Sabtu, 09 April 2016

Merawat Ingatan di Baturaya

Sekedar merawat ingatan. Ini adalah sisi belakang sebuah rumah tempatku menginap, yang terhubung dengan dapur. Katakan saja ini dapur khusus perapian dengan kayu bakar. Di sini, aku bukan hanya membaui wangi kayu yang terbakar tapi aroma tanakan nasi dari uapnya yang mengepul. Di balik tembok kayu, sebenarnya membentang tanaman padi yang menghijau di ladang keluarga ini (aku lupa ini rumah Pak siapa, duh...sungguh keterlaluan). 


Kepingan-kepingan ini mengisi ruang kerinduan pada wajah-wajah penuh harapan bapak/ibu dan anak-anak di pertemuan kala itu dan wajah-wajah sebelumnya di ruang dan waktu yang berbeda. Lintasan waktu dan peristiwa pun tak sekedar mengisi ingatan, tetapi pundi-pundi ilmuku dari mereka semua.


Kamis, 31 Maret 2016

Petualangan Pulang Kampung



Dingin-Sejuk. Pagi yang tak biasa, mendapatkan angin segar dan mendengar gesekan dedaunan dibuai angin pagi meski masih berembun. Titik-titik embunnyapun eksotis dengan butir-butir bagai kaca yang merfleksikan benda terdekat di sekitarnya dibantu oleh pencahayaan alami matahari pagi.

Itu suatu hari di Blan Desember 2014, ketika proyek pulang kampung bersama keluarga lebih seperti expedisi mini karena semua anggota keluarga minus satu keluarga yang terdiri dari lima orang, yakni keluarga kakakku, menyesaki langkau Ibuku. Sayang melewatkan pohon kopi yang tersisa dari kebun kopi tua almarhum kakek, aku meraih lensa macroku dan kamera EOS 60D-ku. Tak tahan mencuri pandang dari lensa obyek seperti kembang kopi dan kumbang yang mengitari sampai menghinggapinya, semut merah yang berebutan antre di dahan pohon kopi serta beberapa kembang kopi yang sudah mulai kecoklatan karena madu dihisap si kumbang (tentang Kembang KOpi dan Kumbang ada tulisanku tersendiri di Tengah Ruai). Lensa kameraku jatuh pada tiga makhluk kecil, Semut Merah, yang entah sedang apa, tapi jelas mereka meniti dahan pohon kopi di samping Pondok Ibuku. Mereka sepertinya tidak sedang sibuk berargumen, karena dua di antara mereka sedang asyik lepas kangen. Jadinya bingung, caption apa yang cocok untuk foto ini. Apakah ketika Cinta Bersemi di Dahan Pohon Kopi, Cinta Segitiga, atau Kamu Kog Selingkuh?, Cinta Segitiga Ketika Musim Kopi Bersemi (karena Kopinya sedang berbunga waktu itu). Terserah!. Ini hanya oleh-oleh yang tertunda, tidak dishare karena kala itu adalah moment of the Blue X'tmas, Blue December and Blue Family Vacation at My Home Village.

Ini adalah seluruh anggota keluarga yang terdiri dari Ibu dan anak-menantu serta cucu, minus satu keluarga kakak tertuaku (berlima) dan adik lelaki tertua di keluargaku (berempat kala itu, sekarang juga sudah berlima) dan minus adik satu adik ipar dan anak dari satu lagi adik lelakiku. Naaaahhh... bingung khan!!!!. Tak perlu studio foto karena pasti gak cukup.

Keseruan pulang kampung dengan track yang masih jalan berlumpur dan juga setapak, tentu saja lebih seperti lagi berekspedisi atau berpetualang ke alam. Anak-anak tak kenal letih, mereka berlarian sepanjang jalan berlumpur kuning dengan sesekali mengebaskan daun-daun mati yang terjatuh di tanah dan tersangkut di sandal penopang kaki-kaki mungil mereka.


