Sabtu, 03 Juni 2017

Catatan yang tertunda: Menembus Subuh di Keraton Kusuma Negara

Foto: Tanto Yakobus
Pukul 03.40. a.m.. saya dan rombongan Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure 2017 tiba di Keraton Kusuma Negara Bumi Lawang Kuari, Kabupaten Sekadau. Subuh-subuh seakan mendapat tantangan untuk "snacking with no worry" (kayak tagline iklan ya ..). Bagaimana tidak,  dikategorikan snack tapi berat!, lihat saja kotakan itu, isinya tiga macam kue asin-manis, ada kopi (yang ini aromanya betul-betul membuat melek paripurna, he, he...) dan teh di gelas, durian serta langsat. Inilah suguhan dari Keraton Kusuma Negara. Kami disambut oleh pengurus Keraton, Abang Junaedy. Seyogyanya, menu ini kami santap sebagai menu pembuka di sore hari menjelang makan malam di Youth Centre. Akan tetapi, karena keterlambatan, menu pembuka atau pengantar makan malam menjadi menu sarapan pagi yang keawalan.

Berikutnya adalah main course (menu utama) untuk sarapan pagi kami yang keawalan (karena seperti yang saya sampaikan sebelumnya, seharusnya ini makan malam tadi malam) di Betang Youth Centre ditemani sajian musik dan tarian tiga etnis dengan tuan rumah Bupati Sekadau, Rufinus dan Bapak Dandim (namanya saya lupa).

Ya, itu adalah kedatangan yang tertunda di Sekadau, seharusnya kami merpata di Sekadau menjelang senjha. Namun, beberapa faktor seperti starting yang kelamaan karena agenda pelepasan di Lanjak yang begitu padat, debit air sungai Lanjak yang kecil/dangkal membuat kami harus dilansir dengan gandengan motor bandong kecil dan speed menuju motor bandong besar yang akan kami gunakan, ditambah dengan tiga kali kesasar ndi area Danau Sentarum, membuat perjalanan yang semestinya dua jam menjadi  lima jam. Kamipun tidak bisa menikmati sun set di Danau Sentarum karena sudah malam. Kami tiba di motor Bandong besar menjelang tengah malam untuk memulai perjalanan menyusuri Sungai Kapuas, diawali dengan makan malam pertama di Motor Bandong yang sudah disediakan Chef yang sudah terlebih dahulu berada di sana mendahului kami untuk menyiapkan makanan. Ini berdampak terhadap penundaan jadwal berikutnya di Sintang, Sekadau, Sanggau (Tayan) dan Kubu Raya. Di tambah lagi, hujan badai di perjalanan Sintang - Sekadau membuat kami harus merapat ke daratan sekitar 50 menit dikarenakan terbatasnya jarak pandang motoris dan angin yang sangat kencang.

Ya, namanya juga petualangan. Saya tidak mendapati satupun wajah letih para peserta rombongan. Mereka terlihat menikmati perjalanan.

Selasa, 25 April 2017

Mengingat Kembali Kelompok Perempuan Adat "Perompu Natai Sanggo"


Sudah empat tahun lewat tapi entahlah apakah kelompok "Perompu Natai Sanggo" masih ada dan konsisten?!. Atau, bahkan tinggal nama karena memang lebih gampang membangun sesuatu tapi tidak gampang mempertahankan sesuatu yang telah dibangun itu dengan banyaknya dinamika yang dihadapi. Facebook mengingatkanku tentang perjalanan ke Sungai Garong, sebuah kampung di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Dan, empat tahun yang lalu, aku membuat catatan ini di facebookku. Sebenarnya, aku ingin bertanya kepada kawan-kawan yang memfasilitasi Kempung ini terkait pertanyaanku tentang konsistensi di atas. Sebuah realita bahwa kerap dalam banyak situasi, ketika katakanlah ketika ada pihak seperti NGO mengorganisir dna memfasilitasi berdirinya kelompok (kelompok apapun itu), yang diorganisir begitu bersemangat, banyak sekali gagasan yang seakan mendesak untuk dikongkritkan. Tetapi, sebaliknya ketika Sang Fasilitator "pergi", semangat itupun tinggal sementara, apalagi tidak ada jaminan keberlanjutan suatu program seperti itu yang mengandalkan bantuan donor dan kemandirian dalam masyarakat belum terbentuk.

