Minggu pagi, pukul 07.00, kompleks pertokoan di jalan Diponegoro sudah perlahan disesaki oleh manusia dan tentu saja jejeran kendaraan yang diparkir. Masyarakat tumpah ruah dari berbagai latar belakang antusias mengikuti ritual Naga Buka Mata di Klenteng Kwan Tio Bio (17/2/2019).
Satu per satu replika naga denga beraneka corak maupun warna serta ukurannya berarak dan secara bergiliran mengikuti ritual buka mata di Klenteng. Setelah itu, replika naga ini melakuan kunjungan "mencari angpao" ke para donatur. Puncak arak-arakan replika naga ini adalah pada hari ke-15 di tahun baru imlek yang dikenal dengan Cap Go Meh. Dalam keluarga Tionghoa, ini merupakan momen "Makan Besar" besama keluarga. "Naga-naga" inipun siang-malam mencari dan memikat donatur dengan liukan tarian serta atraksi lainnya dengan disokong para penari yang saya lihat semuanya laki-laki diiringi tabuhan gong dan gendang. Memeang sempat tertangkap oleh mata saya ada satu perempuan yang masuk dalam tim arakan naga bukan sebagai penari tetapi menjadi pembawa tongkat bola (pemandu naga).
Selama dua hari penuh, siang-malam para penari naga ini terus beraksi dan beratraksi, unjuk kebolehan dan menjadi sasaran lensa kamera mulai dari kamera HP, DSLR bahkan sasaran selfie dan live broadcast oleh para pegunjung. Kali ini, arakan dan atraksi berpusat di jalan Gajah Mada dimana naga-naga lebih fokus mencari angpao di hotel-hotel yang ada di jalan ini. Keesokan harinya setelah Cap Go Meh, naga-naga ini harus dibakar sebagai bentuk "pemurnian bumi" dengan mengirim roh-roh naga ke kahyangan. Tidak boleh ada yang tersisi, karena dikhawatirkan akan meninggalkan juga hal-hal yang tidak baik.
Tahun ini, hanya ada 26 replika naga yang beraksi di Kota Pontianak. Namun, acara serupa ini juga berlangsung di daerah lain seperti Kubu Raya, Bengkayang, dan Singkawang. Selain atraksi naga, yang paling ditunggu-tunggu pada momen ini adalah atraksi tatung. Namun, dalam tiga tahun terakhir, di kota Pontianak, pertunjukan tatung tidak diperkenankan di ruang publik karena dianggap mengandung unsur kekerasan yang sangat rentan ditiru oleh anak-anak. Aksi tatung hanya diperkenankan di tempat tertutup, seperti klenteng. Tahun ini, seperti para tatung dipusatkan di SIngkawang dimana media melansir ada 1.026 tatung turut serta memeriahkan Cap Go Meh.
Apa lagi yang ingin kita ingkari dari indahnya keberagaman?. Rupa wajah, cara berpakaian, suku, agama dan bahkan kasta bisa bersama-sama menikmati momen "tarian naga" ini tanpa harus khawatir. Filosofi membuat replika naga, membuka mata, serta atraksinya bersama dengan barongsai dan berbagai replika hewan yang dianggap pembawa hoki ata keberuntunga seperti ikan Lou Han dan Koi sesungguhnya penuh muatan kebaikan yang hendak diingatkan pentingnya bagi kita manusia untuk menjaga kemurnian bumi dengan menjaga relasi antar makhluk yang aku percaya terkoneksi satu sama lain.
Hanya saja, manusia begitu senang meng-kotak-kotakan diri. Kita terima saja ini realitas yang tidak bisa dihindari karena banyak yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, disitulah pentingnya memelihara dan merawat tradisi yang memungkin kan kita yang berbeda-beda ini seakan tak bersekat, hanya dalam waktu dua hari saja. Setelahnya, tentu akan kembali ke kotak masing-masing, kemudian akan sibuk memamerkan ke-sok akraban di sosial media.
Bagi saya, satu hal yang selalu ter-replay dan ter-rewind oleh saya setiap saat melihat perayaan Cap Go Meh ataupun keleluasan saudara-saudara Tionghoa merayakan Imlek adalah jasa besar seroang Gus Dur. Tidak perlu saya jelaskan di sini apa, intinya, beliaulah yang telah mewariskan ruang yang luas dan tidak kaku berbungkus aturan yang memberikan hak kepada masyarakat tionghoa merayakan imlek.
Semoga Engkau Tersenyum disana ya Pak. Senyum aja kog repot!.
