Jumat, 04 April 2014

kompromi dan konfrontasi (1# Curhatan)

Kompromi dan konfrontasi sesungguhnya merupakan realitas pertarungan setiap individu menyeimbangkan nalar dan rasa. Keduanya merupakan pilihan yang memiliki konsekwensi masing-masing. Dalam hal ini, berkompromi sederhananya lebih bermakna bijak, sedangkan konfrontasi lebih terkesan brutal. Keduanya bisa saja muncul dengan mengacu kepada apakah rasa atau nalar yang sedang dominan menguasai. Dalam hal seimbangnya rasa dan nalar, kecenderungannya adalah berkompromi.

Kata kompromi dan konfrontasi sering kugunakan untuk menunjukan batas toleransi dengan suatu kondisi, keadaan atau peristiwa yang relatif tidak mengenakan dan mengulik-ulik emosi sedemikian rupa, diantaranya berkompromi dengan peristiwa kematian orang-orang terdekat, berkompromi dengan peristiwa luka dan kecewa yang disebabkan orang-orang dekat, berkompromi dengan emosi yang kadang destruktif terhadap orang-orang dekat. Ibarat gelombang, ombak kompromi dan konfrontasi terkadang datang sendiri-sendiri terkadang datang hampir berbarengan namun ada batas yang membedakan keduanya. Batas itu hanya bisa dilihat dengan duduk dan tidak hanya bicara dengan diri sendiri yang cenderung subjektif - membela diri; mempertahankan diri. Lalu, bicara dengan siapa?. Dengan Dia-sang penakluk segala rasa dan nalar bahkan tubuh yang menjadi rumahnya. Duduk merendah, diam dan tidak meminta.

Sesungguhnya, itu sulit. Peristiwa demi peristiwa, baik yang menyenangkan dan menyedihkan merupakan bagian dari dinamika yang menantang kedewasaan dan perlu lebih bijak melihat "apa" dibalik peristiwa karena ego selalu menggiring manusia cenderung kehilangan objektifitas, balik ke apa yang kusebut membela diri atau mempertahankan diri di atas. Sebagai contoh adalah relasi antara suami-isteri yang kusebut sebagai relasi yang kompleks karena "demands multiple roles to play". Ini terjadi pada setiap relasi tetapi akan lebih rumit bagi orang yang berkomitmen dalam bingkai pernikahan.  Di bawah ini adalah dialog reflektif untuk menggambarkan suatu hal sederhana tapi berefek domino pada banyak hal dalam sebuah relasi antara sahabat, dan level bisa meningkat untuk relasi suami-isteri.

"lebih baik jadi sahabat, agar tdk saling menyakiti", kata si A kpd pasangannya. 
Si B menimpali, "siapa bilang sahabatan ga prnh saling menyakiti!?". 
Balas A, "aku byk sahabat gak ada yg pernah nyakitin aku krn slalu aku yg nyakitin hati mrk.

Sakit menyakiti dalam relasi mestinya dilihat sebagai proses "improvement", bukannya menjadikan "bersahabat" sebagai solusi karena persahabatan itu sendiri tidak memilih tempat dan waktu melainkan salah satu peran yang dituntut kepada orang yang berpasangan atau berelasi dengan orang lain dengan kadar lebih dekat. 

Balik ke soal kompromi dan konfrontasi. Dalam hal kompleksitas seperti inilah keduanya sering muncul. Berkompromi dengan sesuatu, keadaan ataupun situasi tertentu (yang sulit) terkadang menggiring kita menjadi seolah-olah orang yang sangat tidak berdaya, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan galau karena relatif/terkesan pasif. Konfrontasi sering lebih terlihat berani, menolak tunduk, pemberontakan, berdaya dan kuat karena sebaliknya terlihat lebih aktif (baik aktif yang destruktif maupun konstruktif). Aku pernah dalam situasi, dan setiap manusia pasti melewati itu. Bagaimana menghadapi ini?. Seorang teman pernah menulis kepadaku begini:

"... that we should try to maintain positive outlook and believe that things will turn out fine in the end and helps will always come on the right timing, should let go of fear....i know it's NOT easy to do it, as consciously and unconsciously, we are constructed to react spontaneously in worry and fear when things haven't turn out the way we want or need to...but somehow, we are suggested to learn to construct faith, that there's divine timing for everything & release the fear and worry...when we release our worry and fear, it helps us to begin see the available options......well, I'm just saying we should try and see how it works."

Menariknya, kalimat itu seperti "aku yang sedang ber-de javu" ke suatu peristiwa dan menyampaikan hal yang sama kepada seorang sahabat dengan frasa yang berbeda. Satu hal yang kusadari di sini, itulah salah satu kunci untuk menghadapi pilihan "kompromi dan konfrontasi". Membuka diri saja bagi hal-hal positif darimanapun; sahabat, bacaan dan film-film (komedi barangkali), jangan membiarkan diri kita kehilangan hormon bahagia (endorphine). 