Aku merasa perlu untuk memanggil kembali ingatan melalui tulisan ketika itu:

Adakalanya seseorang atau komunitas memaksa diri tinggal dalam situasi dan kondisi tertentu dengan dalih tak ada pilihan, padahal hanya tidak berani memilih dan tidak siap dengan konsekwensinya. Saya menemukan keberanian mengambil pilihan yang ekstrim dari kelompok perempuan di Sungai Garong yang beberapa waktu lalu saya fasilitasi bersama dengan dua orang teman perempuan saya (ini sekaligus reunian staff dan mantan staff dari lembaga yang pernah menjadi tempat kami berkarya). Keberanian ibu-ibu ini adalah berhasil membawa warga lain yang sebagian besar adalah laki-laki, untuk mengubah sebuah kesepakatan yang sudah sangat lama mereka buat terkait dengan hewan ternak. Kesepakatan ini ternyata berdampak tidak hanya oada lingkungan yang kotor (karena kotoran ternak tersebar dimana-mana) dan kesehatan (kotoran hewan jika terinjak atau tersentuh dalam keadaan luka bisa menyebabkan tetanus) tetapi juga terhadap akses dan kontrol perempuan atas sumber pangan seperti sayur mayur (tidak bisa berkebun atau menanam di pekarangan karena akan dimakan ternak (sapi, babi dan ayam). Sebagian besar warga bersikukuh untuk tidak mengandangkan ternak dengan dsar kesepakatan yang intinya "bukan salah ternak jika tanaman dimakan", sehingga warga harus berkebun-bertanam jauh dari pemukiman. Melihat keteguhan sebagian besar warga ini (sebagian besar laki-laki), sembilan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok "Perompu Natai Sanggo" bertekad menambah rutinitas mereka sehari-hari yakni mengumpulkan kotoran ternak yang berceceran di sore hari ke suatu tempat untuk kemudian diolah menjadi kompos. Pilihan ekstrim ibu-ibu kemudian menjadi salah satu pertimbangan warga yang kekeuh tadi untuk mengubah kesepakatan yakni mulai secara bersama-sama mengandangkan ternak. Konsekwensi dari perubahan kesepakatan ini adalah adanya tambahan rutinitas seperti rutin memberi makan ternak yang biasanya mencari makan sendiri serta membersihkan kandang. 

Jika tulisan ini dibayangkan visualisasinya, pasti keren sekali khan ... tapi ya itu, balik ke pertanyaan di atas. Sepertinya, suatu saat aku mesti kembali ke sana. Pergi ke ladang bersama ibu-ibu di sana, melihat kelanjutan kebun yang kami cangkul bersama (meskipun saya mencangkul sebentar saja, biar difoto keren), mandi di riam bersama mereka, dan menyaksikan rutinitas mereka yang kesemuanya itu dalam prosesnya selalu menyelipkan perbincangan-perbincangan tentang realitas, harapan, dan gagasan mereka. Bahwa sebetulnyanya mereka memerlukan penguatan terus menerus.

Selasa, 21 Februari 2017

Oleh-oleh Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure 2017

To be noticed ya, saya bukanlah fotografer professional. Foto-foto ini semuanya saya ambil tanpa beban teori-teori fotografi yang baik dan benar. Hanya suka-suka dan tujuannya pun untuk berbagi informasi. Sayang sekali melewatkan beberapa hal yang bisa jadi unil bagi orang tertentu. Semua foto saya abadikan dengan Kamera Canon EOS 60D, lensa makro 100mm (saya salah bawa lensa, kaena terburu-buru, baru nyadar setelah mau dipake take landscape), dengan format RAW baru kemudian saya lakukan editing minimalis dengan hasil akhir dalam format Jpg. Meskipun saya bukan fotografer professional, tapi saya seorang pembelajar, jadi komentar dan masukan sangat diterima. Boleh saja menggunakan foto-foto ini tentu dengan mencantumkan sumbernya atau credit photonya. Foto-foto ini juga bisa dilihat di Instagram saya @ruaimana.


