Senin, 02 Juli 2018

Bawang DAYAK, Si Umbi Merah Beragam Nama

Ada yang menyebutnya Bawang Mekkah dan ada yang menamainya Bawang Dayak. Lebih dari itu, ada yang menyebutnya Bawang Berlian. Di kampung kelahiranku, orang menyebutnya Bawang Lema'. Di beberapa artikel, anda mungkin menemukan sebutan Bawang Tiwai dan Bawang Sabrang atau Bawang Hutan. Konon, menurut ibuku, aku kecil dan kakakku sering sekali main masak-masakan di halaman rumah dan mencabuti bawang ini yang begitu banyak tumbuh di halaman. Kami sering langsung memakannya ataupun membakarnya sebelum dimakan di saat bapak membakar sampah daun-daunan pohon kayu di sore hari. Kami sering mencacah tumbuhan ini dengan parang sebagai perlengkapan main masak-masakan atau belangun* dalam bahasa ibuku.

Salah satu tumbuhan satu family dengan bawang atau jenis umbi-umbian yang umbinya berwarna merah ini, konon berkhasiat untuk kesehatan karena memiliki anti oksidan tinggi dan bersifat anti kanker. Rasanya sedikit pahit-pedas begitu jika dikonsumsi segar. Ada yang senang mengkonsumsinya langsung, ada yang menambahkannya dalam campuran sayuran atau lauk dan ada yang membuatnya dalam bentuk bubuk setelah diiris dan dihemur kering kemudian diseduh air pana dan ada juga gang menyeduhnya dalam bentuk irisan2 kecil seperti ini setelah dijemur kering sebelumnya.


*Belangun merupakan istilah umum untuk menjelaskan aktifitas bermain, dalam bentuk apa saja, tapi lebih ke bermain peran, mulai dari masak-masakan, dokter-dokteran ataupun artis-artisan, dll.

Jumat, 02 Februari 2018

Ferry, Pak Tua dan Gelombang


Hampir setiap hari aku rutin menembus pagi dengan cerlingan pantulan sinar matahari sepanjang penyebrangan Siantan - Bardan setelah membeli tiket harga goceng. Di atas ferry, hanya riak kecil sungai Kapuas yang terasa, berasal dari  transportasi air lain mulai dari kapal bandong dan speed boat serta ferry satunya lagi yang akan bertukaran tempat menurunkan dan mengambil penumpang orang dan kendaraan roda dua, empat, dan enam. Selalu banyak waktu bersantai mulai dari mengantre menunggu ferry datang dan kami semua naik dengan urutan kendaraan roda empat dan enam, barulah roda dua. Sedangkan pejalan kaki biasanya menerobos saja begitu merapat tanpa harus menunggu. Berikutnya, setelah naik, tentu meneruskan waktu bersantai di atas ferry yang sedang menyeberang. Mengamati prilaku orang menjadi menarik, sama menariknya melihat pemandangan dari tengah Sungai Kapuas di pagi dan senja hari. Ada yang asyik berbincang dengan teman boncengannya (jika berboncengan), ada yang asyik menyulut dan menghirup dalam-dalam rokoknya dengan kepulan asap kemana-mana meski ada tanda "No Smoking", ada yang senyum-senyum sendiri memainkan gadget (entah ber-WA-an, ber- Email-an, entah bertelepon dengan suara keras sampai kepada mengkhayal tingkat dewa. Aku mungkin seringnya masuk ke kelompok dua bagian terakhir.

Hari ini, pemandangan Sungai Kapuas agak chaotic. Tentu saja tidak se-chaotic di Jembatan Kapuas dan Landak yang selalu dimulai di area perempatan Tanjung Raya dari arah Utara Pontianak dan di area perempatan Tanjung Pura dari arah selatan Pontianak. Kata chaotic ini digunakan untuk mengganti istilah macet, karena seringnya ini tidak diakui oleh para pejabat, "belum seperti Jakarta, jadi belum termasuk macet!", begitulah sering terdengar dari mulut penyelenggara Pemerintah Kota. Ya, di jalur sungai hari ini chaotic jika dibanding biasanya. Sedari menunggu di daratan, orang-orang dengan kesibukannya masing-masing mulai dialihkan pada suara sirine yang berasal dari speed boat Polri dan Dishub berseragam biru yang wara/wiri bersama dengan speed boat karet, kapal kecil, ditambah drone yang sedang terbang di atas persis di pinggiran sungai. Mungkin saja itu persiapan pengamanan Imlek dan Cap Go Meh yang dalam hitungan dua Minggu lagi diperingati.