Kamis, 24 Maret 2016

"Pekawai" Sepupu Durian

Photo: Iwi S
Tentu saja ia bukan Durian meski ia berduri. Ini adalah buah Pekawai, demikian sebagian besar masyarakat di Pontianak dan daerah lain seperti Sekadau, Sanggau, Ketapang dan Ngabang menyebutnya. Jenisnya pun beragam, ada yang berwarna merak dan kuning. Di awal aku mengenal buah ini, aku masih belum terima kenyataan kalau ia bukan durian. Penolakan itupun karena aku belum pernah menemukan bukan hanya buah tapi istilah dari buah serupa itu yang bukan Durian di daerah asalku, kampungku.

Baunya tidak semenyengat bau Durian (tetap bau menurutku) meski fisiknya sama berduri. Biji dan dagingnyapun beragam, ada yang tebal empuk dan ada juga yang tipis sampai terlihat bijinya. Hanya saja ukurannya relatif lebih kecil dari Durian.

Buah Pekawai di fotoku ini sendiri mengingatkan pada momen dimana lagi break acara Musyawarah Wilayah AMAN Kalbar yang berbarengan dengan detik-detik penghitungan suara hasil pilpres yang pada akhirnya dimenangkan Jokowi. AKu dan teman-teman melahap segoni buah Pekawai belian dari Pasar Bodok sembari menyaksikan penghitungan suara kala itu.

JIka anda bukan penyuka Durian, boleh saja mencoba buah serupa Durian seperti Pekawai. Aku punya teman yang memulai penjelajahan rasanya mengkonsumsi Durian dengan mulai dari berkenalan denga Pekawai lebih dulu. Tapi jangan tanya bagaimana mencoba menjawab tantangan jelajah rasa Tempoyak (makanan dari hasil fermentasi Durian), karena aku belum dengar ada Tempoyak dari Pekawai.

Mari menjelajah rasa dengan kuliner dari buah Durian dan Pekawai!!.

Kamis, 17 Maret 2016

All's Fake



Enough is enough!

Mampir curhat lagi di Tengah Ruai. 

Sulit memahami ketercukupan jika setiap hari kita disuguhi  hasil inovasi dalam berbagai rupa di kehidupan kita. Mulai dari apa yang kita makan, kita pakai, kita nikmati dengan mata dan kesemua yang bersumber dari nominal angka di kertas  bernama “uang”. Ya, kesemuanya itu butuh uang: nongkrong di warkop dan warteg, beli baju, nonton di bioskop khan pake uang. 

Ini hanya hasil pengamatanku bagaimana dunia ini semakin menggiring orang untuk menjadi ‘fake’, tidak menjadi dirinya, tidak menjadi apa adanya bahkan menjadi “good pretender”  demi apa yang saya juga tidak tahu. Mungkin saja salah satunya untuk mendapatkan pengakuan atas eksistensi diri. Fakta, ada seorang temanku punya teman perempuan yang  masih belia yang memutuskan menikahi seseorang dengan perbedaan usia yang jauh. Pertanyaanku kenapa mau menikah di usia yang baru saja lepas dari remaja akhir, jawabnya karena sang lelaki punya banyak uang dan memberikan rekening dengan isi  sepuluh digit angka yang bisa ia akses kapanpun dan untuk apapun yang ia inginkan. Mengejutkanku memang karena aku tahu pekerjaan sang lelaki yang katanya bekerja di salah satu institusi negara tak sebanding dengan deretan digit angka di rekening bank, toh pekerjaannya itu juga tidak memungkinkan untuk melakukan side job dengan nilai ekonomis sebesar itu. 
Ilustrasi dari http://www.ekoph.net