Biar saja tumpah ruah, bertaburan bahkan pun kalau berserakan, biar kan saja. Lihat saja indahnya serakan itu dengan berbagai bentuk, warna dan pola. Ia menantangmu seperti merangkai mozaik, menyusun puzzles, dan mengumpulkan potongan kertas yang hanya dengan ketekunan akan membawamu pada hasil yang indah dan memuaskan.
Jumat, 22 Februari 2019
Rabu, 20 Februari 2019
Sang Bunga Eksotik, Forest Ghost Flower (Aeginetia Indica L)
![]() |
| Aeginetia Indica L (Forest Ghost Flower), Lili D |
Selain begitu unik, tanaman ini ternyata merupakan tanaman herbal yang berkhasiat untuk mengobati diabetes, tumor, kanker, liver, batuk dan artritis dengan adanya kandungan diantaranya Asam Aeginetic dan Polyene. Orang di kampungku dan komunitas Ibanik percaya bunga ini bisa untuk membantu "mengobati" anak yang mengalami keterlambatan berjalan dengan cara disabet / dipukulkan di lutut yang istilah lokalnya di-pangkong, sehingga sebutannya pun "Bunga Pangkong Palak Lutut" yang artinnya Bunga (yang dipukulkan) di Dengkul. Sayangnya, bunga ini hanya mekar sekali sepanjang tahun pada musim angin muson, artinya sulit untuk bisa terus menjumpainya. Jadi, tidak heran, begitu kakaku posting foto di group tidak ada yang tahu, dan akupun begitu sibuk mencari literatur dan referensi sampai menemukannya di beberapa sumber yang bisa dilihat di bawah tulisan ini.
Tahun Banjir Buah Hutan
![]() |
| Langsat |
![]() |
| Langir (isi dalam) |
![]() |
| Langir |
![]() |
| Pakawai (Bukan Durian ya) |
![]() |
| Pekawai (isi dalam) |
![]() |
| Mentawak |
Buah-buahan yang melilmpah ini tentu tidak terlepas dari fenomena iklim. Di akhir pertengahan 2018 hingga awal 2019, kita menghadapi musim kemarau yang tidak terlalu kering dimana masih ada curah hujan yang signifikan. Ini mempengaruhi kondusifitas tanaman buah di hutan dalam menghasilkan atau berproduksi. Alhasil, tahun ini banjir buah hutan di Pontianak. Mesti dicoba satu-satu. Dan, yang menarik adalah jika kita sadar keberadaan buah-buah ini mengindikasikan masih terjaganya lingkungan hutan. Namun, realitas bahwa ketersediaan buah-buahan ini, jauh sebelum ini mungkin melampui yang terlihat saat ini seiring dengan realitas eksploitasi terhadap hutan dalam bentuk apapun. Ini menghantarkan kita kepada keriskanan dan kerentanan keberlangsungan buah-buahan ini. Coba saja inventarisasi dan catat yang kita temukan saat ini. Sepuluh sampai dua puluh tahun yang akan datang, kita coba cari dan apakah akan ditemukan lagi?.
Jumat, 18 Januari 2019
Dunia "Seakan-akan":Jargon Politik dan Hoax
Dua tahun lalu saya
pernah menulis status di salah satu sosmed yang saya ikuti dengan cukup
panjang. Isinya tentang bagaimana saya sudah jengah dengan kegaduhan politik
yang cenderung gaduh negatif, black propaganda sampai kemudian yang sekarang
ini mem-viralkan kata hoax dan membangunkan gerakan anti hoax dengan tebaran
tagar berisi kata ini salah satunya #turnbackhoax. Tidak terasa juga sudah dua
tahun ini saya tidak membuat status serupa itu.
Tahun ini sudah
(2019) disebut sebagai tahun politik karena akan berlangsung Pemilu Legislatif
dan Presiden. Narasi dan diksi yang dibangun tidak jauh berbeda dengan empat
tahun lebih yang lalu. Wajah politik praktis Indonesia masih menyeramkan karena
bumbu pedas dari setiap orang yang secara notabene merupakan pendukung dari
masing-maing kubu masih sama saja, bertaburan hujat (bukannya kritik
membangun), nyinyir dan hoax yan bahkan hasil produksi empat atau lilma tahun
lalu dan seharusnya makanan sudah expired masih saja dikonsumsi bahkan
disebarluaskan kembali, Angin media digital begitu mumpuni saat ini memberi
ruang 'viralkan" informasi serupa itu, dan orang cukup bermodalkan
jaringan, satu akun sosmed, tombol like dan share. Seburuk-buruknya punya HP murah
dan bisa terima SMS pun bisa menjadi target. Menyberlah semua itu tidak pilih
kalangan. Bahkan kalangan yang danggap terdidik sekalipun terseret menelan
mentah-metah berita hoax hanya karena ingin membenarkan dukungannya terehadap
pihak tertentu.