Aku asyik dengan keseruan menyaksikan "kehebohan" dan "kebisingan" di sungai yang tak biasa itu, sampai mataku kemudian tertuju pada seroang Pak Tua yang sedang berjibaku mengontrol keseimbangan perahunya menggunakan dayung di atas turun-naiknya permukaan sungai. Ia berkayuh dengan melipat satu kaki sebelah kanannya untuk menopang tangannya mengayuhkan dayung di sebelah kanan. Dan, kaki kirinya dibiarkan selonjor begitu saja. Satu pelajaran secara tak sengaja telah kupetik dalam kurang dari satu jam. Di atas ferry, aku bisa santai karena hanya terasa riak turun-naik air di permukaan, tapi tidak bagi Pak Tua Berkayuh Sampan. Ketangguhan dan kelihaian mendayugnya menjadikannya petarung diantara angkutan air lain yang lebih besar dari perahunya agar tak karam oleh gelombang. Aku belajar untuk lebih rendah hati padamu, Pak Tua, tidak hanya terfokus pada apa yang aku sukai dan kupikir asyik. Bagiku ini hanya riak kecil tapi bagimu ini gelombang yang siap meruntuhkan keseimbangan. Aku belajar unutk merubah cara melihat sesuatu, tidak melulu berfokus pada pikiranku saja.





Rabu, 24 Januari 2018

Lingkau di Uma, Alternatif Sumber Karbohidrat

Photo: Iwi S (Dec. 2017)
Lingkau, begitulah ia disebut oleh orang di Kampungku. Jagung begitulah orang di Kampung Almh. Nenekku menyebutnya. Tumbuhan ini juga merupakan salah satu pilihan pangan sumber karbohidrat yang akrab disebut Sorgum oleh masyarakat di wilaya timur Indonesia seperti Papua. Sama halnya dengan beras yang ditanak menjadi nasi, Lingkau juga bisa ditanak menjadi nasi Lingkau. Proses sebelum menjadi nasi Lingkau juga sama persis ketika mengolah gabah atau padi dengan dijemur terelebih dahulu, ditumbuk kemudian dipisahkan dari kulit atau sekamnya, baru dimasak. Lingkau juga bisa dan enak dijadikan tapai bahkan melalui proses fermentasi yang cukup lama dibiarkan bisa menghasilkan tuak lingkau. Terkadang, aku kecil sering memakan biji Lingkau ini seperti makan kuaci utamanya untuk biji matangnya, bahkan tanpa harus diproses dengan cara dijemur, ditumbuk dan dimasak terlebih dahulu. Rasanya gurih. Sayang sekali, terlewatkan oleh saya mengambil gambar biji Lingkau yang berwarna kecoklatan di luar dengan daging didalamnya berwarna putih dengan tekstur yang unik. Suatu saat, lensa macro saya harus mengabadikannya.
Biji Lingkau yang sudah dikupas

Biji Lingkau dilepas dari tangkai
Sama halnya dengan Jawak atau Jawawut, Lingkau juga menjadi tanaman selingan yang disebar bijinya diantara tanaman padi. Seringnya, lingkau dipanen sembari menunggu padi matang di ladang. Acapkali kita jumpai ia berdampingan dengan Jawak berada di sela-sela tanaman padi.

Jawak atau Jawawut/Jewawut, Pakan Burung dan Pangan Masyarakat Dataran Tinggi

foto 1: Tangkai Bulir Jawaut di Bekas Ladang (pasca panen padi)

Jawak atau Jawawut adalah salah satu dari sekian banyak sumber pangan alternatif pengganti nasi atau sumber karbohidrat dengan nama ilmiah  Setaria italica. Dalam bahasa Inggris, ia dikenal dengan nama foxtail millet* karena memang bentuk tangkainya menyerupai ekor rubah. Dalam 100 gram biji jawawut terkandung 351 kalori, 11,2 gram protein, 4 gram lemak, 63,2 gram karbohidrat dan 6,7 gram serat mentah (www.healthbenefitstimes.com).