Selasa, 01 April 2014

Big Sale di Tahun Politik (opiniku)

Sudah memasuki masa "minggu tenang" (H-4) untuk para caleg parpol dan calon DPD dalam melakukan kampanye terbuka. Dalam seminggu lagi, tepatnya 9 April 2014 akan dilakukan pemilu legislatif dan DPD. Selama masa kampanye, bahkan sebelumnya, jamak terlihat banyak caleg dan calon DPD curi start memasang alat peraga. Termasuk juga memasang alat peraga di luar zona yang ditentukan. Tapi yah, sudahlah. Makanya kubilang ini "jamak", artinya sudah seperti ritual lima tahunan dengan pelanggaran yang sama. Yang menarik dan agak berbeda adalah penggunaan media televisi yang lebih marak ketimbang sebelum-sebelumnya. Ini menunjukan bahwa orang-orang yang akan bertarung memenangkan hati rakyat ini adalah orang yang tidak saja melek media televisi tetapi tentu dia punya akses sebagai pemilik, keluarga pemilik, dan kerabat pemiliki atau rekan sebisnis. Kenapa?. Jawabannya sederhana, pasang iklan di televisi tidak murah. Silahkan saja dicari sendiri hitung-hitungannya, toh ini hanya opini bukan sebuah riset atau survey.

Ini ingin bicara soal bagaimana media televisi menjadi salah satu dari sekian banyak media untuk "jual diri" para caleg dan calon DPD - promosikan diri. Namanya jualan, tentu akan menampilkan kelebihan produk yang dijual, dan karena produk yang dijual adalah diri sendiri, slogan/moto, wajah yang hampir semuanya tersenyum lebar di foto-foto dan video dengan diperkuat narasi yang mencerita sosok, kiprah dan tentunya apa yang akan dibuat. Substansi dari kemasan produk diri inilah yang aku sebut dengan "Big Sale"; banyak orang mendadak paham persoalan rakyat, mendadak melek data kurang gizi, data rakyat miskin, data kerusakan alam, mendadak sangat peduli pada etnis tertentu, mendadak (seolah-olah) paham prosedur pencairan dana untuk mengurusi pendidikan gratis, berobat gratis dan menyediakan sarana dan prasarana. Sikut menyikutpun terjadi dan muncul dengan bahasa "black campaign". Tidak lebih-tidak kurang seperti penjual obat. Padahal, negeri ini butuh dari sekedar orang yang jualan tetapi orang yang mengerti potensi/kekuatan rakyatnya, bagaimana menjadikan rakyatnya percaya diri mengolah potensinya dengan membantu memberi akses terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar dan menjelaskan bahwa pendidikan dan kesehatan gratis adalah kewajiban negara yang harus dipenuhi dan bukannya jadi jualan untuk prasyarat terpilih.

Di sini, rakyatpun dituntut harus cerdas. Tapi, siapa yang mencerdaskannya. Dari "pelayan publik" sampai militer sibuk menggalang aksi mendukung jagoannya masing-masing, bukan mencerdaskan bahkan kalau bisa rakyat gak boleh cerdas biar enak dibodoh-bodohi dengan selembaran lima puluh ribu ketika kampanya, makan dibayarin ketika bertemu caleg, berobat dibayarin, dan menit-menit menjelang pencoblosan ada yang disebut serangan fajar.

Bi Sale di tahun politik bisa dilihat dengan hampir setiap sudut kota jalannya dibenerin - dicor. Mobil pribadi banyak penumpang, ambulans gratis sampai angkot yang berubah cat jadi warna khas dengan warna partai tertentu disertai wajah caleg dan nomor urutnya dan slogan masing-masing serta contoh surat suara. Selebihnya akan ada kaos oblong, VCD/DVD, bulletin dadakan, kalender dadakan, fanpage FB, status berisi aktitifitas setiap caleg.

Tidak banyak yang hendak kukatakan di sini. Aku hanya mau bilang. Anda-anda masih belum mampu mengguggah saya. Mungkin saja saya sudah apatis atau paranoid atau hopeless...tapi tetap saja ini harus saya dan seluruh warga yang masuk dalam DPT lewati. Kalau tidak, akan dianggap golongan putih. Kalau kemudian memilih golongan putih, tetap negeri ini akan dikuasai oleh para tukang jagal yang mendadak jadi malaikat dan para pasukannya. Saya tidak akan golput dan saya juga belum hopeless karena pasti ada satu atau dua orang di sana yang betul-betul pro rakyat dan mereka tidak terlihat karena berada diantara tumpukan orang serakah berbaju tebal dan mahal serta selalu memilih berdiri di atas pundak orang-orang tidak mampu. 