Seharusnya  aku tidak terkejut dengan realitas di atas. Bukankah sekarang jamak ada banyak oknum ASN yang mendadak kaya tanpa dapat rejeki nomplok padahal gaji bulanan sudah sangat jelas. Jamak juga anggota parlemen mendadak punya rumah mentereng dan mobil mewah di awal-awal periode jabatannya. Ini berbanding lurus dengan semakin menigkatnya kasus-kasus korupsi yang pelakunya tidak saja pejabat tinggi negara tetapi bahkan oknum ASN. Ingat kasus Gayus, Sang ASN yang bisa sangat kaya karena bablas dengan setoran pajak besar dari wajib pajak bernilai besar. Ingat juga  oknum anggota parlemen yang kadang seperti etalase barang mewah mulai dari asesoris seperti tas sampai busana dan hobby online shopping seperti Angelina Sondakh. Online shopping ini sendiri bukan lagi bicara produk saja tetapi jasa. Ingat juga dua tahun terakhir ini (2015-2016) sibuknya Polisis menggrebek para pelaku prostitusi online yang korbannya kebanyakan para artis dengan harga beragam. Bukankah ini manifestasi dari ‘enough is not enough’?.

Sabtu, 12 Maret 2016

Terjebaknya Mrs. and Mr. Ide Dalam Labirin (bukan Maze Runner)

Andai blog ini bisa bicara, dia pasti bilang, "Ehm, dianggurin lagi khan!!!".


Ya begitulah ketika bermasalah dengan motivasi. Untung saja tidak dekat dengan Psikolog, bisa-bisa diindikasikan skizoprenia juga nih gara-gara soal motivasi yang naik-turun. Lagi rame-ramenya juga ngomongin skizoprenia gara-gara kasus kopi bersianida di Ibukota Indonesia dan kasus mutilasi anak kandung di Kabupaten Melawi.

Padahal, ini hanya masa-masa Mr. Ide yang terlalu banyak maunya, terkadang berlama-lama di satu sudut sampai lupa kemana langkah berikut sampai disorientasi. Balik lagi ke salah satu gejala skizo donk...

Ashcombe Maze, Shoreham, Australia. http://www.tahupedia.com
Sesungguhnya Mr. Ide sedang jalan-jalan (mestinya berlari), terjebak di labirin. Pernah gak sih membayangkan atau bahkan masuk ke dalam labirin kaca. Aku pernah mencoba sebuah labirin kaca di salah satu tempat wisata di Jawa Timur, yang membuatku seperti membodohi diri memutuskan mencoba masuk ke dalamnya karena pada akhirnya di dalam semua terlihat sama dan menemukan jalan keluar mesti dengan bantuan pemandu setelah aura kepanikan terpancar.

Itulah yang terjadi pada Mr. Ide. Mrs. Idenya kemana?. Ya, sama aja. Dua-duanya masuk labirin, kejebak sedang menunggu pemandu memimpin mereka keluar. Tanda-tanda menuju jalan keluar sudah terlihat, jadi inilah terusannya, hanya secuil baris demi baris untukku saja. Kalaupun ada yang menemukannya, mungkin lagi beruntung aja atau sial gara-gara Dewa Google.

Mari menikmati deretan kisah, curhat, omelan, tapi tidak akan ada makian. Aku masih terlalu waras untuk memaki seperti yang sedang dilakukan beberapa orang di Ibukota Jakartahh...soal deparpolisasi lah, pencitraan (lagi) lah, macam-macam soal yang umum pada setiap pemilihan kepala daerah.

Rabu, 16 September 2015

What Is A Name? Apalah Artinya Sebuah Nama?!

Coba tebak, apakah ini?.

Jika pertanyaan ini kuberikan, banyak orang akan menjawab ini adalah gambar jantung pisang. Mereka menyimpulkan demikian karena warna dan bentuk yang menyerupai jantung pisang. Tapi, ini bukan jantung pisang. Rekayasa salah satu program editing photo telah mengelabui. Kitapun seringnya menilai sesuatu hanya dari apa yang kita lihat, atau tidak utuh. Sekalipun demikian tidak penting apakah benar atau tidak (bukan salah, karena tebakan tidak pernah mengenal salah tapi tepat atau tidak, apalagi untuk sesuatu yang tidak awam bagi pandangan dan pengetahuan banyak orang, dan jika ditambah lagi sesuatu itu adalah hasil kreatifitas.