 Di kampungku, tanaman ini sering dijadikan tanaman selingan padi ataupun disebar di sudut dan atau di pinggir/sisi ladang dengan bukaan tidak luas. Proses pengolahan Jawak menjadi panganan sama persis dengan mengolah padi menjadi nasi atau bubur. Hanya saja, umumnya Jawak dibuat dalam bentuk bubur santan manis. Sama persis dengan posisinya di ladang, Orang di kampung lebih sering menjadikannya sebagai makanan selingan, bukan pengganti nasi, Namun, sebetulnya, Jawak bisa dijadikan sebagai pengganti nasi karena teksturnya yang padat ketika sudah dimasak menjadi bubur meskipun biji Jawak ini sangatlah halus sehalus biji selasih. Saya begitu menggemari makanan satu ini. Mengenyangkan dengan sangat mudah. Proses menyajikan Jawak menjadi panganan sering diilustrasikan sebagai kerja keras atau daya juang yang sangat besar. Menumbuk gabah Jawak jauh lebih sulit daripada menumbuk padi. Sampai-sampai proses pada tahapan ini sering digambarkan berpeluh darah saking rumitnya.

Foto 2: Bulir Kecil Jawawut
Foto 3: Bubur Jawawut
Hanya dengan segenggam Jawak yang sudah ditumbuk dan bersih dari kulit (sekam), bisa menyajikan satu panci besar bubur Jawak untuk sekitar 10 orang (tergantung porsi makannya juga sih). Santan dan gula merah menjadi soulmate bubur Jawak.

Siska Tirajoh, pernah menuliskan bahwa tanaman biji-bijian ini berasal dari Papua sehingga ia juga  dikenal sebagai Jawawut Papua (WARTAZOAVol. 25 No. 3 Th. 2015 Hlm. 117-124DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v25i3.1156). Di Papua, Jawawut yang tinggi kandungan karbohidratnya ini merupakan pakan unggas pengganti jagung, belum akrab sebagai sumber pangan untuk masyarakat. Sumber lain mengatakan bahwa Jawawut pertama kali dibudidayakan di China oleh Peiligang. Jenis Millet Foxtail ini lazim dalam budaya Yangshao, sekitar tahun 600 SM pada Zaman Besi. Di Eropa, Amerika, Asia dan Australia,  Jawawut atau Jewawut menjadi makanan mewah (https://www.healthbenefitstimes.com/foxtail-millet).

Foxtail-millet-seeds
Foto 4: Biji Jawawut/Jewawut/Foxtail Millet/Milet

Mari menanam Jawak!!!. Mari budayakan "Tak Harus Makan Nasi"

*Menurut wikipedia Bahasa Indonesia, Millet atau Milet merupakan sekelompok serealia yang memiliki bulir berukuran kecil. Pengelompokan ini tidak memiliki dasar botani maupun agronomi.Penyebutan milet adalah semata untuk mengelompokkan berbagai serealia minor (bukan utama)

Credit Photo:
Foto 1,2, dan 3 by Iwi Sartika; foto 4 saya ambil di https://www.healthbenefitstimes.com/foxtail-millet/ 

Baca juga: https://www.healthbenefitstimes.com/foxtail-millet/; WARTAZOAVol. 25 No. 3 Th. 2015 Hlm. 117-124DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v25i3.1156

Raja Jalanan

Kata atau Subyek "Aku' seringnya dominan saya gunakan dalam tulisan di TENGAH RUAI. Kali ini, saya ingin tidak biasa. Khan sudah tahun baru 2018, dan ini tulisan pertama di tahun ini. Jangan menebak kalau ini cerita liburan, cerita malam tahun baruan apalagi curhatan emak-emak seperti yang lagi nge-hits sekarang disoroti. SAya mah gak gitu orangnya. Alis gak dilempeng-lempengin gak perlu pensil alis soalnya. Gak suka juga diajakin makan berat karena terlalu gampang kenyang, lha saya makan kerupuk aja udah kenyang. Ini bukan curhat khan ya ...

Tidak ada yang salah dengan curhatan hati. Yang salah adalah jika curahan hati itu merugikan orang lain. Kali ini saya hanya ingin mencerita dinamika kehidupan di jalanan, tepatnya jalan raya. Menarik saja menuliskannya di TENGAH RUAI daripada hanya sebatas postingan status di sosmed atau video recording, Anggap saja melatih kembali kelihain jari-jari menari di atas keypad laptop dan kecerdasan pikiran, karena saya merasa sudah semakin tidak cerdas. Jangan sampai dikalahin kecerdasan HP.