Teriakan Hati (opiniku)

Sedikit melihat ke belakang, beberapa minggu lalu. Inipun dipicu oleh pemberitaan media televisi dua hari terakhir tentang seorng anak berusia tujuh tahun, kelas satu Sekolah Dasar di Makasar yang meninggal diduga karena dikeroyok oleh tiga orang kawannya. Hati saya selalu rasanya mau berteriak bukan karena aku adalah ibu dari salah satu anak yang usianya tujuh tahun dan membayangkannya terjadi pada anaku, tetapi karena lagi-lagi manusia seolah-olah tidak bernilai manusia di hadapan manusia lain. Dan, itu terjadi pada siapa saja, pada setiap kelas, setiap kelompok usia, tanpa kenal jenis kelamin. Sebelum ini, satu kasus terjadi pada remaja Sekolah Lanjutan di Jakarta, yang meninggal karena dibunuh oleh dua orang teman akrabnya. Berikut, seorang anak juga dianiaya oleh mantan pacar ibunya.

Aku tidak hendak membahas peristiwa di atas. Ini adalah sebuah peristiwa serupa yang terjadi di depan kedua mataku dan tentunya membuat lagi-lagi hatiku berteriak, meneriaki apa?. Sudah tidak jelas, sepertinya masih berkutat pada "Nilai Kemanusiaan".

Suatu pagi, aku menjalani tugas rutin mengantar anak tujuh tahunku ke sekolah. Tugas yang sudah kutekuni dalam sembilan bulan ini sejak anaku masuk SD. Sampai di depan sekolah, sepeda motorku melaju perlahan karena mesti berbelok kanan menuju ke halaman sekolah. Bukan sekedar melaju pelan, aku harus mengerem hingga berhenti, karena di depanku ada seorang ibu yang menggiring sepeda, sepertinya juga mengantar anaknya. Di depan si ibu ada beberapa anak perempuan sedang berjalan pelan menuju halaman. Di belakang si Ibu, ada seorang anak laki-laki yang juga mulai mengayuh pelan sepedanya dan bahkan berhenti dan aku melihatnya berusaha turun. Kami semua berada pada satu jembatan kecil yang menghubungkan jalan besar dengan halaman sekolah, dan jembatan itu menjadi jalan melintasi parit dengan ukuran sekitar 3 meter.

Sedikit mundur perhatian pada seorang anak laki-laki yang mengayuh sepedanya dan bahkan berhenti (sepertinya mengikuti Ibu yang di depan karena memang rombongan anak perempuan di depan masih terlihat berjalan pelan). Aku masih berhenti, memberi kesempatan kepada anak itu untuk tetap di depan terlebih dahulu sekaligus juga memberi peluang anak-anak perempuan dan si Ibu selesai melewati jembatan. Tiba-tiba, mataku tertuju pada kaki si anak lelaki yang berusaha diturunkannya ke sebelah kiri, turun dari sepedanya, dan seketika kaki sampai pada sisi cor-coran jembatan, iapun tergelincir dan masuk tersungkur ke dalam air parit (disebut juga sungai oleh warga) bersama dengan sepedanya. Spontan, semua heboh dan anak itupun menangis kesal, ketakutan, mungkin kedinginian dan mungkin juga malu. Akupun memilih memarkirkan motorku, untuk juga memberi ruang di jembatan yang sempit itu bagi yang lain. Aku tidak melihat siapapun datang menolong anak itu untuk naik dari parit itu atau menghibur untuk menenangkannya. Bahkan diriku sendiri lebih memilih menenangkan anaku yang berumur belum genap tiga tahun (ikut mengantar si Abang) yang malah hendak berlarian kesana-kemari ikutan memastikan apa yang terjadi. Ada satu orang Ibu dari teman sekelas anakku yang mencoba menghampiri hendak menolong anak itu dan akupun bergerak lambat ke sana dengan satu anak di tangan kiri (si Abang), dan satu lagi di tangan kanan (Si adik). Tetapi, tentu saja tidak ada yang bisa kulakukan secara tekhnis misal mengulurkan tangan pada anak lelaki itu agar dia naik, karena tanganku terpaku pada anak-anakku. Aku pun hanya berteriak meminta anak itu naik dan mencoba menghiburnya sembari meyakinnkan tidak terjadi apa-apa dengan sepedanya. Itupun dilakukan oleh Ibu dari teman anaku. Kulihat ia mengulurkan tangannya, tetapi anak itu masih kekeuh menolak naik dan masih menangis di dalam parit berisi air dan sudah ada sepedanya juga di dalam air itu. Semakin banyak pula gerombolan anak-anak lain yang mencoba membujuk ia naik dan memastikan sepedanya tetap aman jika ditinggal di dalam air untuk sementara waktu. Namun butuh waktu lama untuk meyakinkan anak itu naik, untuk kemudian kembali pulang ke rumah untuk ganti baju dan balik lagi ke sekolah untuk mengikuti ulangan.

Yang "menarik", sebelum anak itu naik, ada satu orang Ibu berteriak memanggil anaknya sendiri. Bukannya membantu, si Ibu malah dengan suara lantang bicara pada anak perempuannya, "Itu tu kalau nakal, kamu akan seperti itu. Itu anak naka itu!". Tidak jauh dariku, berdiri seorang guru, dan tidak terlihat sedikitpun khawatir. Aku bertanya, "Bu, itu murid kelas Ibu, khan?.". "Iya", jawabnya sambil berjalan pelan menuju TKP. Mulutnya terus bicara, "Biarin, anak itu memang nakal!". Di TKP aku juga menyaksikan satu orang lagi guru yang sedang berteriak hampir sama, meneriaki "kenakalan" anak itu. Akupun menghampiri si Guru kelas yang berjalan pelan berusaha menceritakan peristiwa yang sebenarnya, bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan nakal. Itu kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja. Tetapi tidak digubris.

