku bisa juga memamerkan dua kuntum itu ke pemberinya, sahabatku yang selalu meminta aku memberi "progress report" pertumbuhan Black Jack. Black Jack ini  adalah jenis kelompok varietas, yakni hasil perkawinan atau persilangan dengan kelompok spesies dari jenis asli. Asalnya dari Bangkok, begitu;ah dijelaskan oleh sahabatku, si pemberinya. Hasil persilangan seperti ini memunculkan bentuk baru yang bisa dilihat dari kelopak bunganya berlapis (ber-layer) seperti mawar, tidak seperti jenis asli yang kelopaknya hanya satu lapis. Pun demikian dengan warnanya yang cenderung bergradasi seperti Black Jack ini dengan gradasi warna ungu dan merah menghasilkan warna mendekati maron dan hitam. Indah bukan?!.

Adenium ini merupakan tanaman hias sukulen (memiliki batang yang menyimpan banyak cadangan air). Di Indonesia, ia juga sering dikenal dengan sebutan kamboja. Menurut Mas Wiki, adenium atau kamboja ini berasal dari Asia Barat dan Afrika, dari daerah gurun pasir yang kering, dari daratan Asia Barat sampai Afrika. Iapun sering dijuluki sebagai mawar gurun/padang pasir (desert rose).


Selasa, 18 Juni 2019

Tetepok (Water Snow Flakes, Floating Heart)

Bunga Tetepok
Aku menduga ia teratai kecil, tetapi Si Tukang Kebun menegaskan bukan. "Ini hanya tanaman air liar yang tumbuh begitu saja di situ!." Karenanya, Si Tukang kebun mengambilkan dan memberikan cuma-cuma tanaman itu kepadaku. Aku tertarik dengan bunga kecilnya dan pasti indah jika ia mengapung di permukaan air kolam ikanku.

Dan terjadilah!. Ia berpindah tempat. Jika aku suka melihat daunnya yang serupa teratai dan bunga putih kecil itu, ikanku suka menggrogoti daunnya untuk dimakan. Oalaaah...dikira tumbuhan pakan!!. Banyak daun hijau itu tak berbentuk utuh menyerupai hati lagi karena gigitan ikan. Baiklah, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar tak berarti di dunia ini. Tidak ada satupun yang tak terhubung satu dengan yang lainnya.


Karena semua makhluk terhubung satu sama lain, akupun menghubungkan diri dengan mesin pencari Dewa Google. Mencari tahu dengan "kata kunci" ciri-ciri fisik bunga ini kemudian melihat gambar yang sesuai. Belum selesai, aku mendapat notifikasi akun sosmedku terkait postku tentang bunga ini. Belum selesai aku menemukan yang kucari, aku mendapati komentar berisi informasi tentang bunga ini dari satu orang teman di sosmed ini. Aku mencoba memberi verifikasi bagi diriku sendiri (karena tidak boleh percaya pada satu sumber saja khan?!), melakukan konfirmasi balik dengan mesin pencari google, mengumpulkan beberapa informasi lain dan ternyata informasi dari kawan itu benar adanya.  

Bunga Tetepok (Nymphoides Indica). Ia sering juga disebut Water Snow Flakes atau juga disebut Floating Heart. Pada tahun 2011, pada perayaan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), bunga tetepok pernah dijadikan sebagai puspa Nasional. Ia bisa ditemukan di berbagai belahan dunia seperti Eropa, Amerika dan Asia (salah satunya Indonesia). 

Pertemuanku dengan bunga ini adalah suatu kebetulan di hari Jumat Berkat. Kami sedang merayakan kelulusan si sulung, G, dengan makan siang bareng di resto  yang belum pernah kami kunjungi tapi sering kulihat orang-orang narsis dengan bunga-bunga indah di halaman resto itu (karena gak diendorse, nama resto dan alamat detil tidak disebutkan). Tepatnya di Jalan Arteri Supadio, Kabupaten Kubu Raya. Aku juga berharap bisa membeli bibit bunga di sana. Hasil akhirnya, saya mendapat bibit gratis Tetepok ini (bisa gratis karena alasan di atas, "tidak untuk dijual, dianggap tanaman liar" oleh si tukang kebun), diberi gratis 10 biji bunga matahari (alasan gratis hampir sama, "belum ada bibit atau biji yang layak untuk dijual), membeli dua tangkai bunga sedap malam beserta bibitnya dengan total harga Rp. 30. 000;, diberi gratis satu biji dan satu tanaman Keji Beling (katanya tanaman obat). Lumayan greget dengan ketidaktahuan si tukang kebun sampai akhirnya aku tidak tahan untuk tidak memberi saran sebelum kami beranjak. Saranku adalah agar si tukang kebun harus berusaha mencari tahu nama setiap tanaman yang ia tanam dan rawat di halaman resto itu. Dan, agar tidak lupa, ia mestinya menempel tag nama tanaman sehingga dia tidak banyak menjawab "tidak tahu".

Apapun itu, hasil akhir semakin paripurna dengan agenda silaturahmi kerumah sahabat lama yang sudah belasan tahun tidak bertemu.  Kami mendapat suguhan menu lontong, roti cane dan gulai daging sapi dari isteri sahabat lamaku  itu. Kutunggu Jumat Berkat berikutnya... untuk kutulis

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...