Awal bulan di tahun ini, saya ditawari pekerjaan oleh salah satu lembaga yang pernah menghire saya sebagai konsultan singkat. Saya menerima tawaran itu. Konsekwensinya, setiap hari saya harus memilih dua cara untuk mencapai kantor; pertama dengan rute yang lebih dekat tapi mengantri untuk naik ferry dengan membayar Rp. 5.000; Kedua adalah rute yang cukup jauh karena menyeberangi dua sungai yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Ditambah lagi, hitungan beberapa lampu merah di pertigaan dan perempatan yang lebih banyak jika dibandingkan rute dengan menggunakan ferry. Sejauh ini, saya baru satu kali melewati jembatan. Saya memilih jalur Ferry.Saya hanya perlu sabar menunggu giliran naik ke ferry setelah membeli tiket, kemudian duduk manis di atas motor sambil menyaksikan pemandangn, bahkan sempat membaca berita di gadget dan membalas pesan WA.Begitu tiba di seberang sungai,  saya hanya perlu melewati tiga kali lampu merah. Jika beruntung, saya hanya sekali saja menemukan lampu merah, tapi jarang.

Saya selalu was-was ketika posisi saya persis di depan saat perhentian di traffic lights karena lampunya merah yang artinya berhenti. Kenyataannya, sering orang menunjukan tingkah seolah-olah "dunia milik mbah mu). Ada orang yang sibuk dengan gadgetnya, ada yang sibuk diskusi dengna teman sesama pengendara motor dan ada yang sibuk berkomunikasi dengan bunyi klakson. Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada diklakson, artinya dipaksa terus berjalan di saat lampu merah masih menyala dan masih kesempatan pengguna sisi lain jalan untuk bergerak. Kurang begitu, orang yang nglakson juga marah-marah. Saya pernah. Tapi saya lawan dengan cara, saya malah memajukan motor persis dihadapan si pemain klakson (biasanya orang bermobil). Saya lebih suka menantang, jika memang berani dan tidak sabar tetapi berani, paling-paling saya ditabrak Berani nabrak di tengah keramaian, di lampu merah lagi???

Sedikit melewati lampu merah artinya sedikit energy terkuras untuk marah-marah, ngomel dan memaki. Artinya berkurang peluang berbuat dosa. Begitu juga sebaliknya. Namun, itu jika asumsinya hanyalah masalah kesenangan orang berkomunikasi dengan klakson (padahal suara klakson yang kencang dan tiba-tiba bisa membuat pengguna jalan lai  kaget, hilang konsentrasi dan berisiko membahayakan diri sendiri dan orang lain. Hal lain yang sering ditunjukan oleh para raja dan ratu jalanan adalah kebiasaan lampu sen kiri, belok ke kanan. Siapa bilang ini tidak seberbahaya saat tidak memberi tanda lampu sen sama sekali ketika mau belok.Dan, jangan bilang juga ini kebiasaaan emak-emak atau Ibu-ibu sampai muncul istilah "macam emak-emak, sen kiri, belok kanan". Saya menyaksikan berkali-kali ini sudah lintas gender dan lintas generasi. Kenapa? Karena setiap orang ingin menjadi Raja Jalanan, Setiap orang merasa diri sibuk, harus didahulukan dan merasa jago, apalagi tidak menggunakan perlengkapan standar keamanan berkendara seperti helm dan penggunaan sabuk pengaman bagi yang bermobil.

Raja jalanan. Mestinya Raja dan Ratu, karena lagi-lagi ini terjadi dan berpotensi dilakukan oleh siapa saja, baik laki maupun perempuan.

Kamis, 06 Juli 2017

Bertahan Hidup: Kisah Si Pohon Sirsak dan Saudaranya

Pohon Sirsak “Survivor
Suatu hari, di tahun 2008, aku harus mengambil keputusan yang sulit yakni untuk mengakhiri saja kehidupan sebatang pohon sirsak di samping rumahku untuk membuat lebih luas kawasan dapur dan area parkir, atau membiarkannya hidup saja. Pilihan membiarkannya hidup pun sebetulnya pilihan yang rumit. Ia tumbuh terlindungi dari sinar matahari dari timur yang ia butuhkan untuk menjadi pohon yang sehat dan produktif. Akupun tidak diuntungkan dengan kondisi ini.