Cerita ini tentu berakhir dengan si guru yang menggunakan otoritasnya memutuskan apa yang mereka anggap baik bagi muridnya. Tetapi peristiwa ini membuat hatiku berteriak kepada dua orang guru yang tidak berbuat apa-apa malah membuat tambah malu dan khawatir si anak didiknya dengan mengatakan itu akibat kenakalannya, sekaligus memberikan contoh kepada anak lain bahwa peristiwa itu sebagai dampak atau efek dari sebuah kenakalan dan wajar terjadi pada anak nakal. Bahasa sederhananya seolah-olah "anak nakal wajar celaka, atau tidak apa-apa celaka". Bukannya menggugah rasa peka anak, sekedar berempati dan membantu kawannya sendiri. Hatiku juga berteriak pada si Ibu yang menjadikan peristiwa itu sebagai contoh bagi anaknya yang mungkin dia pikir jauh lebih baik, bahwa jika anaknya tidak terus menerus menjadi baik, dia wajar celaka seperti itu. Terakhir, tentu aku juga berteriak pada diriku sendiri, tidak segera membantu secara tekhnis, mungkin dengan menarik tangan anak itu dan meninggalkan anakku yag berusia dua tahun itu untuk sementara, meskipun mungkin ia bisa juga lari kemana-mana dan bahkan terjun juga ke parit. Aku hanya mampu menyarankan si Abang, karena itu juga teman sebayanya meski tidak satu kelas, untuk menolong anak itu setidaknya dengan memintanya keluar dan berhenti menangis dan segera pulang untuk mengganti baju sebelum ia kedinginian dan kehilangan kesempatan ulangan hari itu. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan.

Ini bicara soal empati dan kepekaan sosial yang sesungguhnya tidak ada mata pelajarannya di sekolah. Namun, ini sesuatu yang menujukan kualitas rasa kemanusiaan kita. Namun, masih begitu besar "gap" antara manusia karena cap-cap nakal, apalagi bagi seorang anak yang berada pada lingkaran yang mewarisi cara mendidik dengan memberikan hukuman pada anak yang didik yang dianggap nakal. Peristiwa ini seperti hukuman setimpal yang harus diterima oleh anak karena ia nakal. Aku sendiri masih mempertanyakan mengapa selalu ada isitilah "anak nakal" untuk hal-hal di luar keinginian kita orang dewasa yang dilakuakan oleh anak-anak. Guru-guru harusnya memiliki kemampuan merangkul "anak-anak nakal", karena mungkin saja ada persoalan dengan keluarganya. Mungki saja "tangki cinta" si anak sudah sangat kosong, orang tua tidak sadar pentingnya mengisi tangki itu. Yah, kalau begitu berat menjadi guru. Tentu. Menjadi guru masa kini dituntut tidak hanya mengajar mata pelajaran tetapi juga melakoni peran "parenting-pola asuh". Itu mengapa setiap sekolah ada guru BP (Bimbingan Pelajar). Orang tua tentu memiliki peran sentral di sini, karena pola asuh di keluargalah tempat semuanya berakar. Berikut, kerjasama dan keterbukaan antara guru dan orang tua juga harus diberi ruang yang lebar untuk memiliki satu kesepahaman atas anak. Pola komunikasi yang baik juga harus dibicarakan antara guru dan orangtua. Jika proses ini bisa dilewati, aku kira tidak sulit bagi guru untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran lain yang sudah baku. Aku coba pahami, mungkin karena orang dewasa sekarang, guru-guru sekarang dan bahkan para orang tua sekarang adalah produk dari sistem pendidikan, baik formal di sekolah maupun non-formal (misal di keluarga)  yang memang tidak memfokuskan pentingnya membangun kepekaan sosial, empati, dan tanggung jawab.

Anak nakal menjadi label yang sering melekat pada anak yang kritis dan tidak manut pada aturan dan perintah orang tua dan guru. Kecenderungannya destruktif (kegitatan dan tindakan yang merusak) karena tidak mendapat tempat penyaluran yang tepat dan tidak diberikan ruang oleh orang tua dan guru. Orang tua sibuk sendiri, dan tidak mulai menempatkan anak sebagai "orang penting" - untuk diperhatikan dengan setidaknya menanyakan perasaannya. Anak juga sering dianggap tidak berhak tahu kesibukan, pekerjaan dan bahkan hal-hal sederhanan semisal jadwal orang tua, malah cenderung berbohong karena tidak mau ribet dengan pertanyaan anak. Prilaku ini sering dibungkus dengan kalimat "memandirikan anak atau mendewasakan anak" padahal belum saatnya. Anak hanya butuh diberikan rasa aman, nyaman dan merasa dianggap ada dan dicintai. Toh, eksistensi diri itu menjadi kebutuhan setiap makhluk hidup, bukan ....???