Lemang/Pulut Pansuh
Lemang atau Pulut Pansuh dalam bahasa Ibuku terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan bambu jenis tertentu dengan ditambahkan santan kelapa kemudian dipanggang dia api. Di kampung, ini menjadi sajian wajib pesta atau gawai. Di Kota Pontianak, ini banyak dijumpai saat puasa Ramadhan menjadi Ta'jil berbuka. Sajian di foto ini aku jumpai di Rumah Panjang Sumpak Sengkuang, persinggahan pertama sebelum kami memulai "Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure 2017" bersama dengan 60 wisatawan dari Malaysia dan Brunei yang ditandai dengan acara pelepasan rombongan oleh Bupati Kapuas Hulu, AM. Nasir, SH. Petualangan menyusuri Danau Sentarum dan Sungai Kapuas menggunakan motor Bandong berkapasitas 10 ton ini diorganisir oleh Komunitas Pecinta Alam dan Budaya Kapuas Hulu. Kesempatan ini digunakan olej RuaiTV untuk memproduksi Galeri Khatulistiwa Spesial, berdurasi 30 menit yang tayang setiap Rabu malam pukul 19.30 - 20.00 WIB, dan ditayangkan dalam empay episode.


Lepat Singkong/Lulun Bandung
Lepat Singkong, ya itu, singkong diparut, dilumuri kelapa parut dan gula merah lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Jadi deh. Panganan ini sering tidak susah dijumpai. Kalau aku, seringnya membeli di Ace Kue penjual kue keliling langganan saya sejak belasan tahun lalu.







Amplang
Amplang atau kerupuk ikan. Pertama kalinya, aku tahu bahwa ini makanan khas Ketapang. Tapi, ini bisa dijumpai di banyak tempat utamanya daerah penghasil ikan sungai. Selain di Kalimantan Barat (utamanya di Kapuas Hulu dan Ketapang), ini juga bisa dijumpai di beberapa tempat di Kalimantan Tengah, seperti di Kota Palangkaraya.







The Unknown - menyerupai rambutan kecil
Buah apakah ini?. Bahkan saya sendiri tidak tahu. Mungkin bahkan yang menanamnya sekalipun tidak tahu. AKu menemukannya saat tergesa-gesa setelah melihat-lihat koleksian tenun ikat dan produk kerajinan lainnya di Gallery Kobus Centre Sintang. Buah ini berasal dari tanaman merambat yang menjalar di tangga naik pada jalan masuk menuju galeri. Sepertinya, seperti ini tidak bisa dikonsumi karena aku melihat begitu banyak buah utuh, padahal tidak terelak dari jangkaun. Pun, tidak terlihat sampah kulitnya di sekitar. Ia hanya tanaman hias.







Kote 
Kote, panganan terbuat dari tepung ketan, diisi dengan serundeng sebagai inti, dimakan dengan menggunakan kuah santan putih. Makanan khas sajian Raja dan Ratu Sanggau di Keratonnya pada persinggahan berikutnya rombongan Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure setelah dari Sintang. 






Sungkui
Sungkui, nasi lontong yang dibungkus dengan daun "lirik", disajikan oleh Raja dan Ratu di Keraton Sanggau bersama dengan Kote. Jika Kote adalah menu hidangan pembuka, maka Sungkui ini adalah menu utama. Oleh karena itu, Sungkui dimakan dengan lauk-pauk seperti opor ayam dan sayur mayur. Ini mengingatkan pada "Lontong Sayur".






Menyulam Kain Part I
Tahu kami mengamatinya dan mulai mengarahkan lensa kamera, pemuda ini terus menyulam di atas kain panjang berwarna hitam dengan benang silver. Entahlah apakah ia terus menyulam begitu kami pergi?!. Ngedangdut dulu yuk, "...untuk apa sih, benang silver kau sulam di kain yang hitam?!."







Menyulam Kain Part II
Jari jemari tangan kanan-kiri saling bekerjasama, kanan di atas dan kiri (tidak kelihatan) menyambut jarum dan benang di bawah untuk dikembalikan ke atas membuat jalinan benang membentuk pola tertentu. Ya, menyulam!. Seorang perempuan manis berkerudung (lupa warna kerudungnya) sedang menyulam benang silver di atas kain merah yang sudah digambar pola.





Cendol Tepung Ketan
Cendol, Kolak  apa Bubur ya?. Whatever. Yang jelas, ini adalah welcoming beverages yang disajikan untuk kami di Dekranasda Sanggau disela-sela kami melihat-lihat aktifitas menyulam yang ditampilkan dan juga melihat-membeli (ini khusus para turisnya) berbagai produk kerajinan dari bahan rotan, kayu dan tanah. Dan, saya kaplingannya melihat dan interview saja, gak beli-beli. Ibu Bupati Sanggau menyambut kami dengan baik sebagai tuan rumah, selain menjelaskan produk-produk koleksi mereka, ia juga memperkenalkan dengan minuman ini. Rasanya seperti rasa kolak karena disajikan dengan santan kental dan gula merah dengan tambahan sedikit garam. Rasa cendol juga, karna memang cetakannya menggunakan cetakan cendol tapi bahan dasarnya dari tepung beras ketan bukan dari tepung sagu atau kanji yang menjadi bahan dasar cendol (dawet).