Pada akhirnya, aku berpikir untuk tidak menjadikan ini sebagai pilihan yang rumit, yang harus dianalisis terlalu panjang-lebar meski sempat membingungkan. Aku memutuskan bertindak lebih bijak terhadap pohon sirsak yang sudah terlanjur tumbuh. Meskipun ia hanya pohon, tapi tidak ada salahnya aku mekesampingkan egoku memiliki ruang parkir yang luas untuk hanya satu motor dan beberapa sepeda. Ia terlanjur tumbuh meskipun tidak begitu sehat. Akan tetapi, satu pohon sirsak yang tidak sehat ini telah mengajariku filosofi bertahan hidup. Sudah lima tahun (2003-2008) ia menjadi bagian dari rumahku. Lebih dari itu, ia yang menurut ukuranku tidak produktif karena tidak pernah menghasilkan buah yang ranum dari bunga yang bermekaran tak kenal musim, berakhir dengan berserakan di tanah, justeru begitu berjasa bukan dari buahnya tetapi dari daunnya. Beberapa kali, helai demi helai daun sirsak itu berhasil membebaskan rasa sakit suamiku dari asam urat yang berlebih kadarnya.

Semakin banyak pula kehidupan telah diberi oleh dedauann yang tidak terlalu rindang itu terhadap kupu-kupu untuk bertransformasi dari ulat-kepompong dan berakhir pada berbagai ragam corak dan ukuran kupu-kupu. Aku sudah menurunkan ekspektasi untuk bisa menikmati buah ranum pohon sirsak itu, tetapi menikmati saja setiap satu siklus kehidupan setiap kupu-kupu yang menjadikannya tempat bertransformasi . Aku juga menikmati ketika kal-kala harus memetik lembar daunnya sebagai ramuan herbal penurun kadar asam urat suamiku. Terkadang, aku juga meminumnya, toh katanya bagus juga untuk kesehatan. Tak jarang, tetanggapun meminta daun sirsak itu untuk menjadi bahan tambahan sebagai pelembut atau pengempuk daging.

Beberapa tahun kemudian (aku lupa persis tahun berapa, kalau tidak salah 2015), sirsak itu pada akhirnya memberikan juga kepadaku buahnya yang ranum. Aku bahkan bisa membagi buahnya dengan tetangga. Mungkin saja karena ia sudah mulai meninggi melampui  tembok rumah dan bisa merasakan hangat sinar matahari pagi, membuatnya lebih produktif. Namun, akupun tidak berharap lagi akan buah yang banyak. Setiap saat ia meninggi, aku terpaksa meminta adikku memotong pohonnya. Aku juga harus memikirkan kenyamanan tetangga sebelah rumah yang terlindungi jika ia kubiarkan rindang. Kadang aku berpikir, kasihan sekali pohon sirsakku harus “dibonsai”?!. Jangan-jangan, seandainya aku bisa mendengar dan memahaminya, mungkin ia sudah berteriak menolak perlakuan seperti itu. Bukankah ia juga makhluk hidup?!. Nyatanya, kusaksikan pohon sirsakku masih saja sama rindangnya dipenuhi  dedauanan hijau yang semakin lebar dari sebelumnya. Semakin banyak ulat hijau bercokol di dedaunan itu yang berakhir dengan kepompong coklat bergelantungan. Bunganyapun tetap bermekaran, namun kebanyakan berakhir dengan serakan kelopaknya di tanah.

Begitulah dilema berakhir pada keputusan menghormati proses “bertahan hidup” pohon sirsakku. Pohon sirsak “survivor” yang tidak sengaja mengajariku tentang  bagaimana menyikapi kehidupan yang prosesnya tak selalu sesuai dengan yang kita ingini. Tetapi, selalu ada cara untuk bertahan hanya dengan mensyukuri saja proses yang sudah dilalui dan tetap memlihara semangat untuk berharap segala sesuatu akan baik dan membaik pada akhirnya. Akupuh mulai menikmati rutinitas, memotong dahan-dahan yang sudah mulai banyak dan memerintahkan adikku memotong pohonnya ketika sudah terlalu tinggi dan mulai terlihat mengganggu tetangga. Tahun ini (2017), akupun mulai menambahkan beberapa pot bunga dari jenis yang tidak terlalu membutuhkan banyak sinar matahari untuk menjadi teman si pohon sirsak “survivor” itu. Tidak terasa, sirsak itu sudah menjadi pohon yang menua (gak ngitung umur sesungguhnya, tapi perkiraanku ia sudah berumur sekitar 15 tahun terhitung sejak aku mulai pindah ke rumahku dari rumah kontrakanku di tahun 2004, toh sebetulnya ia juga bawaan dari halaman rumah kontrakanku).