Selasa, 05 November 2013

Protes Balita P

Pada mulanya...

Hari ini libur Nasional di rumah, artinya setiap orang di rumah tidak ada yang beraktifitas di luar, kecuali si Daddy yang sedang on duty di Palangkaraya (lagi-lagi juga akibat si Daddy gak pernah aware ngeliatin kalender kalo buat jadwal, terus arrangement biasanya diserahkan ke orang lain penuh, semisal jadwal penerbangan yang kadang gak match dengan keinginannya). 

Sebenarnya aku juga sudah deal untuk kerja. Ga ada deal untuk on duty live presenting salah satu program di TV tempatku bekerja, tetapi tapping untuk salah satu program malam hari, stok untuk beberapa tayangan karena narasumber akan keluar kota dalam waktu lama). Karena sang produser 'tidak enak badan', jadilah stay around anak-anak. Salah satu yang menarik hari ini adalah mengamati berita meriahnya pawai ta'ruf di Pontianak yang membuat malas keluar karena bakal terjebak macet. Pilihan bermain dengan anak-anak dan membuat peganan ringanpun dilakoni sembari menunggu jam sore untuk skype-an dengan Dad. 

Ya memanfaatkan fasilitas gratis mumpung di rumah juga sudah pake modem wireless dan hari inipun jaringannya bagus. Lepas chat via skype, aku menunjukan tulisanku tentang anak-anak yang tidak begitu banyak di blog, dan aku tersadar ketika P protes bahwa tidak ada tulisan tentang dirinya. Jadilah aku kemudian memutuskan menulis tentang dirinya didampingi G dan P sendiri, tapi ada pesan sponsornya mesti ada photo dia(walaaah...). 

Si Cantik P

Baby P (4,5 th), msh Play group and chubby
She is the only one baby girl I have. Juga menjadi moment yang paling 'sulit' menghadirkannya ke dunia ini. Perjuangan 15 jam dilewati dengan kesakitan yang luar biasa ditambah pake pingsan berkali-kali di klinik bersalin dekat rumah. 

Aku hampir menyerah kala itu. Energiku terkuras menahan sakit kontraksi berkali-kali tapi belum juga partus, sementara aku selera makanku hilang diperburuk dengan perutku yang menolak apa saja makanan yag masuk. 

Untungnya klinik tempatku melahirkan tidak jauh juga dari kantorku. Kawan-kawan kantorku (yang perempuan) yang mendengar berita 'sulit' itu kontan datang dengan membawa teh manis hangat dari kantor. Dan itulah minuman pertama yang masuk ke perutku setelah sekitar 20 jam tidak terisi sama sekali. Support kawan-kawan ini yang membuat hsti tergerak, setelah dari pagi berapa kali sessi makan kulewatkan. 

"Kalau Ibu tidak mau makan, tidak apa-apa."
"Setidaknya hargailah teman-teman ibu yang sudah jauh-jauh datang bawakan teh".

Demikian kata Bu Bidan kala itu. Itu juga yang menyentuhku kala itu. 

"Kalau Ibu tidak mau makan atau minum, terpaksa saya harus menginfus."

Wah Si Ibu Bidan sudah pake nada sedikit meninggi namun tetap santun memberi ancaman. Kata infus itupun salah satu yang meluluhkanku sampai akhirnya kuminum juga teh setengah gelas dicekokin si hubby. 

Yah... ceritanya akan makin panjang sementara ini cuma sekedar untuk memenuhi hasrat P, dan sebetulnya yang terpenting ada fotonya. Ga apa-apa juga, secara sudah lama sekali aku tidak menulis. Segala sesuatu dikepalaku selama ini seperti meluap begitu saja tidak berbekas, bahkan sekedar dalam goresan pena di kertas putih tak ada. Ada banyak yang menguap saja ketika suatu ide dan fakta mengantri untuk dinarasikan dalam bentuk tulisan apapun. 

Balik ke cerita soal P. Singkatnya, 15 jam kesakitanku itu terbalas dengan begitu 'antengnya' si baby P. Baby P paling gampang tidurnya, asal abis mandi, digeletakin, dia akan tengkurap dan tertidur dengan sendirinya. Begitu juga ketika ia sakit. Pernah suatu waktu aku dikagetkan dengan telp. rumah ketika sedang di kantor yang melaporkan P panas tinggi mencapai 40 derajat. Aku panik dan segera pulang, dan aku sungguh tak percaya melihat ia tidak sedikitpun menangis kecuali mukanya yang memerah dan matanya yang berair menahan sakit. Biasanya, ketika ia mulai bicara dengan bahasa bayi, dia hanya akan bilang "i-hou", terdengar seperti suara anak kucing yang kadang membuat aku keliru. Tapi itu yang selalu terngiang ketika aku sedang di luar rumah. Dan, kata i-hou itu menjadi panggilan khas kami untuknya setidaknya sampai ia berumur 2 tahun, ketika kata-kata yang keluar dari mulutnya mulai jelas. 