Blooming FLo In My House Yard
What's a name?, demikian kata pujangga dari England William Shakespeare. Jadi, tidak perlu terperangkap mencari nama atau gambar apa ini. Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal tentang penilain. Subjektifitas terhadap sesuatu sering membuat kita tidak mau berpikir, hanya berhenti pada "ya" dan 'tidak", "benar" dan "salah", "tepat" dan "tidak tepat". Padahal, kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi menuntut lebih dari itu. Sebagai contoh, tidak lagi penting sebuah teori memiliki banyak pengikutnya (yang meyakininya) tetapi bagaimana pengikut suatu teori mampu melahirkan teori-teori baru yang tidak mesti mendukung atau membantah teori sebelumnya. Disitulah tantangan dari berpikir kritis terhadap segala sesuatu, yakni tidak berhenti pada satu titik, melain mencari dan mencari dan mendapatkan penemuan baru. Saya tidak merasa penting mengklarifikasi pendapat tiga orang yang saya tanyai tentang gambar ini dalam satu hari, dan ketiganya mengatakan ini jantung pisang. Baiklah mereka dengan pikiran mereka. Toh, jika mereka betul-betul ingin mengetahui yang sesungguhnya, mereka semestinya tidak hanya sekedar menjawab melainkan bertanya balik dan aku akan menjelaskan proses bahwa tak pernah terpikirkan untuk membuat objek menyerupai jantung pisang untuk mengelabui orang lain. Ini hanya proyek uji coba program editing baru dalam rangkaian proyek belajar photographyku.

Bagi manusia, tentang sebuah nama, di dalamnya selalu melekat jati diri. Nah, jati dirimu bisa melampui sekedar nama yang diberikan oleh orang tua meskipun orang meyakini nama dari orang tua memuat doa dan harapan akan segala yang baik. Ada banyak juga pemberian nama hanya betul-betul sekedar identitas, dan memang, jati diri memang tidak selalu sejalan dengan nama. Contoh sederhana adalah kehebohan orang-orang di media akan beberapa nama unik seperti Andy Go To School, Rudy Good Boy, Happy New Year, Syaiton, dan Tuhan. Tiga serangkai dan bersaudara Andy, Rudy dan Happy ini diklaim oleh orang tua mereka sebagai bentuk harapan akan kebaikan pada sifat dan nasib anaknya, tapi bagaimana dengan Syaiton dan Tuhan?. Teman spesialku bergurau seperti ini, "ya, ga apa-apa juga namanya Syaiton yang penting bukan Syaiton ya Rojin (Setan yang terkutuk)." Aku punya keyakinan bahwa tidak terpikirkan apa makna dan apa yang mungkin dipikirkan orang lain akan nama tersebut oleh orang tua Syaiton, apalagi mendoakan anaknya menjadi setan. Bisa saja karena phonetic syaiton yang kedengaran indah atau ada alasan lain, itupun tidak penting. Bagaimana dengan Tuhan?. Nah, yang ini yang lumayan serius karena sampai ada protes dari lembaga pemberi fatwa, karena dianggap melecehkan Tuhan. Aku juga yakin sekali, orang tua Tuhan tidak bermaksus demikian ketika memberikan nama itu, pun tidak untuk menyaingi Tuhan atau men-Tuhan-kan anak mereka. Toh, banyak sekali orang-orang lain yang sering mengatasnamakan Tuhan, mengatasanamakan kebenaran lalu sampai mengingkari ke-Tuhan-annya Allah dan ke-Allah-annya Tuhan, dan Ke-Esa-annya Tuhan Allah dengan menyerukan kebesaran nama Tuhan untuk memerangi orang lain yang mereka anggap tidak benar karena tidak sesuai dengan keinginan dan aturan mereka. Bukankah orang-orang seperti ini yang melecehkan Tuhan, menghinakan Tuhan??!!!