Bagaimana penerimaan
terhadap informasi seputar perpolitikan itu?. Tentu beragam, ada yang merespon
dengan argumentasi analitik, ada yang bergaya nyinyir (karena tujuannya memang
membuat sensi atau baperan kelompok yang dianggap berseberangan, harapnya dapat
balesan sampai adu statement pedas, adu meme, adu kutipan). Di sosial media
seperti Facebook misalnya, banyak yang (seakan-akan) melek politik tapi omongan
masih seputar jargon. Apa yang disampaikan (seakan-akan) hasil pengamatan
bahkan opini pribadi tetapi tak lebih dari mengulang saja pendapat orang lain
sebelumnya. Lebih seperti pesan berantai. Ini biasanya terjadi pada beberapa
orang yang berdiskusi dengan banyak orang, sedikit membaca. Kalaupun membanca,
mungkin sumbernya "hoax" atau mungkin saja hanya membaca judul atau
bagian kesimpulan.
Bentuk lainnya,
terjadi pada orang yang banyak membaca buku tetapi tidak didiskusikan sehingga
sangat text-book cara berpikirnya atau tidak kontekstual cenderung berkutat
pada pemahamannya sendiri alias tidak open-minded. Konsep kebenaran mutlakpun
terjadi pada apa yang ia pikir benar. Sesat pikir jadinya. Masih untung kalo
yang dibaca adalah buku tentang teori, bisalah disebut sebagai orang yg
teoritikal. Kalo yang dibaca media "hoax", gimana?.
Ini bukan ajakan untuk jangan lagi membaca dan berdiskusi lho ya. Intinya, kembali ke soal politik (terserah, mau politik apapun itu), analisa sederhana dinamika politik lokalnya dulu donk keluarin. Ini khususnya untuk orang yang notabene terididik dengan baik, para kaum cerdidk pandai itu. Jadi, orang seperti saya bisa belajar lebih banyak, bacaannyapun bukan hoax, bertindaknyapun gak ikut2an trend, berucappun tidak asal "nge-beo", tetapi lebih kritis dan cerdas.
Kamis, 29 November 2018
ANAK SUNGAI: Main Umpet Ranting
![]() |
| Perahu, Transportasi berbagai aktifitas warga Kucai di Sungai |
One precious memory of mine is when I was a child who closed to/with
the river or the so-called "Anak Sungai". Mengapa ilustrasi di sini sungai dan perahu, tapi tidak ada anak sungainya, karena anak sungainya udah gede dan memang dalam keseharian di kampung, perahu salah satu obyek paling penting di sungai.
Ya, anak sungai yang segera terjun dari lanting mengejar buah
"daun" (membacanya, ada
penekanan pada huruf “d”) dan buah "ntangis" untuk
dimakan, mengejar ikan buntal atau puffer fish (jadi
ingat Nyonya Puff, si guru mengemudin di film Sponge Bob khan??) yang menggelembung dan mengapung (setelah didapati, dagingnya untuk
konsumsi dan kulitnya yang bulat berduri seperti bola atau balon berduri ini diisi dengan sekam kasar,
dijahit dan jadilah bola berukuran kecil untuk bermain bola kaki). *bagian ini kusesali saat ini karena agak terdengar sadis). Hal
lain adalah bermain umpet ranting kayu di dalam sungai atau dalam bahasa lokal "Main Lamun Kayu".
Berburu buah "daun" dan "ntangis" biasanya dilakukan dengan menggunakan perahu menyusuri pinggir sungai atau bahkan langsung berkayuh ke pohonnya. Sedangkan untuk menjumpai ikan buntal menggelembung, ini menjadi momen special karena ada musimnya. Dalam keadaan tidak menggelembung, ikan ini sangat agresif tidak hanya dikenal dengan durinya, tetapi gigitannya yang sangat tajam. Ini yang membuat ia sering dimusuhi oleh warga yang sering memasang pukat/jaring dan jeremal karena sering digigit oleh ikan jenis ini.
Berburu buah "daun" dan "ntangis" biasanya dilakukan dengan menggunakan perahu menyusuri pinggir sungai atau bahkan langsung berkayuh ke pohonnya. Sedangkan untuk menjumpai ikan buntal menggelembung, ini menjadi momen special karena ada musimnya. Dalam keadaan tidak menggelembung, ikan ini sangat agresif tidak hanya dikenal dengan durinya, tetapi gigitannya yang sangat tajam. Ini yang membuat ia sering dimusuhi oleh warga yang sering memasang pukat/jaring dan jeremal karena sering digigit oleh ikan jenis ini.