Baby P sekarang sudah besar, umurnya sudah 5 tahu per September tanggal 11 lalu. Dia juga sudah kelas A di TK. Bayi yang pendiam itu menjadi periang dan sangar ekspresif sekarang, senangnya 'disayang'=membangunkannya dan menyuruhnya menghabiskan makanan mesti pake rayuan maut. Cenderung asyik dengan imajinasinya sendiri, memainkan boneka-bonekanya, bahkan apapun bisa menjadi mainan dan menjadi aktor dalam imaginasinya yang sering dia ajak bicara sendiri. Anak yang cuek, tapi sebetulnya pengamat yang baik. Kelihatan lebih santai "nyeni=ngartis" daripada G yang cenderung senang mikir dan senang yang ilmiah-ilmiah. Lebih banyak bergerak (menari dan mengekspresikan segala sesuatu dengan gerak), sementara G lebih senang menulis, menggambar dan membaca serta mulai menganalisa sederhana fenomena dan peristiwa. Si Bungsu A, belujm begitu kelihatan tetapi dia cenderung gabungan kedua-duanya.

Ya..time flies ... never know what will be, I'm just so happy to have such smart and fun kids. They really meant to me since the first time I felt my motherhood intuition came and I have chosen as a mother and as a friend for them. Thanking my Lord, always for trusting me to taking care of them!. 





Kamis, 04 April 2013

Edisi Ultah Baby A yang Kedua

"Terbanglah, hanya sebatas garis awan mampu kuawasi kepakmu, selebihnya hanya doa yg tak terucap tapi mendaras singkat teratur dalam diam sampai tidur panjang menyadarkanku bahwa saatku tiba".

Main Pasir di Pasir Panjang
Dua baris kalimat ini tertulis di dinding salah satu socmed. yang aku ikuti. Tertujut pada baby A yang pada tanggal 4/4/2013 ini berultah kedua. Berpuisi meski mungkin tak puitis amat. Tapi muatannya adalah harapan dan doaku terhadap the third musketeer ini, bahwa aku hanyalah disebut Ibu karena aku melahirkannya ke dunia, bukan karena akulah si empunya hidupnya. Aku juga akan terus mengingat kata-kataku ini untuk mengajari diriku, bukan hanya padanya tetapi pada kedua orang musketeer lainnya yakni si Abang dan si Kakak. Bahwa, suatu saat mungkin ketika aku sudah semakin lama bersama mereka, melakukan segala sesuatunya untuk mereka, dan menyaksikan mereka beropini atas pilihan-pilihannya, akan ada kemungkinan-kemungkinan lain menyertai seperti aku tidak setuju dan mendikte pilihan mereka atas cita-citanya, idiologi mereka dalam hal apapun, rumah mereka, pakaian mereka, makanan mereka, dan bahkan pasangan/teman hidup mereka. Yang tertulis di atas adalah ungkapan hati dan perasaanku saat ini dan aku berusaha untuk tetap tidak ingkar namun terkontrol dan terkompromikan dalam kondisi tertentu dikemudian hari. 

Seperti biasa, tidak ada pesta, hanya kue dan nasi kuning. Tapi kesederhanaan itu kuyakini memiliki kesan tersendiri meskipun setiap hari aku dan si Daddy membanjirinya dengan cium dan peluk sayang, begitu juga si Abang dan Kakak. Kejadian-kejadian lucu berawal dari tingkahnya. Ketika meniup lilin, mulutnya monyong dan sedikit menghembuskan udara malah lebih banyak liur nyembur, tapi lilinnya tetap mati karena ukurannya kecil, wow ... si Baby A kelihatan senang minta ampun. Tingkah lucu lainnya, ketika Ibu bantu memotong kue, giliran bagi-bagi kue, setiap potongan kue yang dibagikan pasti diicip dulu sama Baby A ... welaaah naak ... disuruh bagiin kue, dia ngirain kuenya buat dia. Yah, namanya juga anak dua tahun. I know you're smart. 

Oh ya, mesti ditulis juga kebiasaan baby A. Dia bukan sekedar senang dengerin musik dan lagu, tapi dia akan langsung menyenandungkannya setelah selesai mendengar. Ucapannya belum sempurna, tetapi ada banyak lagu yang bisa dia senandugkan sesuai dengan tempo dan ketukan yang sesungguhnya. Beberapa kata dalam syair juga mulai terdengar dengan sangat jelas, seperti kata "Naik" dalam lagu Naik-naik ke Puncak Gunung, "Thomas" dalam lagu Opening Film Thomas and His Friends. Beberapa lagu yang ia hafal menyenandugkannya selain dua lagu di atas adalah Baba Black Sheep (gara-gara senang lagu ini, dia kerap dipanggil Baba oleh om dan tantenya), Edelweis, Fly Fly the Butterfly, Kasih Ibu, Balonku Ada Lima, Twinkle Twinkle Little Star, dan ada beberapa lagu lagi yang bahkan aku sendiri tidak ingat. 