Senin, 03 Agustus 2015

JURNAL DUA MALAM: Menembus Negeri di Atas Awan dan Napak Tilas Dongeng Negeri Buah Kana



Sebuah jurnal perjalananku menembus negeri di atas awan untuk pertama kalinya melewati rute dari Kota Pontianak ke Kota Sintang sejak dibukanya jalur udara. Aku mengawali bulanku, ya bulan Juni adalah bulanku karena ini adalah bulan dari tanggal lahirku. “Juni, kau masih setia saja, ya!”. Tapi, ulang tahunku masih beberapa pekan lagi. Entah, semoga ada lagi hal yang menggugahku mengisi laman tengah ruaiku ini. Kadang merasa bersalah padanya ketika ia mulai sepi bisu dan kaku. Kaku disini bukan hanya tak ada tulisan tapi juga gambar-gambar yang bisaku narasikan. 
Moderating Daniel Banai, M. Afen dan Munaldus Nerang

Kali ini, aku memenuhi undangan tugas yang sering kusebut “doing a hobby instead of job’. I won’t going too far with this statement. Let’s say just “work” to make it more general in intepretation. Lha piye tho...kog jadi speaking English. Ini tanda-tanda bahwa aku sebetulnya lagi bingung mulai darimana. Intinya, ada dua hal yang kuceritakan disini dalam bingkai Jurnal Dua Malam. Pertama, ini adalah cerita tentang reuni dengan teman SMP, SMA dan Kuliah meski ini sebetulnya tidak disengaja, termasuk cerita tentang kesan pertama untuk rute penerbangan Pontianak-Sintang.  Kedua ini adalah cerita part of the work, dimana aku “membantu” menjadi Moderator peluncuran buku novel seorang  penulis yang kebetulan adalah saudara kandung dari teman akrabku ketika kuliah, ya ... komentar umumku tentang Novel Keling Kumang. 

Negeri di Atas Awan dan Reuni Tak Disengaja
Sintang bukan tempat yang asing bagiku. Enam tahun aku menghabiskan waktu di masa-masa pertumbuhan karena memenuhi hakku atas pendidikan di sekolah lanjutan pertama (di SD Pancasetya I) dan menengah (SMAN 1).
Sayangnya, tidak banyak Golden Memoryku di masa-masa itu. Ini hanya sekedar mengambil hak atas pendidikan dan kebutuhanku untuk menimba ilmu pengetahuan, karena enam tahun dijalani hanya dengan rutinitas sekolah-pulang (bekerja membantu urusan rumah tangga dan mengasuh saudara sepupu, anak dari om-tante tempat aku dan saudara-saudaraku yang lain tinggal menumpang). Sementara, diusia segini, mestinya anak seusiaku masih dalam pengawasan dan kontrol orang tua dan tentu penuh dengan kasih sayang orang tua, dijaman sekarang disebut dengan usia ABG. Tapi, kebutuhan akan kasih-sayang, peluk hangat dan perhatian lain dari orang tua pun sudah jauh sebelumnya tak kudapat karena sejak usia 6 tahun saat masuk SD saja, aku sudah berpisah dengan orang tua, tinggal dengan nenek-kakek di pusat desa, untungnya dalam pengasuhan yang begitu membekas penuh dengan kasih-sayang meski ya ...tetap saja beda dengan orang tua. Sudahlah ... ini bisa menjadi sub cerita tersendiri lagi kalau diceritakan. 

Aku akan mencoba runut saja, tanpa menggebu-gebu. Bagaimana ya menggambarkan tentang kekaguman terhadap ciptaan Tuhan. Ya, aku selalu mengagumi berbincang-bincang dengan Gustiku atas bahagianya aku menyaksikan tumpukan-tumpukan mega (awan putih bersih) di langit biru sepanjang perjalanan di udara. Sering aku terbang, tapi tak selalu kutemui mereka yang begitu kontras biru (light blue)-putih bercahaya (bright white) ditambah lagi pelangi kembar yang biasa ku lihat dario bawah, kini terlihat dari atas awan berkilau di satu spot menjelang pendaratan persis di satu area saja.Itu pertanda habis hujan. 

“Wow, pelangi!!!”.
“Bukan satu tapi dua”. "Double MeJiKuHiBiNiU (Merah-Jingga-Kuning-Hijau-Biru-Nila-Ungu)."
"Gusti, apalagi yang kupinta selain bisa melihat indahnya lukisan ini."
"Beri lagi aku langit biru itu, ya."