Pagoda Vihara Tri Dharma Sukalanting
Pagoda bertingkat lima di depan Klenteng Tua, Vihara Tri Dharma, Sukalantig-Kubu Raya ini jika
Sayang sekali, hanya dapat mengabadikan pagodanya saja, sementara bangunan klentengnya sendiri merupakan salah satu bangungan tua peninggalan bersejarah.














Piring Rotan
Is this what we call back to nature?.















Mi Sagu
Disebut Mi Sagu karena terbuat dari tepung sagu. Disajikan dengan kacang tanah goreng, ikan teri goreng, bawang goreng dan taburan daun bawang dan daun seledri. Jangan lupa kerupuk tempenya ya guys!. Di Pontianak, MI Sagu biasanya dijual di warung juadah bersama dengan ta'jil menjadi menu berbuka puasa di Bulan Ramadhan. Yang ini, ia menjadi sajian makan pagi kami di Vihara Tri Dharma Sukalanting-Kubu Raya saat ngetrip bareng dalam "Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure 2017".



Lampion Kafe GK - Ngopi Yuuuukk
Kota Pontianak merupakan perhentian terakhir rombongan Danau Sentarum Kapuas River Cruise Adventure 2017. Ini masih dalam momen perayaan Imlek, sehingga kami bisa menyaksikan Kota Pontianak yang masih berdandan. Ya, salah satu asesoris wajib di moment Imlek adalah lampion, dan diantara berbagai macam jenis lampion, yang seperti di gambar ini salah satu yang saya sukai karena modelnya yang sangat sederhana namun elegan.

The hung lanterns - need acceptance of the differ to fly these lanterns where we stand for hopes, not the sole one but the hopes of every human with their own colors. 


Pam atau Emping Ketan Kiriman Emak






Musim Pam Tiba. Musim menandai panen akan tiba. Pam adalah bulir-bulir padi yang masih muda, kulitnya maish berwarna hijau bergradasi kekuningan. Proses pembuatannya lumayan rumit, padi ketan disangrai sampai kering dan beraroma khas, lalu ditumbuk sambil diaduk di dalam lesung dengan sutil atau kayu panjang. Sedikitnya, perlu dua orang dalam proses ini, yakni penumbuk dan tukang aduk. Saat ini, ada juga yang melakukan penggilingan dengan kisar terlebih dahulu setelah disangrai, baru kemudian ditumbuk. Biasanya, proses penumbukan tetap menyisakan padi yang masih utuh (antah) sehingga tetap perlu dipilih dan dipilah atau dipisahkan sebagai tahap akhir proses. Terakhir, ya dimakan. Untuk yang fresh (baru habis ditumbuk), enaknya dimakan “original” tanpa campuran apa-apa, utamanya Pam dari padi ketan yang cukup muda, bentuknya gepeng dengan tekstur lembut  dan aromanya wangi. Pilihan sajian lainnya adalah dengan cara dicampur kelapa muda parut yang dikukus terlebih dahulu (biar tahan lama) dengan tambahan gula merah atau gula pasir. Yummmmy betuuuuul. 

Sudah kebayang khan rumitnya. Ini belum tahapan awalnya, yaitu tentu saja tahapan membuka ladang. Karena, musim Pam ini menjadi bagian penting dalam siklus perladangan, mulai dari membuka lahan, membakar, menugal-menanam sampai panen tiba. Saking rumitnya proses membuat Pam, sering diungkapkan sebuah adagium bahwa seorang anak gadis ataupun anak lelaki belumlah bisa dikatakan dewasa jikalau belum bisa dan mampu menumbuk Pam. Tentu saja itu sangat kontekstual di pedesaan atau kampung yang komunitasnya masih mempertahankan tradisi berladang atau bersawah. Untuk komunitas yang masih berladang sekalipun, musim Pam ini dilewatkan saja (tidak membuat Pam) jika diprediksi hasil pananen tidak surplus ataupun mencukupi. Mereka memilih membiarkan dan menunggu sampai padi ketan matang untuk dipanen dan dijadikan beras.