Di usia menjelang dua tahun, Baby A terbiasa dengan ritual mengucapkan kata "Good Night", "Have a Nice Dream", dan "I Love You". Tetapi, dimulut mungilnya kata-kata itu berubah ucapan menjadi "Good Nek", "Et Na Cim" dan "Acyu". Kalo bangun pagi ritual "Good Morning" menjadi "Uning, bu". Biasanya dia menyapaku dengan kata itu di saat aku sedang sibuk memasak bekal sekolah si Abang dan Kakak. Jadilah, aku akan stop sejenak untuk membalas sapanya dan menciumnya. Karena jika tidak, dia akan terus berdiri menatapku. 

My Lord, My Almgihty God, sungguh aku bersyukur atas semua yang kautitip padaku. Kemudahan, cinta dan kebijaksanaan akan terus mengalir dari bibirku bukan hanya berwujud harapan tetapi syukurku. Pada keyakinan atas-Mu aku berdiri di titik ini, dan pada keyakinan yang sama aku ingin langkah demi langkahku (bolehlah terhenti sesaat) tertuju hanya pada-Mu. Aku mencintai-Mu, aku mencintai keluargaku. 

Untuk Baby G, terima kasih telah menjadi penghiburku. Kita banyak melewati waktu berdua ketika semua orang di rumah beraktifitas. Tetapi aku merasa tak banyak waktuku yang berkulaitas kuluangkan, bukan hanya untuk bermain denganmu tetapi bahkan sekedar menuliskanmu. Meski sudah hampir setahun lebih aku berhenti bekerja di ruang publik, aku tak cukup pintar membagi waktu untukmu, untuk dua orang kakakmu, untuk kebutuhan "me time" ku dan juga untuk "we time" aku dan si Daddy. Kerapkali aku memarahi kalian sebetulnya hanya karena ketidakmampuanku berada dalam situasi seorang "Ibu Rumah Tangga dan Pekerja Rumahan". Maafkan aku untuk ini. Jikapun ini menjadi salah satu alasanku, sesungguhnya itu juga terjadi pad kedua kakakmu sebelum ada dirimu. Kalau begini, jadinya aku tidak punya alasan yang tepat kecuali harus mengakui aku tidak cukup dewasa dan bijak sebagai Ibumu, Ibu kalian dan mungkin isteri dari Bapak kalian. Tapi yah ... begitulah orang dewasa kerap berlaku terhadap anak-anak: sering menyalahkan, minta dimengerti, menuntut anak lebih dewasa dari umurnya, sampai menginternalisasikan idiologi pribadinya dengan alas membentuk integritas anak - pada apa - pada sesuatu yang orang dewasa sendiri tidak pahami bahkan tidak tahu bagaimana menjalaninya. 

Yah ... kamu akan menjalani proses yang kualami saat ini kelak, nak. Jika saat itu tiba, berlakulah setidaknya lebih bijak dan dewasa sedikit dariku saat ini. Ini untuk kakak-kakakmu juga. 

Selamat Ulang Tahun Sayang - Tuhan akan menjagamu untukku. Aku hanya menjalani apa yang diperkenankan-Nya. Tak lebih. Karenanya jang sembah kakiku, sembahlah Dia. Kita akan terus berjalan beriringan. I love you....