Tak henti aku berterima kasih pada Gustiku atas keindahan ini. Entahlah, kenapa aku menjadi peragu untuk mengambil kamera EOS 60D ku untuk mengabadikannya, dan akan tercipta syair-syair indah pujian atas-Mu. Tak henti aku bersyukur, karena di pendaratan aku sudah dijemput oleh sahabatku, Neneng. Hampir dua puluh tahun sejak 1996 kami tidak bertemu. Aku memang menelponnya sesaat sebelum berangkat, dan ia menawarkan menjemput di airpot dan memintaku tidak menolak tawaran makan siang di rumahnya. Semua aku iyakan karena memang belum kesampaian bertemu sejak ia menelpon keacara  talk showku yang sedang on-air dimana aku sedang nge-host. Dan, ia menelpon hanya untuk meminta nomorku ke stasiun TV tempat aku bekerja. I was thinking she might be "gone" already, karena dia sering sekali pingsan plus pake kerasukan segala waktu kami masih di SMA dulu. Ternyata kami masih sangat saling mengingat jelas perawakan masing-masing, hingga singkat saja pertemuan setelah hampir dua puluh tahun itu membuat aku tak “tertangkap” oleh Even Organizer acara yang mengundangku yang juga menjemputku (ternyata) ke air port. Tapi, berhubung EO tidak pernah konfirmasi adanya jemputan, singkat saja aku melaju diboncengan Neneng. Kami menuju ke rumahnya. Makan siang sudah siap dan aku menyempatkan untuk berkenalan dengan suami dan dua anaknya, mengagumi rumahnya yang besar berkesan alami karena dikitari pohon-pohon karet. 

Devi, Neneng and Me
Perjumpaan dengan Neneng membuahkan agenda lain untuk bertemu dengan teman kami yang lain, Devi. Kami wara/i mencari alamat Devi yang kami sendiri tidak tahu bahkan tidak ada sedikitpun petunjuk untuk sekedar bertanya kepada orang lain misal tetangganya, kami hanya tahu dia di Alai. Tapi, akhirnya kami dipertemukan juga dengan nge-track ke tempat Devi pernah bekerja (berdasarkan info dari suami Neng). Cerita romansa, ngarol ngidul, aku lebih banyak mendengar karena sebagian besar teman-teman SMA aku lupa nama mereka. 

Reuni ini berlanjut lagi (tanpa sengaja) ketika aku sudah mulai siap dengan agenda, berkah keawalan datang di acara, aku bertemu dengan pemilik katering acara yang ternyata adalah teman SMP-ku, Cori. 

Turun dari mobil, aku menyaksikan perempuan "berbobot' sedang mengatur tataan sajian makan malam di atas meja prasmanan. Aku merasa mengenalnya dan menepuk bahunya.
 
"Hai...", sapaku lembut. 
"Apa kau masih kenal aku?," tanyaku ragu bercampur penasaran.
" Waaaiii, Iwi ... !!!".
Sambil berangkulan denganku ia segera berujar, "tentu saja aku ingat, gimana bisa lupa dengan Iwi, Si Mata Kucing. Mata kucingmu itu lho, masih juga sampai sekarang, gak berubah.". 

Sesi saling bertanya kabar berlanjut dengan cerita tentang hidup dan pekerjaan. Ternyata, kami sama-sama pernah menjadi aktivis dan juga sama-sama terpaksa mendaftar PNS "demi" orang tua. Bedanya, aku mundur setelah dinyatakan lulus dan merasa begitu mencintai kemerdekaanku dan dia memilih menjalani saja keinginan orang tuanya dan mencoba menikmati "kepegawaiannya" dia dengan nyambi usaha katering bersama saudara-saudaranya. Ia bahkan mesti melanjutkan sekolah S2 yang sebetulnya tidak ia sukai demi karir pegawainya, sedang aku, bertahun-tahun bermimpi mau ambil S2 di luar negeri belum kesampaian dengan bermacam alasan. Itulah hidup.
Cori and Me

Belum lepas bernostalgia dengan teman di SMP dan SMA, dan sembari menunggu acara, aku mendapat SMS dari Bang Masri Sareb, sang Penulis buku Keling Kumang yang sebentar lagi akan di launching dan dibedah, dan aku akan menjadi moderator di bedah bukunya. 