Minggu, 08 Januari 2017

Tentang Pulang dan Rumah

Aku mulai begitu memaknai kata pulang ketika pertama kali aku pulang dari kantor ke rumah, meskipun hanya rumah kontrakan. Itu tahun 2001. Sebelumnya, kata pulang lebih kepada kata perintah dari ayah-ibuku ketika kami , anak-anak mereka masih kecil dan asyik bermain di kebun dan hutan sekitar rumah sampai lupa istirahat dan tidur siang (waktu itu yang aku ingat hanya kami berempat atau berlima bersaudara). Di masa itu kata pulang bisa berarti berhenti bermain, mulai membantu bekerja. Bisa juga berarti berhenti bermain, tapi tidur sianglah. Yang paling berat ketika kata pulang pada masa mulai masuk Sekolah Dasar, khususnya pulang kampung, dimana itu artinya hanya sekali dalam setahun pada saat libur panjang di bulan Juni dengan durasi hanya seminggu. Itu juga artinya tujuh hari atau seminggu dalam setahun bisa berjumpa denga Ibuku, dan biasanya selalu dibarengi dengan perkenalan dengan adik baru (lha iya ... aku masuk SD umur 6 tahun. Ibuku melahirkan setiap tahun. Setiap setahun pertambahan usiaku sama dengan bertambah satu adik kandung). Perjumpaan dengan Bapak juga tidak begitu sering tetapi jauh lebih sering dari perjumpaan dengan Ibuku, setidaknya dua atau tiga minggu sekali sampai sebulan sekali ketika ia turun menjual karet dan belanja. Itupun paling lama hanya semalam dan lebih banyaknya pulang hari (datang pagi, pulang sore atau datang sore, pulang pagi-pagi sekali esok harinya setelah sarapan pagi).

Mengapa kata "pulang" selalu menjadi sesuatu yang mengganjal?. Sesungguhnya, aku tidak pernah benar-benar pulang, tetapi terus berjalan, berjalan dan berjalan sampai pada suatu ketika aku begitu haru mengucapkan kata itu. Bagaimana tidak, ketika masuk SD, pulang dari sekolah artinya aku pulang ke rumah nenek-kakekku, bukan ke rumah bapak-ibuku yang jaraknya satu sampai dua jam perjalanan kaki menyusuri hutan yang masih lebat kala itu. Apakah itu pulang?. Ketika SMP sampai SMA, pulang dari sekolah artinya aku pulang ke rumah om-tanteku tempat aku menumpang selama masa pendidikan menengahku. Yang artinya aku harus siap melakukan banyak pekerjaan (karena menumpang di rumah orang meskipun masih keluarga, artinya harus siap mambantu melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh tiga orang sepupuku waktu itu). Apakah nyaman menyebut kata pulang?. Usai melewati enam tahun pendidikan menengah, akupun tidak pernah bisa memaknai kata pulang. Aku memasuki perguruan tinggi dengan kembali menumpang pada rumah saudara tanteku yang begitu baik selama satu setengah semester atau satu tahun setengah, kemudian tinggal sendirian menunggui rumah omku di Pontianak yang aku tidak jelas berapa lama, kemudian berlanjut tinggal bersama dengan kakakku setelah ia menikah di Jeruju dan kembali lagi tinggal di rumah om, bersama dengan mereka dan nenek serta satu orang adikku yang mereka bawa dari Sintang dengan status menumpang kuliah (setelah mereka pindah dari Sintang ke Pontianak). Ini tidak berlangsung lama, karna aku memutuskan kuliah sambil bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah. Aku memutuskan mengontrak rumah di dekat kantorku dan jadilah aku menjalani hidup sebagai seorang aktivis sebuah gerakan sosial paling populer kala itu di Kalimantan Barat sekaligus menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa semester akhir yang begitu panjang dan lama. Aku tidak bercerita tentang masa-masa kuiliah tapi kembali ke makna pulang. Bahwa, ketika mengontrak rumah dengan jerih payahku sendirilah, aku begitu memaknai kata pulang. Ketika aku menyelesaikan pekerjaan di kantor atau pulang dari lapangan, aku benar-benar pulang ke "rumah" (kontrakan). Ketika aku pergi ke kampus untuk mengurusi skripsi atau bertemu dosen pembimbing, aku dengan senang hati berteriak kepada kawan-kawanku, "aku pulang dulu, ya!". "Mainlah ke rumahku!."