Rabu, 19 Desember 2012

A Long-long Holiday to Grandma’s (Uti’s) House for Ied Mubharak

(Ini tulisan dibuat sepulang dari Jatim, liburan Lebaran. Kupersembahkan buat G sehingga bahasanyapun rada childish gitu dech. Tepatnya dibuat tanggal 7 September (kl gak salah), dan lagi-lagi baru dipost dan dipublish sekarang ini karena akhir-akhir ini malas koneksi pake laptop. Just Read this ... Liburan kali ini berbeda dari biasanya. Bukan karena libur sekolah yang panjang, tetapi karena ini pertama kalinya liburan Idul Fitri di rumah Mbah Uti’ di Jawa Timur. Libur sekolah G dan P hanya seminggu, tetapi jauh-jauh hari mereka sudah libur duluan dengan alasan menghindari lonjakan harga tiket dan padatnya penerbangan. Buat Ibu dan Bapak ini bukan saja menjadi perjalanan yang melelahkan tetapi perjalanan pertama kali yang menguras ‘brankas’ lumayan banyak. Tapi ya, kapan lagi. Bapak bilang, kasihan Mbak Kung, yang sering sakit-sakitan dan dalam beberapa bulan terakhir, Om Adi juga katanya sakitnya serius. Mbah Uti’ dan Aunte juga sering menelepon menanyakan kapan pulang, lebih-lebih lagi karena si Adik Bayi “A” belum sama sekali ‘temu muka’ dengan keluarga di Surabaya sejak ia lahir dan sekarang sudah umur setahun empat bulan. Tradisi anak-anaknya Bapak kalau ke rumah Mbah, pasti kekahan (tradisi Islam). Untuk kedua orang Kakak sudah melewatinya ketika berumur 3 bulan (G) dan 4 bulan (P). Bapak dan Ibu memutuskan untuk berangkat hari Selasa, tanggal 13 Agustus. Kebetulan Bapak juga sudah menyelesaikan komitmen kerjaan dan Ibu tentunya tidak terlalu berpengaruh dengan jadwalini karena dalam satu tahun ini Ibu bekerja tidak kenal jadwal atau jam dan rutin mengurusi rumah tangga alias jadi Ibu Rumah Tangga. Biasanya, ketika dulu Ibu masih bekerja ini akan jadi persoalan tersendiri Buat Ibu dan Bapak (menyesuaikan jadwal). Untungnya, G masih di TK dan P baru saja masuk Play Group jadi rada tidak terlalu strick jadwal. Target liburan kali inipun sebenarnya untung menyenangkan anak-anak selain menuntaskan kerinduan orang-orang rumah di Surabaya, toh sudah 2 tahun tidak pernah pulang kampung baik ke Jawa maupun ke Sintang, terkendala biaya. Route penerbangan yang kami ambil adalah Pontianak – Jakarta – Surabaya. Pilihan yang dianggap tidak terlalu costly ketimbang via Yogya, bukan hanya soal uang tetapi karena satu-satunya penerbangan via Yogya adalah salah satu maskapai yang terkenal suka delay, dan Bapak Kadong cinta naik maskapai domestik kepunyaan Negara karena dianggap maish lumayan baik. Si G sih senangnya karena pasti dapat mainan, di samping itu, penerbangan Jkt-Sby pesawatnya gede, ada monitor TV (karena pesawat untuk penerbangan Intrenasional) . Kalau udah gitu, giliran penerbangan dari dan ke Pontianak, si G suka protes karena pesawatnya lebih kecil, trus kadang ada mainan kadang enggak dan tidak ada TV-nya. Si P yng adem-adem aja pun kadang ikutan protes. Nah, kalau si A juga protes tetapi selalu urusannya dengan seat belt. Dia gak suka dipakekan seat belt. Si Ibu juga seing senewen karena kalau udah gitu gitu, ibu kepalanya disundul-sundul seperti bola, tangan dicubit-cubit serta mesti menahan diri mendengar teriakan si Baby A. Tambah lagi ini anak kalo gak teriak bawaannya senang ngedumel (sebetul bicara dengan bahasanya sendiri – bahasa bayi yang tidak dimengerti) dengan suara keras-keras. Kami mengambil penerbangan siang hari dari Pontianak. Hari itu pas bertepatan dengan ulang tahun sepupu, Jojo yang keempat. Jadinya, sebelum ke airport Supadio, sempat dech tiga kurcaci ke rumah Jojo untuk ucapin selamat dan icip-icip kue dan nasi kuning, tidak untuk Ibu dan Bapak karena masih sedang berpuasa. Hari itu juga tanggal dimana si Kakek berpulang empat tahun lalu. Ibu sempat oret-oret sebentar di blog sebelum berangkat sekedar untuk mengenang beliau.

Releasing Trip

Tulisan ini kubuat di Soetta Airport sembari menunggu flight Jakarta-Palangkaraya, sekaligus ngetes ngeblog dari smartphone-ku. Jadi maklum aja kalo pendek and byk salah. Sengaja tidak di-edit kesalahan penulisan hurufnya, biar bisa dikenang (boleh donk ... emang masalah buat loe...). Inilah dia, ditulis di terminal 4, jam sepuluhan pagi gitu lah... Oh ya, baru diposting sekarang di bulan dua belas tanggal 19 karena ini tulisan nangkring dulu di draf. Gak sempat publish. Judulnya agak aneh memang, releasing trip, tapi memang dalam rangka releasing byk hal yang mengendsp srlams satu tahun lebih ini setelah satu tahun lebih ini aku tidak menekuni kerja di ruang publik. Bekerja 24 jsm, tanpa gaji pula, he, he, he. Honestly, aku mulai berpikir untuk kembali ke dunia luar sana, earning money, he, he, he. Oh ya, lupa bilang perjalananku kemana. Ini perjalananku kedua kalinya ke kalteng dalm rangka hadir di kongres perkumpulan yang aku menjadi angotanya. ini juga sekaligus agenda reunian, lagi transit do airpory Jakarta aja aku sudaj berjumpa banyak kenalam sesama angota dari Jakarta nBengkulu, yang tafi hanya kami bertiga dari Pontianak. Deminggu lumayan buat Cuti neriakin the three musketeers dan . Tetentu bakalan kangen juga. Ehm, tapi gak kebayang si Daddy akan kewalahan kalo si baby Ava minta "Baba Blackship" dan Mama'. Yang jelas aku udah bilang, be a gud boy...! Cuma, lupa bilang Dad untuk jadi gud Dad. Will be missing u all My Three.Musketeers, Dad (kalo untuk Dad sih selamat menjadi Plt Direktur Rumah Institut. Jadi penasaran, seperti apa semuanya ketiks aku pulang nanti ya....

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...