SMS diterima ...
"Iwi, Fidel and our dad are otw from Sanggau to Sintang now."
"Really?!, tanyaku menegaskan. 
"Yup." Jawab Bang Masri. 
"Sounds good to me after been long."

Ya .... Fidel memang datang setelah acaraku sedang running, aku bisa menyaksikan dari panggung tempat aku sudah bertugas menjadi moderator bedah buku yang menghadirkan tiga orang pembahas. Mereka ini adalah Munaldus Nerang (Boards dan Founder CU Keling Kumang), Daniel Banai (Narasumber Utama buku Keling Kuman), dan M. Afen (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Sintang). 

Fidel and Me
Aku dan Fidel juga bercerita tentan kehidupan dan pekerjaan masing-masing. Tidak banyak karena perbincangan ini mesti diselingi dengan foto-foto bareng, say good bye dan juga basa-basi karena sudah penghujung seluruh rangkaian acara launching dan bedah buku. I'm so proud of him for he is now being the real teacher as what exactly we have to be, while I'm not. Fidel is a headmaster at school now. 


 



Keling Kumang, The Historical Work of My Young Age
Ini hanya sekedar komentar umumku terhadap novel Keling Kumang. Bagiku pribadi, hadirnya novel yang diklaim oleh sang penulis, Masri sebagai sebuah novel berlatar sejarah menjadi sedikit ruang untuk napak-tilas ke masa dimana aku masih mendengarkannya sebagai sebuah cerita lisan pengantar tidur atau ritual bercengkrama dengan almarhum kakek yang ketika itu begitu kukagumi bagaimana begitu detilnya alur cerita lengkap dengan mantra-mantra pujian (syair dalam bahasa Iban 'dalam' yang aku sendiri tidak paham hanya memahami beberapa konteks seperti pujian terhadap manusia dan alam serta kidung perasaan sedih-bahagia yang menggambarkan dinamika kehidupan di sebuah negeri "Buah Kana" atau yang umum dikenal sebagai kayangan. Keling dan Kumang adalah dua tokoh sentral dalam cerita ini. 
With Hetty and Angel, Staffs of KK, Photo: Hetty

Novel ini juga sudah mengisi kerinduanku pada sosok seorang kakek sang pendongeng. Aku bahkan tidak pernah sekalipun mendengar Ayah-Ibuku berdongeng untukku, apalahi tentang Keling Kumang karena mereka merasa tidak punya kemampuan untuk melakukan itu sepeti kakekku. Itu yang kusebut sebagai napak-tilas, seolah-olah almarhum kakek kembali hadir. Aku senang sudah memiliki satu referensi dalam bentuk novel untuk mengingat kembali momen bersama kakek dan juga inti cerita Keling Kumang, meski itu semua dalam ruang dan waktu yang jauh berbeda. Ya, di jaman digital, kultur bercerita lisan seperti yang dilakukan orang tua dahulu mesti mulai bergeser-meluas-bertransformasi (aku tidak ingin mengatakan berubah) dalam hal tekhnik. Visualisasi dalam bentuk novel atau mendokumentasikan "folklore" atau cerita rakyat yang seringnya dituturkan lisan. Dengan menuliskan tentu akan memperkaya pengetahuan banyak orang tentang cerita itu sendiri, baik tentang alurnya, nilai-nilai (moral), pesan serta relasi (atau jika ada, kaitan bahkan keterikatan) dari cerita itu sendiri dengan masa sekarang. Persis seperti ketika saat ini orang Indonesia sedang menggilai film Mahadewa, Mahabrata dan Khrisna dalam berbagai kemasan ceritanya tanpa menghilangkan inti dari cerita itu sendiri serta tokoh-tokoh sentralnya. Cerita Mahadewa contohnya, sebetulnya hanyalah cikal-bakal lahirnya kitab Wreda umat Hindu tetapi ia menjadi sangat universal dalam hal penikmat karena mengangkat soal budaya lampau dan juga mengajarkan nilai-nilai pengorbanan serta keikhlasan. 