Pohon Sirsakku Punya Saudara

Pohon sirsakkku itu sebetulnya memiliki saudara. Namun, saudaranya itu tak terelakan untuk dipindahtangankan karena tumbuh persis di tempat hendak dibangun tembok pagar rumah.  Perindahan tangan itupun tujuannya untuk menyelamatkannya karena ia lebih produktif, sudah berkali-kali berbuah dan berakhir di mesin blender menjadi minuman segara dalam bentuk jus sirsak yang sehat. Ia diadopsi oleh adikku dan berpindah menjadi penghuni halaman adikku. Dengan demikian, iapun semakin mendapat tempat yang memadai untuk tumbuh subur karena halaman yang luas. Namun, tahun ini (2017) adikku memutuskan membangun kembali rumahnya. Saudara sirsakku inipun harus “dimatikan”. Sepertinya, tidak ada pilihan lain yang dimiliki adikku untuk mempertahankannya. Iapun sudah sangat rindang dan besar untuk berpindah tempat, tidak seperti ketika ia dipindahkan dari halamanku dengan postur yang masih memungkinkan berpindah meski sudah berbuah. Kalaupun dipindahkan, mungkin ia akan mati juga. Dan kemana memindahkan pohon sirsak sebesar itu (sayang sekali, aku tidak punya foto terakhirnya).

Ya, begitulah nasib saudara si sirsak yang awalnya harus dilakukan misi penyelamatan, diadopsi oleh adikku. Pada akhirnya, harus ditebang karena tidak ada pilihan lain dari si tukang pekerja rumah. Begitu pula  setiap kehidupan, terkadang memang sesuatu harus berakhir tidak sesuai dengan harapan. Orang sering menyebutnya kegagalan. Kalaupun suatu produk kegagalan dibiarkan, ia akan memunculkan sesuatu yang dianggap keanehan. Berandai-andai, saudara pohon pohon sirsakku ini  adalah manusia, mungkin ia seperti manusia yang kita kenal sehat dan bahagia hidupnya, tiba-tiba harus “dimatikan” karena tidak ada pilihan lain, dan itulah pilihannya (jadi ingat pada eksekusi mati napi narkoba, meski kejauhan nih analoginya). Setiap satu siklus kehidupan akan hilang, dan meninggalkan siklus kehidupan (baru) yang lain. Semoga saja, masih ada sedikit ruang di halaman rumah adikku untuk menyokong siklus kehidupan lain dari pohon sirsak yang lain pula.

Tentang Sirsak, the “Survivor” ini, aku pernah mengabadikannya di laman FBku pada tahun 2014. Namun, tidak ada cerita tentang ia yang pada akhirnya berbuah sampai ranum juga seperti yang kutulis di atas karena momen langka ini terjadi setahun kemudian (2015). Beginilah narasiku sebagai caption foto Pohon Sirsakku di atas. Ini tentangnya saat itu yang kurang lebih sama dengan yang kutulis saat ini: 