![]() |
| Perahu Lain di Sudut berbeda Dusun Kucai |
Oke, let me tell you bit more about playing “umpet
ranting kayu”. Ini adalah permainan kelompok tiga sampai lima orang. Alatnya
hanya satu batang ranting kayu sebesar dan sepanjang pensil baru
(kebayang khan?). Jenis ranting kayu ini haruslah yang bisa mengapung. Skill
yang diperlukan adalah berenang dan menyelam di kedalaman 5-10 meter di bawah
air sungai. Biasanya ini dilakukan dari lanting atau rumah terapung ataupun
jembatan ketika permukaan air agak naik (iya donk, kalau permukaan airnya jauh dari jembatan, saat lompat akan terasa sakit).
Caranya: anggota kelompok akan menentukan giliran bermain pertama dengan "hom-pim-pah". Yang menang akan bermain pertama untuk menjepit ranting kayu di antara jempol dan telunjuk kaki (baik kiri ataupun kanan). Kemudian ia akan terjun atau melompat sedalam yang ia mampu. Di kedalaman itulah ranting kayu dilepaskan dari jepitan kaki. Pemain harus segera naik ke permukaan dan kembali ke kelompok yang sedang menunggu ranting kayu timbul/mengapung dan nanti juga bisa turut serta berlomba untuk mengejar dan mengambil ranting kayu agar mendapatkan giliran berikut untuk bermain. Fokus, kejelian dan kesabaran menjadi poin penting dari permainan ini.
Permainan yang hampir serupa ini juga sangat akrab bagi anak-anak di Ambon. Bedanya, mereka menggunakan batu. Namanya main Umpet Batu.
" jadi batu yg dipilih dgn segala kriteria baik bentuk, warna atupun ukurannya di buang ke dalam sungai lalu kita rame2 nyelam buat cari batu dimaksud. Kalau sudah begini..... nda selesai mandinya samoe di susul pake cambuk sama orang rumah baru keluar dari sungai😁😁😁
Kalau mata merah.... nda "usah di tanya"
Demikian disampaikan oleh teman saya, Martje, Si Ambon Manise yang sekarang sudah menetap di Palu.
Credit Photo: Iwi S
Caranya: anggota kelompok akan menentukan giliran bermain pertama dengan "hom-pim-pah". Yang menang akan bermain pertama untuk menjepit ranting kayu di antara jempol dan telunjuk kaki (baik kiri ataupun kanan). Kemudian ia akan terjun atau melompat sedalam yang ia mampu. Di kedalaman itulah ranting kayu dilepaskan dari jepitan kaki. Pemain harus segera naik ke permukaan dan kembali ke kelompok yang sedang menunggu ranting kayu timbul/mengapung dan nanti juga bisa turut serta berlomba untuk mengejar dan mengambil ranting kayu agar mendapatkan giliran berikut untuk bermain. Fokus, kejelian dan kesabaran menjadi poin penting dari permainan ini.
Permainan yang hampir serupa ini juga sangat akrab bagi anak-anak di Ambon. Bedanya, mereka menggunakan batu. Namanya main Umpet Batu.
" jadi batu yg dipilih dgn segala kriteria baik bentuk, warna atupun ukurannya di buang ke dalam sungai lalu kita rame2 nyelam buat cari batu dimaksud. Kalau sudah begini..... nda selesai mandinya samoe di susul pake cambuk sama orang rumah baru keluar dari sungai😁😁😁
Kalau mata merah.... nda "usah di tanya"
Demikian disampaikan oleh teman saya, Martje, Si Ambon Manise yang sekarang sudah menetap di Palu.
Credit Photo: Iwi S
Langganan:
Postingan (Atom)
Konsep Makan (Kebiasaan) dan Konsep Diri (Kperibadian)
Suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman, "Mengapa kamu lebih sering 'skip' makan siang?. Kenapa tidak skip makan pag...
-
Sumber: gpswisataindonesia.blogspot.com Putat adalah sebutan lokal di Kampungku (Desa Air Nyuruk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat...
-
Kembang Kopi Halaman Rumah Ibuku Ini adalah tulisan pertamaku di tahun 2015. Ini sudah seperti mengumpulkan PR di tahun lalu, dimana...
-
Pohon Sirsak “Survivor Suatu hari, di tahun 2008, aku harus mengambil keputusan yang sulit yakni untuk mengakhiri saja kehidupan s...