Secara substansi, aku belum meluangkan waktu membaca detil Novel Keling Kumang. Toh, buku itu kemudian kujadikan hadiah untuk kakakku. Akan tetapi, ada beberapa poin penting bagiku dari novel itu sendiri secara spesifik dan cerita Keling Kumang sebagai sebuah cerita lisan popular di kalangan Dayak Iban secara umum. 

With Cori, Angel and Masri, Photo: Masri
Novel Keling-Kumang memang tidak (akan) mampu menyajikan utuh sebuah cerita lisan popular Dayak Iban yang memiliki berbagai macam versi berdasarkan penuturnya. Namun, tokoh-tokoh sentral, termasuk tokoh lain disamping Keling dan Kumangpun membutuhkan eksplorasi lebih jauh dan mendalam. Salah satu pembahas sekaligus narasumber utama, Daniel Banai, misalnya mengingatkan Sepunti sebagai salah satu tokoh sentral yang selalu ada bersama Kumang atau asisten Kumang, sebagai tokoh perempuan yang begitu kuat dan setia. Demikian juga dengan tokoh yang disebut sebagai Inai Bujang. Sepertinya, timeline menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi penulis. Terlihat dengan hanya ada satu narasumber utama, padahal ada banyak orang tua yang juga memahami betul cerita ini. Tentu akan menjadi lebih kompleks jika mencari lebih dari satu narasumber tetapi sebetulnya dengan mengambil lebih banyak narasumber, novel ini akan lebih kaya melalui proses sinkronisasi dan lebih mampu menggambarkan dinamika yang dihadapi masing-masing tokoh sentral. Tapi, baru-baru ini aku mendengar bahwa novel ini akan dibuat trilogi dan juga sebuah miniseri TV. Semoga proses menuju pencapaian berikutnya ini bisa lebih menggambarkan beberapa hal yang kusampaikan di atas. 

Novel Keling-kumang dan cerita Keling-Kumang mengingatkan kita akan adanya keterikatan masa lampau dan masa sekarang diantaranya nilai-nilai kultural dan filosofis. Sebagai contoh, CU (Credit Union) Keling-Kumang yang menjadikannnya cikal-bakal dalam sejarah  yang tidak hanya terpusat pada aspek keuangan saja tetapi juga pada aspek sosial (di sektor pendidikan dengan adanya SMK Keling-Kumang yang baru berdiri tahun 2015). Hal ini disampaikan oleh Munaldus Nerang, Pendiri dan Pengurus Keling-Kumang pada saat peluncuran Novel Keling-Kumang di Aula CU Keling-Kumang Juni lalu. 

Penulisan cerita Keling-Kumang ke dalam Novel menunjukan bahwa tradisi lisan (budaya bertutur) sudah mulai bergeser menjadi budaya menuliskan atau mendokumentasikan. Ini diakui oleh seorang pembahas, pak M. Afen, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang (diungkapkan pada acara peluncuran buku). Menurut saya, "pergeseran" ini sebaiknya dilihat sebagai perkembangan dalam proses transformasi dan transfer pengetahuan dengan tesis sederhana bahwa budaya membaca sudah semakin membaik dan masyarakat bahkan di kampung-kampung sudah melek media (media literacy). 

Dan, aku ingin menutup tulisan ini dengan kutipan yang kukutip dalam penutupan sesi peluncuran dan bedah buku Novel Keling-Kumang. Kutipan dari seorang maestro sastra, tapol Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer, yang sudah seperti menjadi keharusan buatku. 
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". 


*** 

FYI: ini adalah tulisan yang sudah tersimpan lama sekali sebagai draft sejak bulan Juni, dan baru statusnya "finish" dalam hitungan bulan.









Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...