Ya, aku benar-benar menikmati kata pulang, meskipun aku juga banyak menghabiskan waktu di kantor. Tinggal sendirian di rumah kontrakan membuatku juga tidak terlalu nyaman sehingga suatu hari aku memutuskan mengajak serta adikku. Tetap saja aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, lebih banyaknya tidur di kantor. Tapi, bukan berarti aku tidak lagi memaknai kata pulang itu. Aku masih senang mengatakannya ketika aku ingin pulang ke rumah kontrakan. Persoalannya, aku mulai tidak bisa memisahkan konsep pulang ke rumah, pulang ke kantor karena rumah kadang menjadi seperti kantor bagiku dan sebaliknya kantor kadang seperti rumah bagiku dimana aku bisa makan kapan dan dimanapun aku mau, menyeduh berapa gelaspun kopi yang kumau. Toh, di rumah ada adikku yang menempatinya.

Pulang begitu lekat dengan rumah (tinggal). Apapun itu, tergantung bagaimana memaknainya. Aku semestinya sudah sangat terbiasa memaknai kata pulang tanpa melihat status sebuah rumah tinggal atau tempat tinggal. Kemampuan mencari kenyamanan dan kepuasaan sendirilah sebetulnya yang menentukan apa makna yang diberikan. Dulu, pulang berarti aku bisa berkumpul dengan adik-adikku (yang pada prosesnya, aku tidak hanya tinggal berdua saja tapi berempat dengan tiga orang adikku), bisa berkumpul dengan teman-temanku. Dimana, tidak begitu penting biarpun di rumah kontrakanku dan terkadang titik kumpul justeru di rumah temanku. Saat ini, pulang bearti,berkumpul dengan keluargaku; para kurcaciku dan si Bapak. Bedanya, bukan lagi rumah kontrakan tapi rumah sendiri yang dibangun dengan jerih payah dan kecintaan untuk bisa membesarkan anak-anak dengan tidak harus berpindah-pindah mencari rumah kontrakan ketika habis masanya dan harus selalu siap menghadapi kenaikan uang sewa setiap tahunnya.

Seiring berjalannya waktu, aku tidak lagi sibuk memaknai kata pulang dan prosesnya tetapi lebih melihat esensi dari rumah. Rumahpun bukan sekadar bangunan fisik tempat tinggal tetapi pusat komunikasi, pendidikan, mencurahkan perhatian dan kasih sayang serta menemukan dan melakukan hal-hal baru bersama sebagai bentuk mewadahi kreatifitas setiap orang di dalam rumah. Akupun mulai menanamkan sedini mungkin konsep pulang dan rumah kepada anak-anak agar mereka tidak gamang seperti aku dulu ketika mencari makna kata pulang dan menemukan konsep rumah sampai aku merasa bahwa aku tak ubahnya seperti pengembara yang tidak tahu dimana perhentian akhir. Aku ingin anak-anakku merasa aman-nyaman dan bahagia di dalam rumah sehingga dimanapun dan kemanapun mereka kelak mereka tahu jalan pulang. Pulang yang sesungguhnya adalah ketika kita dinyatakan “selesai” dalam pengembaraan di dunia ini. Benar, hidup ini adalah pengembaraan. Rumah sejati ternyata bukanlah di dunia ini. Karenanya, sebagus apapun dan berapapun rumah di setiap jengkal tanah di dunia ini, tidaklah abadi. Kapanpun kita bisa kehilangannya. Aku memahami bahwa apa yang kusebut sebagai kenyamanan dan kebahagiaan sendiri itu lekang oleh waktu karena sifat manusiawi manusia. Semakin dalam aku memaknai kata pulang dan rumah bukan sekedar tubuh dan jiwa di suatu tempat dimuka bumi ini, adalah ketika satu persatu anggota keluarga, sahabat dan orang-orang yang kukenal berpulang. Mereka benar-benar pulang. Dan, akupun akan benar-benar pulang. Apa yang harus aku analisis lagi tentang proses ynag  kujalani selama ini. Kesimpulan, aku masih mengembara, menelusuri jalan pulang yang aku tidak tahu dimana perhentian terakhir. Mari menyiapkan jalan pulang yang indah dengan bahagia. 


Rabu, 23 November 2016

Titik Perspektif

Lama aku tidak beranjak dari rutinitas wajib dan menjalani pekerjaan yang lebih kuanggap seperti keisenganku yang lain karena ternyata tidak cocok kusebut sebagai hobby. Kenyataannya, sudah berlalu setingkat satu tahapan sekolah tingkat lanjut bahkan lebih (baca: lebih dari tiga tahun). 