Sirsak “surivor”,  tumbuh dg sedikit sinar matahari karena tumbuh dibalik tembok samping rumahku. Tetapi ia selalu bertahan di segala musim. Bahkan di musim berbuah ia memaksakan diri mengikuti proses alami tersebut namun di banyak masa ia hanya terhenti pada proses mekarnya bunga. Pernah sekali berbuah sampai tiga dengan fisik yg kerdil, tetap saja tak sampai ranum lalu terjatuh ke halaman yang tertutup cor semen padat. Jadinya, tak pernah sekalipun merasakan jus sirsak segar dari pohon satu ini. Padahal, sodara sebantarannya juga sangat produktif berbuah tak kenal musim. Ia beruntung tumbuh disisi lain rumahku yg terpapar sinar matahari lebih. Namun sekitar empat tahun lalu, ketika ia sudah beberapa kali kupanen, wilayah tumbuhnya tergusur sketsa rumah yg sudah berbentuk kini. Iapun harus dicabut diusia produktif, dan kami mengambil kebijakan untuk memindahkannya ke halaman rumah adikkuJohanna Sumiati yg masih sangat luas. Alhasil, ia semakin produktif dan rimbun daunnya. Sesekali dapat bagi hasil buahnya, sempat beberapa kali berakhir di gelas jus, bahkan buahnyapun sempat dibagi ke rekan kerja adikku. Sungguh kontras dg kondisi sodaranya yg di rumahku yg kadang juga harus mencium bau detergen dan pewangi pakaian tetangga yang terlebih dahulu membangun tembok bersisian dgn tumbuhnya sirsakku. Beberapa kali kami harus nemotong pohonnya yg terlalu tinggi dan merambah ke rumah tetangga. Namun sirsak "survivor" ini sungguh dahsyat, berkali2 ia membantu menurunkan kadar asam urat suamiku. Berkali2 pula tetangga minta memetik daunnya u/ beberapa macam penyakit atsu sekedar melembutkan daging saat dimasak. Aku jg beberapa kali merebus dan meminum daunnya u/ kesehatan. Banyak jasanya!

Sabtu, 03 Juni 2017

Catatan yang tertunda: Menembus Subuh di Keraton Kusuma Negara

Foto: Tanto Yakobus
Pukul 03.40. a.m.. saya dan rombongan Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure 2017 tiba di Keraton Kusuma Negara Bumi Lawang Kuari, Kabupaten Sekadau. Subuh-subuh seakan mendapat tantangan untuk "snacking with no worry" (kayak tagline iklan ya ..). Bagaimana tidak,  dikategorikan snack tapi berat!, lihat saja kotakan itu, isinya tiga macam kue asin-manis, ada kopi (yang ini aromanya betul-betul membuat melek paripurna, he, he...) dan teh di gelas, durian serta langsat. Inilah suguhan dari Keraton Kusuma Negara. Kami disambut oleh pengurus Keraton, Abang Junaedy. Seyogyanya, menu ini kami santap sebagai menu pembuka di sore hari menjelang makan malam di Youth Centre. Akan tetapi, karena keterlambatan, menu pembuka atau pengantar makan malam menjadi menu sarapan pagi yang keawalan.

Berikutnya adalah main course (menu utama) untuk sarapan pagi kami yang keawalan (karena seperti yang saya sampaikan sebelumnya, seharusnya ini makan malam tadi malam) di Betang Youth Centre ditemani sajian musik dan tarian tiga etnis dengan tuan rumah Bupati Sekadau, Rufinus dan Bapak Dandim (namanya saya lupa).

Ya, itu adalah kedatangan yang tertunda di Sekadau, seharusnya kami merpata di Sekadau menjelang senjha. Namun, beberapa faktor seperti starting yang kelamaan karena agenda pelepasan di Lanjak yang begitu padat, debit air sungai Lanjak yang kecil/dangkal membuat kami harus dilansir dengan gandengan motor bandong kecil dan speed menuju motor bandong besar yang akan kami gunakan, ditambah dengan tiga kali kesasar ndi area Danau Sentarum, membuat perjalanan yang semestinya dua jam menjadi  lima jam. Kamipun tidak bisa menikmati sun set di Danau Sentarum karena sudah malam. Kami tiba di motor Bandong besar menjelang tengah malam untuk memulai perjalanan menyusuri Sungai Kapuas, diawali dengan makan malam pertama di Motor Bandong yang sudah disediakan Chef yang sudah terlebih dahulu berada di sana mendahului kami untuk menyiapkan makanan. Ini berdampak terhadap penundaan jadwal berikutnya di Sintang, Sekadau, Sanggau (Tayan) dan Kubu Raya. Di tambah lagi, hujan badai di perjalanan Sintang - Sekadau membuat kami harus merapat ke daratan sekitar 50 menit dikarenakan terbatasnya jarak pandang motoris dan angin yang sangat kencang.

Ya, namanya juga petualangan. Saya tidak mendapati satupun wajah letih para peserta rombongan. Mereka terlihat menikmati perjalanan.

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...