Dua hari ini, mencoba bergeser sedikit dari titik yang selalu menjadi tempat yang sama dalam waktu hampir satu tahun, hanya satu titik hingga aku seakan tidak memiliki perspektif lain. Bergeser, bukan membangun perspektif baru tapi menjejaki kembali mungkin pada titik yang sama seperti yang sudah-sudah. Mungkin juga menghadirkan objek baru meski dari perspektif dan titik yang sama. 
Bingung ya. Akhir-akhir ini aku memang sedang hanya ingin membuat orang lain berpikir, berpikir dan berpikir. Memikirkan yang tidak berat, tapi bermain kata-kata karena sesungguhnya, apapun yang ada dimuka bumi ini begitu bebas untuk kita terjemahkan. Kekuatan kata-katalah yang mampu melakukan semua itu dan keinginan untuk melihat dari berbagai sudut yang berbeda (yakni perspektif) sangat diperlukan. 
Sudah dua hari aku di Bogor mengikuti sebuah Kongres sebagai salah satu bentuk kewajibanku dalam sebuah perkumpulan. Semuanya terlihat sama dan berulang-ulang. Ibarat film, saat ini aku sedang bermain peran untuk film yang sama dalam sekuel yang beda, aktor-aktirs yang sama dengan pembedaan di model fashion dan setting (latar) baru. 

Di hari pertama, aku tertarik pada objek yang penderita di ruangan pertemuan, yakni bunga segar yang menjadi pajangan di atas meja. Yah, namanya juga pajangan, siap2 dibuang kl tak menarik lagi dilihat dan digantikan dengan yang baru. Hush, bukan kamu. Maksudnya bunga ini. Pajangan pemanis meja peserta Konferensi Ekosistem Gambut utk Keselamatan & Kesejahteraan Rakyat. Yah, sebelum ia dibuang pelayan hotel dan diganti dengan yang baru. 

Intinya, tidak ada yang benar-benar tak tergantikan di muka bumi ini. Kecuali kamu di hatiku. Inilah celotehan sekaligus bentuk perspektif berbedaku di atas sibuknya orang-orang bicara asap, kebakaran lahan, gambut dan penegakan hukum. Ada waktu bertanya, tapi kuenggan, pertanyaan itu berhenti pada catatan kecilku saja. Aku bergumama, "aku malas bertanya, bertanya itu pekerjaanku, sementara aku ingin libur dari pekerjaan dan hanya ingin menjalankan kewajiban yang lain." Berakhirlah cerita dan jepretan ponselku dengan objek bunga di salah satu sosmed yang kuikuti. Ada komentar, tapi aku yakin tidak ada yang tersakiti. Inipun hanya pajangan. JIka ingin menterjemahkannya berbeda, tentu sangat mungkin ketimbang menyamakan persepsi, yang bisa-bisa bablas seperti "ngekor", gak kreatif, dan ada versi lebih parahnya lagi bahkan bisa berbuntut perkara, yakni jika plagiat. Jangan sampai. 


Red Zenia dan White Krysan
Foto diambil olehku dengan HP sendiri

Bunga disediakan oleh pelayan hotel sebagai fasilitas pertemuan. 

Lokasi Foto di IPB Convention Center, persisnya di meja bundar tempat aku dan peserta lainnya. 

Coretan disosmed kupublished di IPB Convention Hotel, sedangkan;
Tulisan ini kubuat untuk mengundang kantuk di hotel Padjajaran Suits (aku selalu susah tidur di tempat baru di awal kedatangan).


Selamat malam pengagum hal-hal yang unik, anti-mainstream dan pengagum kata-kata. 

Rabu, 16 November 2016

Egoisnya Orang Dewasa



Pernah ada yang mengatakan bahwa orang dewasa adalah anak-anak dalam ukuran lebih besar. Apakah bisa sebaliknya, mungkin dalam konteks kelakuan, oleh karenanya kerap kita dengar orang dewasa yang kekanak-kekanakan. Tapi dalam hal pengetahuan dan pengalaman tentu tidak bisa dilihat sebaliknya seperti itu. Orang dewasa pernah melewati masa kanak-kanak dan tidak sebaliknya, anak-anak belum pernah dan tidak mengetahui seperti apa menjadi dewasa, tetapi mereka akan melewati proses dari anak menjadi dewasa. Sehingga, bagi anak-anak segala sesuatu baru berhubungan dengan segala sesuatu yang mereka alami dengan panca indera mereka. Segala sesuatu akan mereka pelajari, dan orang dewasalah gurunya. Bagaimana caranya?.

Anak-anak merekam sangat baik apa yang mereka lihat dan dengar, sekaligus mereka akan menirukannya dengan sangat baik. Sengaja saya memasang foto ini, untuk mengingatkan diri saya dan orang-orang dewasa lainnya untuk memastikan apa yang mereka lihat dan dengar saat ini tidak akan menjadikan mereka kelak sebagai orang dewasa yang rasis, benci orang yang berbeda dengannya, mengadu domba, membenarkan kezaliman atas apa yang ia anggap benar dan diam bahkan tertawa dan mengambil keuntungan di atas kemalangan saudara-saudaranya.
Image result for Kartun KEbencian
Eddy P. Anggono on Twitter

Tapi, orang dewasa begitu egois. Lihatlah spanduk-spanduk bertuliskan kebencian dan foto-foto berekspresikan kemarahana di jalanan yang tidak mungkin anak-anak kita tutup matanya agar tidak melihat. Beberapa waktu lalu seorang teman yang tinggal di Jakarta menyuarakan kekhawatiran terkait ini dalam status FB-nya. Bagaimana perasaan dan pikiran anak-anak menyaksikan ini?. Lihatlah media mainstream yang dengan keberimbangan informasinya sekalipun perlu kerja keras orang dewasa menjelaskannya. Tulisan headline berita terkadang memikirkan "ear-catching dan eye-catching" versinya orang dewasa, padahal byk pembaca dan penonton anak. Itu baru headline, belum isinya yang saling mengumpat kadang berbungkus analisis ilmiah para pakar, tapi tetap saja ketahuan mengumpat.

Iya, ujaran kebencian berseliweran dimana-mana, di ruang publik sekalipun. Sosial media juga sudah menjadi corong yang lantang sekaligus ruang bergema dari suara-suara orang dewasa saling mengutuk berbasis perbedaan yang sayangnya masih berkutat pada isu rasisme, di negeri yang pluralisme suku, agama, ras dan antar golonganya tidak bisa ditolak. Mayoritas versus minoritas, superior versus inferior, besar versus kecil, begitulah kondisinya. Secara posisi, begitulah sering digambarkan situasinya sesederhana melihat hitam-putih dan benar-salah. Orang dewasa berdebat tentang kebenaran dan memaksakan satu kebenaran absolut. Anak-anak bisa bicara apa tentang benar-salah itu?. Orang dewasa bicara tentang pengetahuan mereka tentang ajaran agama, tapi mereka tidak berani berdampingan dan menerima bahwa ada enam agama di Indonesia. Anak-anak harus seperti apa berlaku dan bersikap terhadap kawan-kawan mereka yang berbeda hanya kebetulan ikut orang dewasa yang adalah orang tua mereka karena toh mereka masih belum bisa memilih. Ini juga berlaku untuk suku atau etnis, Indonesiaku masih berkutat pada membeda-bedakan yang sudah berbeda dari cara berpakaian, bentuk mata, warna rambut, bahasa, warna kulit bahkan nama. Bagaimana anak-anak bisa memahami ini. Sekali lagi mereka tidak punya pilihan dan tidak akan pernah bisa memilih, sama halnya yang orang dewasa alami ketika mereka masih menjadi anak-anak.Itu saja. Aku terlalu lelah dengan cerita memfollow kemudian unfollow, cerita bagi-bagi informasi dari menjamurnya sumber informasi dalam bentuk situs-situs yang isinya bermuatan SARA, cerita perang komentar di media sosial dan cerita tentang "orang kita".

Menunggu arah ini kemana?. Ya tidak perlu dipikirkan. Aku tidak sedang membahas status terperiksa Ahok yang naik menjadi tersangka setelah melalui proses gelar perkara dalam kasus dugaan penistaan itu. Ada hubungannya?. Ya iyalah ada hubungan, karena memang seluruh mata tertuju kepadanya saat ini. Tapi, aku  tidak akan beropini atau menganalisa ini. Sudah cukup banyak ahli ketimbang aku yang memang bukan ahli ini. Biarlah aku menjadi warga negara yang baik, turut serta menghormati proses hukum yang sedang berlangsung sampai nanti digelarnya proses persidangan yang transparan dan rencananya akan digelar dan disiarkan secara live di media televisi mengikuti sidang kasus kopi bersianida yang disiarkan live di beberapa media televisi.

Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)

Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...